Sekilas Tentang Disertasi

Tabe Ase Ka’en!

Selamat bersua lagi. Tanggal 06 Juli kemarin disertasi lengkap dimasukkan ke staf penerima universitas. Seluruhnya berisi 510 halaman, 250 halamannya merupakan bagian teoretis, sedangkan selebihnya berisi index musik, lagu-lagu dan gambar. Di sini saya coba gariskan secara singkat isi dari disertasi tersebut.

BUDAYA MUSIK LITURGI KATOLIK DAERAH MANGGARAI. ANTARA TRADISI LOKAL, PENGARUH BARAT DAN GERAKAN INKULTURASI

PENDAHULUAN – berisikan pembahasan umum tentang napak tilas etnomusikologi dalam menganalisa budaya musik daerah pada umumnya. Perlu ditangani bukan saja esensi musikal, tetapi juga aspek-aspek ekstramusikal, seperti manfaat musik dalam sacrum setiap grup etnik.

BAB I – LATAR BELAKANG BUDAYA DAN HISTORIS MANGGARAI; Di dalam bab ini saya membeberkan sejarah Manggarai, pembentukan dan perkembangan budaya (material maupun spiritual), sentilan tentang pembentukan Gereja Manggarai dll.

BAB II – MUSIK MANGGARAI: SEJARAH DAN PERKEMBANGAN SEKARANG; Di dalam bab ini saya mengulas sejarah musik lokal dan kontemporer di Manggarai serta fungsinya dalam kehidupan sehari-hari. Saya juga selipkan uraian tentang solmisasi.

BAB III – MUSIK LITURGI MANGGARAI: ANALISA GENETIK DAN MERITORIS; Bab ini adalah yang paling komplet. Saya memulai dengan ulasan tentang sumber tertulis (buku-buku lagu liturgis utama: Dere Serani, Madah Bakti, SKB, Yubilate dan Exultate)  dan sumber tidak tertulis (Misa-misa Adat, teks-teks lepas dan interview). Kemudian saya memilih 300 lagu sebagai contoh untuk ditranskripsikan ke not balok. Setelahnya saya membuat analista meritorik berdasarkan elemen utama musik: melodika, intervalika, ambitus, arah/gravitasi melodik, metrotimika, style/gaya dan form/bentuk. Bab ini saya lengkapi dengan mengulas motif improvisasi dan model pembawaan (performance) musik di Manggarai.

BAB IV – MUSIK LITURGI MANGGARAI DALAM KERANGKA INKULTURASI; Bab ini bertujuan membandingkan proses inkulturasi umum Indonesia dengan contoh Manggarai. Proses inkulturasi umumnya masih terhenti pada proses „adaptatio”, elemen-elemen budaya ditempelkan ke pohon utama yaitu liturgi dan teologi latin. Inkulturasi seharusnya juga mencakupi faktor yang lain, seperti teologi, busana, model gereja, gaya berpikir/falsafah masyarakat.

PENUTUP – berisikan rangkuman dan harapan penulis untuk riset-riset di masa mendatang bagi yang berminat. Banyak tema yang perlu ditelaah, misalnya pengaruh musik gregorian di gereja-gereja lokal Indonesia, asal mula scale/motif  „pelog selisir” (1 3 4 5 7) di Manggarai Timur, musik subbudaya Manggarai (Rongga, Rembong, Rajong, Bajo dll) dan inkulturasi itu sendiri.

Ujian tertutup disertasi saya akan diadakan besok (18.09.2012), sedangkan ujian terbuka (public defence) nanti tanggal 28 September 2012.

Tegi ngaji agu nuk.

Lublin, 17.09.2012

———————————-

Tabe, ase ka’en!

Tidak terasa sudah dua setengah tahun berlalu. Kuliah S3 saya sudah di tahun ke tiga. Tema disertasi sudah disetujui (aprobasi) oleh dewan universitas. Berarti jam berdetak tanpa ampun. Saya pun menekuni bab-bab teretis, tentang sejarah Manggarai, struktur sosial lokal, adat, sejarah Gereja lokal Manggarai dan hikayat inkulturasi di kehidupan menggereja Manggarai. Buku yang sangat penting: MUSIC IN FLORES, karya Jaap Kunst saya dapat dari prof. Karel Stennberg di Belanda. Ulasan dan laporan beliau cukup lengkap, walaupun sudah agak tidak konsisten (riset beliau tahun 1932) dan sedikitnya agak menggeneralisir. Saya sempat juga dua kali mewawancarai dua tokoh adat Manggarai Timur: nenek Ande Alang dan nenek Ramundus Mudjur. Penjelasan dari mereka sangat menolong saya dalam membuat kategorisasi struktur adat dan upacara adat Manggarai.

Dua artikel saya selesaikan: DWIFUNGSI GENDANG DALAM KEHIDUPAN ORANG MANGGARAI – „THE GUARD OF ADAT” DAN ALAT MUSIK RITUAL. Satunya lagi: MISA ADAT – MISA INKULTURATIF DI MANGGARAI – genesa dan analisa dari fenomen Misa tersebut. Kata promotor saya, kedua artikel tersebut akan dimuat di seri buku musikologi ADDITAMENTA. Mudah-mudahan.

Mulai 15 Maret saya liburan ke Indonesia. Rencananya beberapa hari dahulu di Jakarta untuk mencari sumber dan mewawancara beberapa narasumber, lalu ke Jogja untuk wawancara juga dengan pihak PML, lalu ke kampung untuk bisa merayakan Paskah di sana.

Tabe, tegi ngaji agu campe.

****************

Tabe, Ase ka’en!  Di tahun kedua kuliah dalam mengejar S3 saya, kini tibalah saatnya untuk memastikan tema disertasi. Saya pilih tema: BUDAYA MUSIK LITURGI KATOLIK DI MANGGARAI (FLORES-INDONESIA). Tentunya saya harus mulai dengan latar belakang sejarah Manggarai, mulai dari kedatangan Mashur cs dari Minangkabau sampai dengan sekarang. Kemudian saya ulas tentang fenomen budaya di Manggarai, mulai dari upacara-upacara adat  penting (Penti, kelas dll) hingga tentang musik dan lagu adat, tidak lupa tentang busana dan arsitektur adat Manggarai. Dari situ saya beralih ke kehidupan Gereja Katolik Manggarai, sejarahnya, situasi aktualnya dll. Di sini saya mulai dengan ulasan teologis tentang „inkulturasi”. Bagian utama disertasi nanti akan mengulas merituum musikal dari seluruh lagu musik dan irama dalam liturgi Katolik di Manggarai. Saya akan mengupas dan menganalisa seluruh isi DERE SERANI dari segi musik, mendeskripsikannya ke not balok dan menampilkan gejala musik apa yang berperan di sana. Dalam rencana saya, saya akan memilih tiga event „Misa Adat” di ketiga kabupaten di Manggarai. Maksud saya adalah Misa Adat yang betul asli adat, tanpa intervensi alat-alat musik modern ataupun paduan suara modern. Seluruh disertasi saya akan saya tutup dengan penilaian kritis saya dan sekedar saran dan harapan. Bantuan yang sangat besar bagi kelancaran penulisan disertasi ini adalah riset-riset ilmiah dua profesor: Ibu Margareth Kartomi dari Australia dan Ibu Maribeth Erb-Mucek dari Singapura. Tentu saja karya-karya antropolog SVD seperti P. Jilis Verheijen menjadi dasar referensi utama. Tegi ngaji agu campe.

****************

Ase ka’en! Tema disertasi saya sudah disahkan oleh dewan universitas, berarti sudah tidak ada ampun lagi. Sumber-sumber bertambah. Beberapa saat yang lalu saya dapat buku „The Manggaraians” Mariberth Erb, dari kae Sisco Kapu SVD. Inilah yang menjadi salah satu sumber utama dalam mengulas seluk-beluk Manggarai. Uraian di sana cukup lengkap mengenai kehidupan sosiokultural dan religius orang Manggarai. Dari segi musiknya, saya sudah dapatkan dari Ibu Magareth Kartomi beberapa artikel penting beliau tentang musik rakyat Manggarai. Untuk sementara sejak jedah Natal dan Tahun Baru saya tidak pernah menjenguk ke kolom disertasi, tambahan lagi sekarang lagi ujian semester. Waktu begitu cepat mengalir.(BERSAMBUNG)

Lublin, 28.01.2009.

******************

Ase ka’en! Saya pun bergelut untuk mengakrabi segala jenis bahan yang akan ditampilkan di dalam disertasi saya. Ini adalah semester terakhir saya untuk menyelesaikan „programmic differences” (perbedaan programi), lantaran saya tidak memiliki gelar master di bidang musikologi. Cukup sulit, apalagi sekarang kami bergelut dengan analisa-analisa musik dan bentuknya, polanya, dll. Ditambah dengan KONTRAPUNKT yang betul memecahkan kepala. Eks-SVD Mr. Lambert Lako Soli meminjamkan saya buku karya alm. kritikus sastra asal Pongkor- Manggarai, Dami N. Toda „MANGGARAI – MENCARI PENCERAHAN HISTORIOGRAFI. Dan juga sebuah bulanan SAWI berisikan perkawinan adat di beberapa daerah Flores, termasuk Manggarai. Buku ini sangat membantu saya untuk betul mengerti dan memahami arti sebuah „kemanggaraian” di dalam kehidupan sosiokultural dan sosiopolitik serta sosioreligius. Dan yang penting juga adalah melalui lektur buku ini, kita dapat mengerti latar belakang historis yang logis dan mendekati kebenaran, sebagai tepisan ilmiah atas begitu banyak berita historik Manggarai yang koruptif dan terkesan legitimatif oleh banyak pihak. Isinya betul padat dan segala teori dilandasi pada sumber-sumber yang alot dan „credible”.

Lublin, 25. 03. 2009.

—————–

Belum selesai membaca bukunya bapak alm. Damian N. Toda, darah saya sudah mendidih. Begitu banyak fakta sejarah tentang Manggarai ternyata diputarbalikkan. Kita semua diajarkan bahwa Manggarai dahulu „dijajah” oleh Gowa-Tallo dan Bima, ternyata semuanya itu hanyalah isapan jempol dan klaim legitimatif belaka dari pihak Bima terutama. Kalau Gowa-Tallo menempatkan wakilnya di Reok/Pota, itu tidaklah berarti bahwa Manggarai „dijajah”!!!, sementara Bima dan Gowa-Tallo (kemudian juga Belanda pada awalnya) tidak tahu-menahu batas wilayah Manggarai. Suverinitas kerajaan-kerajaan (Adak-adak) Manggarai dahulu sangat tinggi, malahan dihormati para penipu asing tersebut di atas. Klaim legitimatif tersebut diterima dunia pada saat itu (tanpa diketahui oleh para raja / Kraeng Adak Manggarai), lantaran kesulitan atau situasi komunikatif saat itu. Kalau saja itu terjadi sekarang, pasti jutaan orang Manggarai sudah pergi „menghajar” (para pelakunya. Beberapa halaman disertasi saya pun saya rubah dalam kemarahan saya. Karena saya mengutip buku-buku dan artikel para profesor dan autor penting seperti ibu Maribeth Erb dan P. J. Verheijen SVD, yang ternyata juga mengutip dari ulasan-ulasan dan coretan-coretan tidak „credible” sebelumnya, yang sayangnya diakui/diterima dunia ilmu.

Kalau kita hendak menjadi orang Manggarai sejati buku alm. Kraeng Dami N. Toda ini harus dibaca (!!!!!!) dan dikunyah oleh pikiran dan akal sehat. Saya berharap buku-buku yang sama juga telah/akan terbit mengenai daerah-daerah lain Flores atau NTT umumnya. BERSAMBUNG.

Lublin, 20.04.2009

——————–

Tabe! Saya diminta seorang Profesor Henry Michel Kowalewicz, filsuf Sorbon, untuk menulis sebuah artikel dalam bahasa Inggris bertemakan: The limits  of thinking, thinking about limits. Maka saya pun mencoba menggoreskan satu dua hal. Saya mengemukakan tema yang nanti bisa dihitung sebagai publikasi ilmiah, karena sekarang itu yang dituntut dalam menyelesaikan S3. Saya mulai mencari-cari, dan merumuskan judul artikel saya tersebut sbb: „THE DRUM INSIDE, THE LAND OUTSIDE” PHILOSOPHY AMONG MANGGARAIANS. THE SOCIO-CULTURAL AND SACRAL MEANING OF THE DURM(TEMBONG/GENDANG). Memang seluruh struktur penataan sosiokultural dan pemikiran dalam realitas Manggarai memiliki akarnya dalam filosofi tersebut yang berbunyi: TEMBONG ONE, LINGKO PE’ANG (Gendang di dalam rumah, tanah ulayat di luar). Ini melambangkan hubungan yang amat hakiki antara sistem kekeluargaan dan kepemilikan tanah, dan juga bagaimana adat dan tanah itu adalah satu kesatuan yang tak boleh dipisahkan. Gendang (alat musik instrumental yang dikenal seluruh dunia, ternyata di sini memiliki fungsi hakiki yang berbeda) yang tersimpan di dalam rumah induk adat (Mbaru gendang) adalah simbol souverinitas dan kekuasaan adat dan para pemangkunya (dalu dan tua teno), yang berhak mengatur dan menata kepemilikan serta pemberdayaan tanah ulayat.(BERSAMBUNG)

Lublin, 29.04.2009.

——————

Tabe! Artikel saya tidak diterima (tidak diajukan) untuk diterbitkan di biuletin Wien. Memang agak kecewa, tetapi memang prosedurnya seperti itu. Mereka butuh publikasi yang sudah pernah saya terbitkan untuk dijadikan bahan rancu dalam menilai kemampuan saya. Biarlah, tentang „Gendang one, Linko pe’ang” saya simpan, mungkin akan berguna di kemudian hari. Atau saya akan coba mengirimkannya ke biuletin lain. (BERSAMBUNG)

Lublin, 23.05.2009.

18 komentarzy (+add yours?)

  1. LASARUS MBARU PA'AN
    kwi 09, 2009 @ 03:30:41

    Pater,
    Toe ngaseng wagekn disertasi dite…
    poli hga i tulisn disertasi Dite?
    manga buku d robert lawang dite?itu kole dia, teentang statifikasi sosial di cancar manggarai.paling tidak, eme pele bahas latar sosial budaya manggarai, itu dia jadikan referensi.trus, manga kole buku bahasa rongga.ata tulis lata bali ata kaeng lau australia.manga wone internet.

    Odpowiedz

    • vinadigm
      maj 08, 2009 @ 16:28:43

      Ata toe ngaseng wagek n, Ema Koe ru’, watu Nena’ eta Golo Robo’. Hahaha.

      Odpowiedz

  2. guidosebatu
    cze 27, 2009 @ 18:56:04

    Pater,eme libur one,kawe ata tua ata pecing tombo nunduk. Manga ngasang Krg.Jhon Hakim Song.Salah satu tokoh muda yang tahu dan mengerti tentang budaya Manggarai. Tabe tuang.Sampai cumang kole.

    Odpowiedz

    • vinadigm
      cze 28, 2009 @ 10:14:12

      Terima kasih e, Kraeng. Sy dengar tentang beliau. Pasti saya cari untuk jadi narasumber. Tabe

      Odpowiedz

  3. Ferdy Ngare
    cze 29, 2009 @ 18:26:46

    Malam Pater..saya kebetulan sedang susun thesis mengenai „Komunikasi Budaya Manggarai Di Dalam Gereja Katolik”..apa boleh saya nanti mohon konsultasi sekalian minta bantuan referensi buku-buku yang perlu dalam thesis saya nanti?…terima kasih Pater

    Odpowiedz

    • vinadigm
      cze 30, 2009 @ 10:53:52

      Oe Kraeng! Bisa saja konsultasi, saling berbagi maksudnya. Karena sy tidak punya banyak narasumber. Nanti tahun depan baru pulang riset dan sekalian kumpulkan sumber-sumber. Tabe.

      Odpowiedz

      • ferdirex
        lip 08, 2009 @ 07:20:59

        ok saya juga bulan oktober sudah mulai riset Om Pater..sukses selalu…God Bless

  4. Christine
    sie 28, 2011 @ 18:06:55

    Tabe Pater,

    Sungguh asyik membaca sekelumit blok tentang disertasi Pater akan budaya Manggarai..blok Pater secara tidak sengaja saya ketemukan pada saat saya ingin mengetahui tentang upacara Kelas Mese..saya tidak lahir dan tidak besar di Manggarai dan hanya memiliki 50% darah Manggarai namun kecintaaan saya akan Manggarai tak patut di ragukan..salam kenal pater dari Belanda

    Odpowiedz

    • vinadigm
      wrz 02, 2011 @ 19:24:56

      Enu, terima kasih. Selamat menikmati. GBU

      Odpowiedz

  5. stelmachowska@yahoo.com
    lut 06, 2012 @ 23:57:58

    Sangat menarik!

    Odpowiedz

  6. amir razak daeng liwang
    kwi 07, 2012 @ 04:30:30

    saya respek dengan penelitian kraeng….saya juga akan menulis tentang gendang di bekas kerajaan Gowa di Makasar untuk jenjang S3, gerndang itu digunakan untuk upacara penyucian benda pusaka kerajaan Gowa…yang disebut Gandrang Pa”balle….semoga kraeng dapat segera selesai disertasinya..selanjutnya dapat membimbing saya…amir dari ISI Jogjakarta….

    Odpowiedz

    • vinadigm
      kwi 11, 2012 @ 09:07:44

      Oe kraeng Amir, luar biasa itu e. Saya juga sangat ingin menyusuri kembali jejak para leluhur itu ke Sulawesi. Tentang gendang? Wah hebat. Sangat menarik. Slm

      Odpowiedz

  7. docia
    wrz 17, 2012 @ 09:04:50

    Luar biasa! Sukses naran

    Odpowiedz

    • vinadigm
      wrz 17, 2012 @ 10:38:27

      sama2 wetan.coba tana mekas Teija, mungkin nge ikut gia.slm ke rmh

      Odpowiedz

  8. herman
    paź 20, 2012 @ 02:36:58

    tuang selamat, n profisiat…watu golo robo gagelghaa… niang watu weri ata toenn….

    Odpowiedz

    • vinadigm
      paź 20, 2012 @ 08:59:35

      hahahaha een ko, ngalu aspal gha salan GoloRobo. sei ite e? tabe

      Odpowiedz

  9. herman
    paź 20, 2012 @ 02:44:02

    tuang salam berjumpa, saya senang menulis tentang ritong dalam budaya manus. karena sejauh saya menjajagnya rupanya kurang di kenal oleh orang muda generasi sekrang. apakah tema itu terlalu sempit untuk dikaji dalam sebuah tesiss?

    Odpowiedz

    • vinadigm
      paź 20, 2012 @ 09:00:50

      Kraeng Herman, een ko, aku kole ghoo di dengen RITONG itu. atau maksud dite RIPONG, RITON ko apa? tabe

      Odpowiedz

Dodaj komentarz

Wprowadź swoje dane lub kliknij jedną z tych ikon, aby się zalogować:

WordPress.com Logo

Komentujesz korzystając z konta WordPress.com. Log Out / Zmień )

Twitter picture

Komentujesz korzystając z konta Twitter. Log Out / Zmień )

Facebook photo

Komentujesz korzystając z konta Facebook. Log Out / Zmień )

Google+ photo

Komentujesz korzystając z konta Google+. Log Out / Zmień )

Connecting to %s

Follow

Otrzymuj każdy nowy wpis na swoją skrzynkę e-mail.

%d bloggers like this: