WP_20160505_12_17_48_Pro

Udara pagi terasa sejuk menerpa wajah. Dengan ransel di pundak, kiat bakti dan tawakal di dada, aku memohon berkah, bersama para sahabat untuk memulai sebuah ziarah. Semesta tersenyum dalam hening, mentari tak pelit bersinar. Melewati pemukiman kami hanya disapa oleh gonggongan anjing yang terganggu tidurnya. Pinggiran kali kecil Niers seakan merangkul setiap langkah dan degup jantung, yang kian berat seiring waktu kami berjalan. Di sana-sini para lelaki berpesta, merayakan Hari Ayah. Mereka menyapa ramah, seramah alam yang rimbun mengayomi jidat kami dari cahya matahari yang kian terik. Menjelang petang, setelah kilometer ke duabelas, kaki kami seakan ringan lagi, setelah menara salib gereja tujuan kami sudah tampak. Namun sesaat saja, karena ternyata menara itu masih sangat jauh. Dalam keletihan dan kekecewaan, salib itu tetap tampak, tujuan kami hingga menempuh 20 kilometer dari Goch ke Kaevelaar. Berpaku menatap salib, kami menyusuri tapak terakhir. Dia menguatkan, meneguhkan, memberikan harapan dan juga menanti. Kemenangan-Nya. Bukan kenistaan-Nya.

WP_20160505_13_41_28_Pro

Dua belas tahun silam sebuah ziarah juga aku mulai. Dalam sorakan alam yang ceria dan hangat. Hari ini, pagi ini mendung. Sisa hujan kemarin seakan disapu oleh angin kering. Kembang-kembang yang mekar mewakilkan ketiadaan sinar surya, menyemarakkan hari yang rada kelabu. Aku menatap ke belakang, setapak ziarah telah terlewati. Belumlah seberapa. Duabelas tahun dalam Kebun Anggur Sang Khalik. Duabelas tahun meretas, mencangkul, menanam, merawat, menyiangi. Di tengah cerahnya cuaca, terkadang terik, berhujan, berpetir dan bertaifun. Duabelas tahun perjumpaan dan perpisahan, mencinta dan membenci, merangkul dan mendepak, meraih dan melepaskan. Ada lagu, ada tari-tarian, ada tangis dan duka. Namun tatapan tetap ke depan, panenan ada di balik menara salib. Sambil memanjatkan syukur kepada Sang Khalik atas segala pemberian-Nya, atas mereka semua yang mendukung, mereka yang tetap dekat di nubari, atas cinta maupun cibiran, atas pujian maupun nada kritik.

IMG-20160520-WA0003

Ziarah sambil menatap salib. Di sana ada kemenangan. Ibarat tertera di sebuah tulisan di salib martir di Koloseum Roma: Salam, hai Salib, satu-satunya harapan kami….

TERIMA KASIH ATAS DOA, CINTA DAN KEBERSAMAAN BUAT SEMUA REKAN ZIARAH DAN SEMUA. SEMOGA SEMUANYA ABADI …….