KMML – bagian 34: Z I A R A H . . .

Hinterlasse einen Kommentar

WP_20160505_12_17_48_Pro

Udara pagi terasa sejuk menerpa wajah. Dengan ransel di pundak, kiat bakti dan tawakal di dada, aku memohon berkah, bersama para sahabat untuk memulai sebuah ziarah. Semesta tersenyum dalam hening, mentari tak pelit bersinar. Melewati pemukiman kami hanya disapa oleh gonggongan anjing yang terganggu tidurnya. Pinggiran kali kecil Niers seakan merangkul setiap langkah dan degup jantung, yang kian berat seiring waktu kami berjalan. Di sana-sini para lelaki berpesta, merayakan Hari Ayah. Mereka menyapa ramah, seramah alam yang rimbun mengayomi jidat kami dari cahya matahari yang kian terik. Menjelang petang, setelah kilometer ke duabelas, kaki kami seakan ringan lagi, setelah menara salib gereja tujuan kami sudah tampak. Namun sesaat saja, karena ternyata menara itu masih sangat jauh. Dalam keletihan dan kekecewaan, salib itu tetap tampak, tujuan kami hingga menempuh 20 kilometer dari Goch ke Kaevelaar. Berpaku menatap salib, kami menyusuri tapak terakhir. Dia menguatkan, meneguhkan, memberikan harapan dan juga menanti. Kemenangan-Nya. Bukan kenistaan-Nya.

WP_20160505_13_41_28_Pro

Dua belas tahun silam sebuah ziarah juga aku mulai. Dalam sorakan alam yang ceria dan hangat. Hari ini, pagi ini mendung. Sisa hujan kemarin seakan disapu oleh angin kering. Kembang-kembang yang mekar mewakilkan ketiadaan sinar surya, menyemarakkan hari yang rada kelabu. Aku menatap ke belakang, setapak ziarah telah terlewati. Belumlah seberapa. Duabelas tahun dalam Kebun Anggur Sang Khalik. Duabelas tahun meretas, mencangkul, menanam, merawat, menyiangi. Di tengah cerahnya cuaca, terkadang terik, berhujan, berpetir dan bertaifun. Duabelas tahun perjumpaan dan perpisahan, mencinta dan membenci, merangkul dan mendepak, meraih dan melepaskan. Ada lagu, ada tari-tarian, ada tangis dan duka. Namun tatapan tetap ke depan, panenan ada di balik menara salib. Sambil memanjatkan syukur kepada Sang Khalik atas segala pemberian-Nya, atas mereka semua yang mendukung, mereka yang tetap dekat di nubari, atas cinta maupun cibiran, atas pujian maupun nada kritik.

IMG-20160520-WA0003

Ziarah sambil menatap salib. Di sana ada kemenangan. Ibarat tertera di sebuah tulisan di salib martir di Koloseum Roma: Salam, hai Salib, satu-satunya harapan kami….

TERIMA KASIH ATAS DOA, CINTA DAN KEBERSAMAAN BUAT SEMUA REKAN ZIARAH DAN SEMUA. SEMOGA SEMUANYA ABADI …….

Kisah menjadi murid lagi – bag-31

Hinterlasse einen Kommentar

Kisah menjadi murid lagi – bagian 31

Hinterlasse einen Kommentar

     Teriakan anak-anak berbaur dengan gonggongan anak anjing memecah kesunyian. Jam 15.00, rombongan kedua dari anak-anak cacad untuk berjalan-jalan di taman biara. Rombongan pertama sudah datang pagi tadi, juga membawa keceriaan dan tawa cekikikan di keheningan musim gugur. Tiada lagi kicauan burung, tiada lagi kepakan sayap bangau di pinggir kolam. Pepohonan tinggi yang telanjang tak berdaun sesekali menguning ditimpa cahaya matahari, itu pun tak kerap. Sisa dedaunan yang mengering di dahan menanti hembusan angin untuk segera menuju sang bunda bumi, melembab, membusuk dan memberikan awal hidup baru.

WP_20151026_08_59_40_Pro

Taman biara di musim gugur….

        Aku memandang ke jendela, pemandangan ke taman seakan bisu, tak bersuara tak jua berwarna. Bumi tak riang lantaran menantikan sebuah awal baru, diam merancang dan menyulam dalam rahimnya, biar di musim semi esok semuanya merekah dan penuh syahwat. Tapi orang Kristen menantikan Sang Penyelamat, yang datang sebelum musim semi. Natal sebentar lagi, entah apa yang akan terlahir baru dalam kiprah manusia. Perang, pertikaian, saling membenci, keserakahan (kata orang pintar: kapitalisme) tetap saja merajalela dan harga diri manusia tidak lagi menjadi nilai acuan utama. Ujungnya terlihat di ujung taman biara kami: Lazima, Sead, Marcelo dan anak-anak kecil lainnya berdesak-desakan di sebuah rumah kecil bersama puluhan pengungsi lainnya. Aku menatap kamarku yang luas, bathin menjadi risih. Seandainya saja aku bisa…..

         Paus Fransiskus membuka Pintu Suci, atau dalam bahasa Latinnya disebut “Porta Sancta” di Vatikan. Sebagai pertanda Tahun Kerahiman dimulai. Karena Allah maha rahim (kasih sayang seperti seorang ibu terhadap anak dalam rahimnya), maka kita memperoleh rahmat. Khusus tahun mendatang, mulai 8 Desember 2015 sampai 20 November 2016 mendatang, kita akan merayakan sebuah perayaan maha agung, yakni Tahun Suci atau Tahun Yubileum. Melalui Bulla Kepausan „Misericordiae Vultus“, Paus Fransiskus mendeklarasikan Yubileum ini dalam rangka memperingati 50 tahun Penutupan Konsili Vatikan II (8 Desember 1965). Yubileum kali ini mau berpusat pada Kerahiman Allah yang Maha Besar, sehingga Yubileum ini dinamakan sebagai „YUBILEUM KERAHIMAN“ akan menjadi tahun rahmat, tahun rahmat luar biasa (selengkapnya lihat https://www.facebook.com/notes/fans-of-iman-katolik/yubileum-dan-pintu-suci-apa-maknanya/1017859164904229). Berarti Tuhan akan menjadi lebih rahim dari masa-masa lalu? Bukan dong, Tahun Kerahiman Luar Biasa mengandaikan kita lebih berpaling lagi dan mengkontemplasikan secara khusus sifat „kerahiman“ dari Allah tersebut dan dengan demikian kita juga mampu dan berani memohon pengampunan atas dosa dan kelemahan. Lebih jauh lagi, kita juga menjadi „rahim“ bagi orang lain.

     Menjelang Natal rasa rindu akan kampung halaman semakin kuat. Meskipun tidak ada tradisi Advent atau pun Vigilia Natal di kampung, namun suasana hangat bersama orang tua dan saudara-saudara tetaplah terkenang. Sudah puluhan tahun tak pernah Natal bersama keluarga, meskipun keluarga Polandia dan Jerman selalu menganggap kita sebagai anak mereka, namun wajah ayah dan ibu yang semakin keriput dan lelah seakan menjadi pemupuk rasa rindu kian mendalam. Terbayang derita ibu 39 tahun silam. Terima kasih, Mama. Doakan anakmu, Mama dan Ayah. Doaku bersama kalian…..

IMG-20151108-WA0006

Terima kasih Mama dan Ayah, aku sudah besar;-))

       Sekuntum mawar tegar dan mekar di taman, meski musim gugur sebentar lagi beranjak diganti oleh gaun putih musih salju. Kelopak segar mengundangku untuk menciumnya. Wangi. Keharuman seakan tak sepadan dengan buramnya musim ini. Desis tupai membuatku terkejut. Dia melompat-lompat, seakan mengusirku pergi. Aku menjauh, di bawah mawar dia menyembunyikan biji-biji kacang Italia. Untuk bekal di musim dingin. Atau bakal pohon kacang baru di musim semi kelak. Lonceng berdentang, mengingatkan akan jam rahmat.

WP_20151116_12_08_41_Pro

Mawar segar di musim gugur. Love you…