Duta Tanpa Besluit

Jumat, 2 Oktober 2009 13:49 WIB | Artikel |

Hazairin Pohan, Dubes RI Warsawa

Pada era globalisasi dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, diplomasi tidak hanya menjadi domain para diplomat. Karena itu siapa saja yang turut menyelenggarakan diplomasi juga disebut ‘duta bangsa’, dan layak mendapat apresiasi. Berbeda dengan diplomat wakil resmi kita, mereka tidak memerlukan surat keputusan, SK atau besluit. Maka, semua unsur bangsa: anggota parlemen, politisi, pengusaha, budayawan, rohaniwan, TKI, masyarakat Indonesia yang bermukim di suatu negara atau bahkan wisatawan kita yang sedang berkunjung ke luar negeri adalah ‘diplomat’, termasuk masyarakat setempat pencinta budaya Indonesia. Bersama para diplomat mereka memainkan peranan tidak kalah penting dalam mempromosikan Indonesia di luar negeri.

Diplomasi dalam konteks artikel ini adalah upaya bagaimana membuat negeri kita dikenal di dunia internasional dengan citra positif. Tidak jarang, kegiatan dan aktifitas ‘para duta’ ini di tataran internasional dapat berujung pada kepentingan ekonomi: wisata, perdagangan dan investasi. Pada malam itu, 14 September 2009 yang lalu, 2 juru-masak Indonesia, Azis Wahyudin dan Muhammad Sidik, keduanya berasal dari hotel Hyatt Regency Bandung, 3 rohaniawan Katolik yang berasal dari Indonesia Timur yakni Vinsensius Adi Gunawan, Vinsensius Taji dan Alfred Adipati Manek, Ketua Dewan Kurator Museum Asia dan Pasifik Andrzej ‘Nusantara’ Wawryzniak yang pernah bermukim cukup lama di Jakarta, serta para pemain gamelan mantan penerima Dharmasiswa dari Warsaw Gamelan Group bersama pelatihnya, Sugijanto, menjadi pelaku diplomasi budaya.

‘Para duta’ itu menjadi aktor penting dalam acara pembukaan Indonesian Food Festival bertajuk “Taste Indonesia” di Hotel Hyatt Regency Warsawa yang berlangsung 2 pekan. Kita masih perlu mengukuhkan keberadaan makanan Indonesia di antara beragam makanan Asia lainnya seperti Jepang, China, Korea, India, Vietnam dan Thailand yang sudah lebih dahulu dikenal. Maklum, di seluruh Polandia memang baru terdapat 2 restoran Indonesia dengan cook Indonesia, yaitu “Galeria Bali” di Warsawa, dan “Warung Bali” di Poznan. Maka, harapan saya melalui promosi boga akan terbuka kesempatan untuk hadirnya restoran-restoran baru makanan Indonesia di Polandia. Diplomasi Total Indonesia dikenal di Polandia sebagai negeri dengan keberagaman budaya: musik, tarian, ukiran, lukisan dari berbagai daerah. Dalam 2 bulan terakhir saja, 6 kelompok seni dari Indonesia hadir dalam berbagai festival dan pertunjukan di puluhan kota di Polandia.

Saat ini, sedang berlangsung festival film Indonesia di 10 kota-kota besar di Polandia. Maka, malam itu menjadi istimewa. Untuk pertama kalinya kami merepresentasikan keunikan dan keberagaman Indonesia melalui boga. Tentu, karena kehadiran Azis dan Sidik, sang duta bangsa. Untuk menciptakan nuansa Indonesia, maka restoran di lantai dasar Hyatt itu dihias dengan dekorasi pernak-pernik etnis yang kental, termasuk becak Yogya. Pada malam pembukaan yang dihadiri sejumlah tamu penting, seperti Kepala Kantor Kepresidenan/Mensesneg Mariusz Handzlik, Kepala Badan Promosi Investasi (PAIiIz) Sławomir Majman, Direktur Asia dan Pasifik Kemlu Dubes Krzysztof Szumski dan sejumlah duta besar dari negara sahabat. Setelah berpidato, saya tampil bersama vocal group. Kami menampilkan lagu-lagu tradisional seperti Lisoi, Ayo Mama, Saputangan Bapucuk Ampat, dan lagu-lagu tradisional dari Sumatra Utara, Flores dan Papua, dengan diiringi gitar, organ dan alat-alat gamelan dan perkusi yang dimainkan oleh para mahasiswa Polandia, personil Warsaw Gamelan Group. Kami juga menampilkan tari-tarian tradisional dari Bali dan Betawi yang dibawakan dengan baik oleh Maria Szymanska, Iwona Czapla dan Roza Puzynowska. Lengkap sudah suasana Indonesia mendukung makanan lezat Indonesia yang disajikan oleh Azis dan Sidik pada malam itu.

“Terima kasih Bapak Pohan, lagu-lagu rakyat yang dibawakan tadi telah menggugah ingatan saya kepada teman baik Alm. Gordon Tobing dengan Impola Group-nya”, ujar Andrzej Wawryzniak, Ketua Dewan Kurator Museum Asia dan Pasifik yang pernah bermukim cukup lama di Jakarta. Saya selalu bercanda bila bertemu Bapak Andrzej di berbagai acara bahwa duta besar Indonesia yang permanen di Polandia adalah beliau, sedangkan saya dan dubes-dubes sebelumnya hanya temporer. Mengapa? Karena tokoh yang mengenal baik pemimpin-pemimpin Indonesia sejak zaman Bung Karno itu setiap tahunnya menyelenggarakan lusinan pameran etnografi, lukisan dan benda-benda budaya etnis di penjuru kota Polandia. Sebagai aktor budaya Indonesia, beliau menjadi aset penting dan layak disebut sebagai duta.

Tidak hanya Bapak Andrzej. Para undangan seperti Mensesneg Handzlik, Kepala Badan Promosi Investasi Majman, Dubes Szumski yang pernah bertugas di Indonesia, dan para duta besar lainnya berdiplomasi memuji permainan gitar saya. Tetapi mereka lebih kagum kepada tiga pria dan seorang penyanyi wanitanya dan bertanya apakah mereka profesional yang didatangkan dari Indonesia. Saya membuka rahasia, dan mengatakan bahwa tiga pria itu, Vinsensius Adi Gunawan, Vinsensius Taji dan Alfred Adipati Manek, sehari-hariannya adalah rohaniwan Katolik. Di Polandia terdapat tujuh rohaniwan Katolik yang bertugas untuk pelayanan umat. Sedangkan penyanyi wanita, Ny. Dyah Poerwonggo, adalah seorang isteri diplomat. Vinsensius Adi Gunawan dan teman-temannya memang sering diminta tampil membawakan lagu-lagu Indonesia di gereja, di samping menjadi duta rohani, kata saya. “Unik sekali, Indonesia negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ‘mengekspor’ rohaniwan Katoliknya ke Polandia yang notabene adalah Negara Katolik”!, kata Mensesneg Handzlik sambil berdecak kagum. Kekagumannya bertambah ketika saya selanjutnya menjelaskan bahwa para penari ayu itu adalah warganegara Polandia yang pernah belajar seni-budaya di Indonesia. Maria Szymanska, Iwona Czapla dan Roza Puzynowska dengan dandanan kostum tradisional malam itu lebih menjadi orang Indonesia daripada Eropa. (…….)

(Selengkapnya baca di: http://www.antara.co.id/berita/1254466168/duta-tanpa-besluit)

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: