MISSA FLORES 2009 – GDANSK (POLAND)

/ Home / POS KUPANG MINGGU / Bianglala
Bianglala
Gema Kolintang di Pinggir Laut Baltik
Oleh P.Vincent AG Meka, SVD

Dokumen P Vincent AG Meka, SVD

Salah satu tarian dari Flores mewarnai Misa Flores di Kota Gdansk- Polandia. Tarian diperankan anak-anak Polandia anggota Sendratari Damai, Minggu (25/10/2009)

Minggu, 8 November 2009 | 18:44 WITA

HUJAN rintik-rintik turun sejak pagi, menimbulkan gelombang-gelombang kecil di genangan air di jalanan kota tua Gdansk. Di sana-sini trotoar mengkilat, seperti dicuci bersih oleh hujan yang turun semalaman. Bibir-bibir pucat anak-anak penari Sendratari Damai berusaha menyunggingkan senyum.

Dengan penuh gairah meskipun dingin, memasuki kamar ganti dan bersiap-siap mengenakan bali-belo (hiasan kepala wanita dari Manggarai) dan kain kebaya. Monika kecil (9 tahun, anggota penari termuda) berbisik, „Romo Vincent, gendang dan gong sudah siap di samping altar.“  Di musim gugur, di hari Minggu (25 Oktober 2009) pada jam 12.00, di sela gemerincing bali-belo, Misa Flores dalam rangka Festival The Window on to The World (jendela menuju dunia) pun mulai.

Misa dengan Bingkai Etnik
Seperti dalam edisi sebelumnya — 14 September 2008– (Pos Kupang, 28 September 2008), yang berperan sebagai Master of Ceremony (MC)/pembawa acara adalah aktor handal Polandia, Ryszard Ronczewski. Misa kudus dipimpin oleh P. Firmin Kossi Azalekor, SVD, misonaris muda asal Togo (Afrika), didampingi oleh rektor gereja Tritunggal Mahakudus P. Tomasz Jank, OFMConv., Prof. Dr. Jacek Jan Pawlik, SVD (sebagai wakil SVD) dan Rm. Tyberiusz Kroplewski (kaplan Klub Rugby Gdansk).

Setelah sepatah kata sambutan dari wakil Baltic Sea Culture Center, ibu Elzbieta Pekala (Direktur Lawrence Ok Ugwu jatuh sakit), misa pun di mulai dengan tarian Ndundundake dari daerah Manggarai, yang mengantar perarakan para imam dan putra-putra altar menuju meja perjamuan kudus. Lambaian selendang yang melambangkan sayap-sayap burung elang di tengah dentuman gendang dan gong yang ditabuh P. Vincent Adi Gunawan Meka, SVD, Lambertus Lako Soli, penari Marta Fethke dan si kecil Monika membangkitkan decak kagum ribuan umat yang hadir di Gereja Tritunggal Maha Kudus di Gdansk.

Unsur baru yang menjadi urat nadi dari segala persiapan menjelang dan pada saat Misa Flores  adalah gema alat-alat musik etnis Indonesia, seperti angklung dan kolintang. Sentuhan lembut tangan-tangan mungil anggota Sendratari Damai bersama ibu Jadwiga Mozdzer mengiringi ayat-ayat Mazmur. Tidak lupa grup Ikenga Drummers dengan ritme Afrikanya membahana mengumandangkan Alleluya, diiringi saksofon jazzman wahid Przemek Dyjakowski.

Lalu, pada saat perarakan persembahan para penari menampilkan tarian Sulintang dari Jawa Barat, dalam alunan lembut melodi Bali Sembahan Sudra. Di dalam perarakan disajikan bunga-bungaan, roti, madu, dua ekor ikan salmon seberat tujuh kilogram, nasi tumpeng mini, yang dijinjing oleh anak-anak balita, para kawula Gdansk, grup etnik Kaszubi dan keluarga-keluarga Indonesia dan Filipina yang berdiam di Kota Gdansk.

Seperti pada edisi tahun 2008, kali ini Misa Flores juga bersifat multilingual. Bacaan pertama dibawakan oleh ibu Caritas Dyah Poerwonggo dalam bahasa Indonesia, sedangkan bacaan kedua dalam bahasa grup etnik Kaszubi di Polandia utara. Berbagai bahasa juga menggema pada saat Doa Umat, yakni bahasa Polandia, Indonesia, Jawa, Kaszubi, Ewe (Togo-Afrika), Inggris, dan Italia.

Angklung dan kolintang kembali bergema pada saat Komuni Kudus, dengan memainkan lagu kesukaan alm. Bapa Suci Yohanes Paulus II berjudul  Barka (Jadilah Penjala Manusia). Lagu tersebut ditampilkan dengan begitu memikat dan mengharukan. Umat yang hadir pun turut menyanyi. Setelah Komuni, Sendratari Damai menampilkan tari Tifa dari Maluku, dengan diawali oleh gerakan perang Lambertus Lako Soli.

Pada akhir misa para penari mengantar para imam dan putra-putra altar dalam tarian Ja’i diiringi kolintang yang dimainkan P. Vincent Adi Gunawan Meka, SVD dan Lambertus Lako Soli (vokal), bersama dengan dentuman genderang Afrika (Combo, Conga dan Jemba) yang ditabuh grup Iikenga Drummers. Lalu setelah tarian Ja“i, grup Sendratari Damai memainkan dan menyanyikan lagu When All The Saints go Marching In dengan akompaniamen angklung, kolintang dan genderang grup Ikenga Drummers.


Solidaritas Korban Bencana

Misa Flores menggendong ide perdamaian dunia, keselarasan dan harmoni dalam hidup bersama. Edisi tahun 2009 sedikitnya mendekati intensi awal di tahun 2006, yaitu dukungan doa dan bantuan material untuk korban gempa Padang. Tentang ini ditegaskan dan dipuji oleh Duta Besar Republik Indonesia di Warsawa, Hazairin Pohan, yang hadir bersama Ibu Ade Pohan, Ibu Anny Muryani (Kepala Staf Sospolbud KBRI Warsawa), Ketua H.O.C. KBRI Warsawa Meita Timoer Poerwonggo bersama keluarga.

Bapak Poerwonggo mempresentasikan tayangan singkat tentang gempa dan para korban di layar lebar, diiringi lagu patriotik Indonesia Tanah Air Beta, yang dinyanyikan oleh putra beliau Antonius Iman Prasetya (8 tahun). Suasana hening bercampur kagum memenuhi langit-langit gereja berusia 600 tahun dan berkapasitas 1.300 umat tersebut.

Setelah misa umat yang hadir diajak untuk memasukkan recehan seadanya ke dalam kotak yang dijaga oleh para frater SVD dari Pieniezno. KBRI Warsawa juga mempersiapkan kalender-kalender kecil dengan ucapan terima kasih atas kebaikan hati, yang dibagi-bagikan kepada hadirin yang berminat menolong korban gempa Padang, Sumatera Barat.

„Pulau Sumatera jauhnya 20.000 kilometer dari Polandia, tetapi saya berterima kasih, bahwa tragedi yang terjadi di sana ternyata membangkitkan rasa solider di hati kita semua yang berada di gereja ini, “ kata Dubes Pohan. (*)

* Vincent Adi Gunawan Meka, SVD
Mahasiswa S3 Musikologi di John Paul II Catholic University of Lublin,  Polandia.

sumber: http://www.pos-kupang.com/read/artikel/38540

3 Kommentare (+add yours?)

  1. Leonardus Nyoman
    Mai 21, 2011 @ 09:58:44

    Jengkuye pater, Artikel dalam Blog ini sangat menarik, semoga menjadi media promosi untuk destinasi flores dan komodo di Polandia.

    Salam sejatera

    Leonardus

    Antworten

    • vinadigm
      Mai 22, 2011 @ 05:54:25

      Ooo,nenggitun ko? Perlu apa sili Mukun? Slm eee…

      Antworten

  2. gusti
    Jun 08, 2011 @ 05:24:37

    tabe leso pater,,,,,,,,,,,,,,,,,,, trims atas artikel misa Floresnya, semoga orang Flores semakin sukses.

    Antworten

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: