Seputar „MISSA FLORES“

Misa Flores di Polandia

Foto Ist
Para Pastor Asal Flores Saat Memainkan alat musik khas
Indonesia di Polandia

Jendela Menuju Dunia

Oleh P.Vincent AG Meka, SVD

TANGGAL 14 September 2008 akan dikenang oleh warga Kota Gdansk dan sekitarnya sebagai hari bersejarah. Hari itu, Minggu biasa di awal musim semi. Udara dingin dari Laut Baltik mulai bangkit dari tidur panjangnya selama musim panas. Sejak pagi hari hujan rintik-rintik membuat langit seakan sedih. Tetapi gereja Santu Yohanes, gereja tertua di Kota Gdansk, Polandia yang juga adalah gereja para artis, sudah membludak jauh sejak sebelum jam 12.00 siang.

Setelah membaca informasi di koran-koran dan di plakat-plakat yang tersebar di seluruh kota, warga kota berebutan mengambil tempat di dalam gereja yang hanya bisa memuat seribu umat itu. Tepat jam 12.00 waktu setempat aktor terkenal Ryszard Ronczewski memulai komentar pengantar ke dalam upacara ekaristi „Misa Flores“ dengan kata-kata pemazmur: „Pujilah Tuhan dengan lagu dan tari-tarian.“

Setelah sepatah kata menyambut kehadiran Duta Besar RI untuk Polandia, Hazairin Pohan, dari Kota Warsawa oleh Direktur Nadbaltic Cultur Center asal Nigeria (Lawrence Okey Ugwu), bergemalah dari ujung gereja tua itu dentum genderang kecil dalam Tarian Likurai (Belu), mengantar armada para imam dan pelayan altar menuju meja perjamuan utama. Duapuluh penari dengan jemari mungil dan gerakan gemulai membuat semua yang hadir serentak menoleh dan berdesakan untuk melihat dari dekat. „Misa Flores“, acara paling penting dalam rangka festival „The Window on to the World“ (jendela menuju dunia) pun mulai.

Genesa Inisiatif
Inisiator utama „Misa Flores“ adalah pendiri grup Sendratari Damai, aktris dan penari klasik Jadwiga Mozdzer bersama imam asal Flores, P.Vincent Adi Gunawan Meka, SVD, mahasiswa S3 Musikologi di Lublin. Festival tahun ini adalah edisi ke empat dan grup


Sendratari Damai mengambil bagian secara aktif sejak edisi pertama.
Ide untuk membawakan tari-tarian di saat misa sudah lahir dua tahun yang lalu. Pada saat itu pula misa pertama ditarikan di Gereja Bunda Maria dari Fatima di Gdansk dan di Seminari Tinggi SVD di Pieniezno.

Ketika grup Sendratari Damai diminta untuk lagi-lagi mengambil bagian dalam edisi ke empat festival tersebut, muncullah niat untuk menampilkan tari-tarian pada saat misa di Gereja Santu Yohanes. Pemikiran ini diterima antusias oleh pihak direksi Nadbatic Culture Center dan pihak pembesar gereja. Persiapan pun dimulai. Sejak awal Agustus hingga tanggal 13 September 2008 persiapan betul diperketat. Dimulailah penerimaan penari-penari baru ke dalam grup Sendratari Damai. Selendang-selendang dan kain-kain songket pun mulai dipesan ke Indonesia sampai ke Flores. Ide dan pemikiran-pemikiran baru mulai muncul dan berkembang dari hari ke hari.

Tarian Dari Indonesia Timur
Misa kudus diawali dengan tarian Likurai (Belu), diiringi angklung yang dimainkan oleh penari grup Sendratari Damai. Bacaan pertama dalam bahasa Polandia dan bacaan kedua dalam bahasa Indonesia yang dibacakan oleh Ibu Caritas Poerwonggo, istri dari Wakil Duta Besar Indonesia untuk Polandia, M. Timoer Poerwonggo. Mazmur dinyanyikan dalam bahasa Hindi oleh Frater Anthony Eragudhi, SVD, asal India. Alleluya bergaung dalam irama Afrika bersama „Ikenga Drummers“ dengan Lawrence Okey Ugwu dan enam pemain genderangnya.

Setelah Doa Umat yang dibacakan dalam berbagai bahasa, tarian persembahan mengantarkan iringan pembawa hasil bumi dan laut ke altar. Para penari dengan lambaian bali-belo (hiasan kepala untuk wanita di daerah Manggarai) benar-benar membuat bulu kuduk berdiri.

Puncak dari segalanya adalah tari perdamaian Tari Tifa setelah Komuni. Tari tersebut menghadirkan konfrontasi antara dunia kejahatan, yang diperankan oleh Frater Adipati Manek, SVD, dan Frater Vinsensius Taji, SVD. Tarian ini dalam gerakan-gerakan perang dan dunia kebaikan, kelembutan dan harmoni yang ditampilkan oleh para penari grup Sendratari Damai dengan tifa-tifa kecil di tangan mereka.

Irama perdamaian diperindah oleh lambaian bulu-bulu Merak di kepala mungil para penari. Sebagai perarakan penutup misa kudus, grup Sendratari Damai menghentakkan gereja besar itu dengan tarian Ja’i (Ngada-Flores). Musik pengiringnya berwarna Afro-Asia. P. Vinsent AG Meka, SVD sebagai vokal utama dan pemain kolintang, bersama dengan Lambertus Lako Soli di hadapan kolintang dan juga sebagai vokal, didampingi oleh Frater Adi Manek, SVD sebagai pemain ukulele dan Frater Vincent Taji, SVD sebagai vokal. Seluruhnya didukung oleh para pemain genderang dari grup „Ikenga Drummers“.

Gemuruh tepuk tangan meriah bergema sepanjang berjalannya lagu dan tarian Ja’i. Umat semua berdesak-desakkan ingin melihat dari dekat. Apalagi warna kostium para penari betul-betul memikat, dengan tongkat berhiaskan bulu-bulu ayam berwarna-warni di tangan dan ikat kepala kuning penuh bunga.

Misa Demi Toleransi
Misa kudus dipimpin oleh P. Gregorius Lelang Atulolon, SVD, asal Lembata. Ia didampingi oleh Rektor Gereja Santu Yohanes, Rm. Krzysztof Niedaltowski dan utusan Provinsi SVD Polandia P. Waldemar Kuss, SVD.
Dalam kotbahnya Rm. Niedaltowski menyinggung betapa pentingnya hidup rukun bersama dengan orang-orang lain yang berbeda agama, budaya dan warna kulit. Ini sesuai dengan ide utama dari festival budaya „The Window on to the World“, yang menggarisbawahi penghormatan terhadap sesama manusia.

Duta Besar RI untuk Polandia di Warsawa, Hazairin Pohan yang hadir bersama istri dan wakilnya M. Timoer Poerwonggo, dalam kata sambutannya menyinggung tentang keragaman budaya dan agama di Indonesia. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah simbol toleransi dan keeratan dalam kehidupan bersama di Indonesia.

Dubes Pohan berterimakasih kepada Ibu Jadwiga Mozdzer dan P. Vinsent AG Meka, SVD, atas inisiatif dan kerja keras dalam mempromosikan Indonesia di Polandia. „Semoga selalu sukses dan penuh dengan ide-ide baru,“ harap Hazairin Pohan. (*)

Pos Kupang Minggu, 28 September 2008, halaman 11

9 Kommentare (+add yours?)

  1. Sten
    Aug 31, 2010 @ 08:00:30

    Wow keren e Pater, benar-benar membanggakan membawa budaya Indonesia khususnya Indonesia Timur dalam misa inkulturasi di Eropa, usaha yang sangat baik.

    Saya tadi buka-buka blog ini dan spertinya Pater kakak kelas saya waktu SMP St. Klaus e.

    Lanjut terus untuk kemajuan Manggarai, floress dan Indonesia.

    Tks
    Stan

    Antworten

    • vinadigm
      Aug 31, 2010 @ 19:35:06

      Kraeng Stan, eme St. Klaus berarti benar e. Saya tamatan sana dan selalu bangga pernah di Kuwu. Ite nia hoo ga? Tabe

      Antworten

  2. Hendry Hardum
    Nov 21, 2011 @ 15:48:36

    Luar biasa ite eee kraeng…Lanjut terus…Ite kakak kelas daku di Labuan Baju dulu…Saya se-angkatan dengan Vinsen Bero, Emil Nabu etc yang hampir semuanya ada di Jakarta…

    Antworten

    • vinadigm
      Dez 01, 2011 @ 17:02:45

      Oe kraeng Hen, nuk kin kraeng laku tah. Ni wan hoo ge?

      Antworten

  3. klitus
    Dez 19, 2012 @ 11:34:01

    oe ka’e….yang paling kanan itu saya ko….. benar to???? Klitus Ngael e…..

    Antworten

    • Vincent Adi
      Dez 19, 2012 @ 20:02:40

      hahahahha eng e, cama rimpets meu. hahaeee to. ata Waelengga hi ase hitu e. tabe ga.

      Antworten

  4. klitus
    Dez 20, 2012 @ 05:56:27

    puka raa…..masih simpan ini foto e??? hebat eee…… Salam ke situ

    Antworten

    • Vincent Adi
      Dez 20, 2012 @ 13:14:03

      eng e manga kin, caid mirip kole kraeng one foto hitu agu hi kae Ferdi mikel e

      Antworten

  5. vimax original
    Apr 24, 2014 @ 01:42:21

    Fantastic website you have here but I was curious if you knew of
    any forums that cover the same topics talked about
    in this article? I’d really love to be a part of online community where I can get
    comments from other experienced people that share the same interest.
    If you have any recommendations, please let me know.
    Thanks a lot!

    Antworten

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: