Denting Piano Yang Tersisa

Cerpen: Vinadi G.M

PASTORAN tua peninggalan masa Perang Dunia I itu agak tersembunyi di belakang gedung gereja megah. Lewat jendela kelihatan di sana-sini bunga lili dan mawar mulai merekah, pertanda musim semi mulai menyapa. Beberapa ekor burung pipit mencicit sambil berkejaran mencari naungan di dahan cemara. Seekor kucing berbaring malas di atas bangku taman, sambil menikmati sinar matahari pagi yang mulai menghangat. Teriakan bocah-bocah dari lapangan bola seakan memenuhi riangnya pagi itu.
Pastor tua, Gerard, sibuk menceritakan kisah-kisah masa perang saat beliau masih bocah. Gayanya yang bersemangat, penuh lelucon, menghantarkanku ke suasana masa kecil beliau. Juga kisah masa komunis saat beliau sebagai pastor muda. Beliau menunjukkan mebel-mebel antik yang penuh dengan tulisan bahasa Latin. Katanya, di masa itu pemerintah komunis tidak menyita mebel dan benda-benda lain di paroki yang bertuliskan ayat-ayat Kitab Suci dalam bahasa Latin. Karena tulisan Latin menandakan bahwa barang-barang tersebut adalah milik pribadi paroki.

Sebetulnya perhatian saya selama itu terbagi dua. Terlebih lagi pendengaran saya. Dentingan piano dari kejauhan, yang terdengar sayup-sayup, itulah penyebabnya. Sebentar-sebentar terdengar Mars Turki sang genius Mozart yang membuat hati dug-dag lantaran iramanya yang meloncat-loncat gembira, lalu kemudian Andantino melancholisnya musikus Georgia, Chaczaturian, yang membuat bulu kuduk berdiri. Atau kemudian komposisi pribadi sang pemain piano, campuran hentakan irama Mazurek dan Polonez-nya Chopin. Kelihatannya pastor Gerard menangkap pikiranku. Konsentrasiku sudah buyar, entah pastor tua itu masih tetap bercerita dan berlelucon atau tidak, aku sudah tenggelam dalam irama piano.
„Setiap hari Sabtu dia kemari,“ pastor Gerard menjelaskan, seakan tahu tanda tanya dalam benak saya. Lalu sambungnya, „Sekadar untuk menarik nafas segar di sini, lalu sore hari beliau pulang.“ Tetapi saya tidak bertanya, di mana sang pianis tinggal atau siapakah dia.“
Dengan langkah yang agak terseret beliau mengantar saya ke ruangan dari mana dentingan piano berasal. Kami melewati lorong tua yang agak gelap, meskipun ada cahaya masuk lewat jendela. Terasa di hidung bau tembok tua yang tidak dilabur. Setelah melewat sebuah taman bunga yang sempit tapi apik, kami berbelok masuk ke ruangan yang cukup luas. Bunyi piano kian jelas terdengar, irama jazz kombinasi pribadi sang pianis. Ruangan itu sebenarnya berfungsi sebagai aula paroki. Bentuknya seperti concert room kameral di istana-istana klasik. Podium seperti panggung dan di atasnya piano.
Sang pianis membelakangi kami, sehingga rupanya dia tidak mendengar ada orang masuk. Cahaya matahari bersinar lewat jendela, bagai lampu pijar yang menyoroti artis solo saat pentas. Jatuh tepat di atas kepala sang pianis. Dari kejauhan kelihatan jelas jari-jemarinya yang lincah, meloncat-loncat di atas tuts. Sebentar-sebentar dia menunduk seakan mau mendekap piano, sebentar-sebentar pula menengadah, sepertinya menyemburkan nafas. Lalu kepalanya dihentak-hentak, kemudian digeleng-geleng lembut, ibarat penari flamenco mengundang pasangannya untuk menari. Ruangan dipenuhi gaung piano, harmonis dan merasuk jiwa. Dia yang memainkan piano itu pastilah seorang hebat.
Kami tetap berdiri di pintu masuk, tidak berniat mengganggu sang genius. Beliau beralih ke melodi sedih. Minor. Saya berusaha mengingat-ingat, karya siapakah itu. Tetapi susah untuk menebaknya. Beethoven? Vivaldi? Atau kompositor moderen? Mozdzer? Saya menyerah. Biarlah melodi itu mengalun, tidaklah penting saat ini bagi saya, siapa pemiliknya. Irama pelan, seakan perlahan mengantarkan pendengar ke alam penuh kisah yang menyayat hati. Sang pianis menengadah. Tangan kanannya seakan meraba-raba, menjangkau bunyi tinggi di ujung kanan piano. Puncak melancholia. Tangan kirinya menyusul ke sana. Terdengar dialog dalam harmonia sejati. Ibarat dua belibis muda berebut kembang teratai. Lalu kedua tangannya beriringan menuju ke bagian tengah piano. Bagai langkah permaisuri menuruni tangga menuju pelaminan. Saya terbuai. Seperti bermimpi. Tidak terasa kami sudah berdiri di sana selama sejam lebih.
Pentas melancholia berakhir. Sang pianis menoleh. Dia seakan terkejut. Ditutupnya piano perlahan-lahan, lalu bangun dan berjalan menuju pintu keluar. Dengan hanya menganggukkan kepala, dia melewati kami berdua yang termangu dan terbawa arus melodi yang masih bergaung di telinga kami. Lalu dia menghilang di lorong. Saya merasa amat kecewa. Padahal saya mau berjabatan tangan saja dengannya. Tetapi saya tidak sanggup untuk menahannya saat dia lewat. Tanda tanya semakin menumpuk di benak saya, sampai membuat dada sesak.

***
Cahaya mentari memucat, awan tipis malu-malu menempel di permukaannya. Udara sepertinya tidak lagi hangat. Dua ekor tupai meloncat-loncat di dahan apel. Gembira ria lantaran sebentar lagi musim kacang Italia tiba. Kupu-kupu berebutan hinggap di kembang tulipan. Saya terbangun dari lamunan saat pastor Gerard masuk ke kamar makan.
Santap siang hanya dihadiri kami berdua, saya dan sang pastor tua. Saya mau bertanya, di manakah gerangan sang genius, tetapi lidah terasa begitu berat tertahan. Dalam diam kami menikmati kentang rebus dan kelinci goreng, makanan khas daerah pegunungan. Pikiran saya tetap saja di sang pianis. Mengapa beliau tidak datang untuk santap siang? Entahkah beliau sudah pulang ke kediamannya? Entahkah…ataukah…dst? Beribu pertanyaan mengiang di benak saya, sampai pastor Gerard memecah keheningan.
„Dia harus pulang tadi sebelum santap siang,“ kata beliau sambil menuangkan juice ke gelas kaca. „Namanya Adam. Seperti manusia pertama di Firdaus. Sejak setahun ini beliau berada di Panti Rehabilitasi untuk para tentara yang pulang perang dan umumnya mereka hilang ingatan, alias sakit jiwa. Begitulah, perang selalu berakibat buruk. Menang perang, harta dan jiwa habis. Begitu pula kalau kalah perang. Menang atau kalah, harga diri tetaplah hilang.“ Pastor tua itu menarik nafas dalam-dalam. Beliau tahu betul, apa artinya hidup di masa perang. Saya tersentak. Kepala saya sepertinya mau pecah, tidak percaya dengan cerita sang pastor tua itu.
„Dia dulu memang pianis hebat,“ lanjutnya. „Eh, maksudnya dia tetaplah pianis hebat seperti dulu. Beliau ikut sebagai tenaga keamanan di Jugoslavia. Lalu ke Afganistan. Di sana beliau terkena peluru nyasar di kakinya, saat harus menyelamatkan seorang gadis kecil dari hingar-bingarnya peluru. Sampai sekarang kaki yang satunya berfungsi hanya berkat proteza. Barangkali terlalu banyak yang dia saksikan. Pulangnya dia jatuh sakit. Sakit jiwa.“
Begitu kejamkah nasib? Saya tidak habis berpikir dan menyalahkan nasib. Mengapa orang-orang sehebat dia harus jatuh sakit? Dan berapa orangkah yang harus menanggung akibat buruk dari peperangan? Apakah perang itu jalan terbaik; apakah perang itu benar-benar perlu? Dada saya semakin sesak, lantaran pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya tidak mudah ditemukan.
Matahari semakin meredup. Pertanda senja mulai tiba. Di kejauhan terdengar nyanyian merpati seperti menggerutu, berdesak-desakan masuk ke kandang. Saya pun pamit pulang. Kapan lagi saya akan dengarkan denting piano sang genius? Di dalam kereta saya mencoba mengingat-ingat lagi gaung piano dari ruangan paroki. Terbayang lagi sosok di depan piano, kepala botak dan postur agak terbungkuk. Tatapannya yang terkesan liar. Senyumannya yang seakan tidak asli, tersipu-sipu, sepertinya dibuat-buat. Dan kaki kirinya yang agak pendek.
„Untung saja piano masih berdenting di jemarinya….“ tutur pastor Gerard. „Itu sajalah satu-satunya yang dimilikinya sekarang. Di dalam hidupnya yang kini tinggal puing-puing.“
Kata-kata pastor tua itu masih terngiang, akan saya ingat seumur hidup saya. Saya capek dan tertidur. Di luar jendela kereta lampu-lampu jalan seakan berkejar-kejaran. Seperti melodi piano sang pianis.
Lublin, April 2008

Pos Kupang Minggu, 4 Mei 2008, halaman 6

%d Bloggern gefällt das: