Dila

Dila

Cerpen Vinadi GM

SEBENTAR-sebentar dia membetulkan kacamatanya. Lewat kaca cekung, tatapannya seakan kosong. Hampa. Ia memandang lurus ke hadapannya. Seperti di benaknya dia berusaha mengingat-ingat sesuatu.

„Oh ya, Mas. Sekarang saya ingat.“ Dia memulai ceritanya. Saya memperbaiki kursi dan menyandarkan bahu ke sandaran kursi rotan. Di atas meja cangkir kopi kami sedang mengepulkan uap. Lagi hangat. Sahabat saya sebentar-sebentar menghirup kopi sambil dia mengisahkan ceritanya di masa lalu, belasan tahun yang lalu.

„Waktu itu musim salju. Sebagai seorang supir truk dagang internasional, saya sering berhenti di hotel-hotel murah di pinggir jalur Eropa Tengah. Yah, untuk menginap lah, mandi lah. Pagi itu, baru pukul 04.00. Di depan sebuah hotel di perbatasan Ukraina, saya melihat sesosok tubuh kecil sementara berjongkok kedinginan. Sekeliling sepi. Saat saya mendekat, ternyata dia seorang gadis muda. Dengan berpakaiankan hanya gaun malam warna merah jambu, dia melilitkan badannya hanya dengan sebuah handuk lebar. Tetapi itu pun sebenarnya tidak cukup untuk musim dingin yang tidak akrab ini. Kamu sakit?-tanya saya. Dia tidak menjawab. Bibirnya pecah-pecah. Dia hanya menatap dengan matanya yang merah dan sembab. Saya menggandengnya ke kabin truk saya. Saya berikan teh hangat. Saya berikan jaket supaya dia berhenti menggigil. Namamu siapa? Rumahmu di mana? Kamu sedang apa di sini? Umurmu berapa? dll û semuanya tidak dijawabi.“

Sahabat saya menarik sebatang rokok dari bungkusannya sambil menarik nafas panjang. Dia menyodorkan ke arahku, tetapi saya menolaknya dengan sopan. Sebentar kemudian wajahnya menghilang di balik asap rokok yang mengepul di depan hidungnya. Suaranya tetap terdengar tegas dan jelas saat dia melanjutkan kisahnya.

„Dalam hati saya curiga, bahwa dia gadis umur belasan tahun. 15 atau 16-an. Rambutnya panjang, putih pirang. Wajahnya oval, matanya biru, bening seperti danau, meskipun sembab. Badannya tidak cukup tinggi, tetapi langsing dan semampai. Saya mengisyaratkan, bahwa saya harus ke hotel untuk mandi sebentar. Dia hanya mengangguk, tetapi tidak bergerak dari kabin. Walaupun penuh curiga, saya membiarkannya saja di truk saya. Setelah mandi seadanya, saya segera kembali ke kabin truk. Si pirang muda sedang tertidur pulas…. Begitulah awalnya, awal dari kisah yang menyakitkan ini. Saat saya menghidupkan mesin truk, dia terbangun. Sekilas saja dia menatap ke arahku, lalu tertidur lagi. Dia tidak protes. Tidak bicara sedikit pun. Tidak bertanya. Juga tidak menjawab.“

Kelihatan cuaca mulai membaik. Hujan rintik-rintik sudah berhenti turun. Sepertinya sebentar lagi matahari keluar dari persembunyiannya. Sahabat saya menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala sembari menengadah ke langit. Lagi-lagi ia menarik nafas panjang. Di bawah cahaya langit, tampak wajah kurusnya, pipinya yang agak kempis, matanya yang cekung dan bekas-bekas luka di dagunya.

„Saya memberikan dia nama Dila. Memang kesannya seperti memberikan nama untuk kucing atau anjing peliharaan. Habisnya dia tidak punya kartu identitas, dia juga tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Dia juga sepertinya setuju dengan nama panggilan itu. Saya memberinya usia yaitu 16 tahun. Saya mengarang asal-usulnya, yaitu dari Orawa. Saya membawanya ke rumah tinggal saya yang ditinggalkan kakek di kampung. Di sana saya memeliharanya. Iya, saya memeliharanya, seperti seekor anak kucing. Dila ternyata cukup rajin, walaupun masih agak kaku dalam pembicaraan dan bergaul. Dia cukup pandai memasak, rajin membersihkan rumah tua dari kayu itu dan mencuci atau menyetrika pakaian saat saya pergi ke tempat kerja. Saya belikan seluruh perlengkapan di kamarnya, pakaian, sepatu dan juga pakaian dalam. Perasaan iba dan kasih sayang saya semakin bertumbuh, sampai-sampai saya berhenti bekerja sebagai supir truk, supaya bisa setiap hari pulang ke rumah untuk berada bersama Dila.“ Sebatang rokok lagi disulut oleh sahabat saya. Asap mengepul.

„Sejak saat itu Dila menjadi segala-galanya untuk saya. Usulan ayah dan ibu untuk mengantarnya ke Panti Asuhan membuat saya naik pitam. Biarlah Dila menjadikan rumah saya tempatnya yang aman hingga dia mencapai cukup umur. Saat itulah baru dia boleh memutuskan apa yang terbaik untuk masa depannya. Saya melaporkan situasi yang ada kepada pak lurah, beliau malahan memuji niat baik saya. Lama-lama tetangga tidak lagi berbisik-bisik saat Dila lewat atau sedang bersama saya ke toko satu-satunya di kampung. Dila pun semakin luwes dalam bersikap, semakin banyak bicara dan suka menyanyi-nyanyi di kamar mandi. Maklum, anak 16 tahun – demikian saya dalam hati.“  Wajah sahabat saya bercahaya, dia tersenyum sambil menggigit bibirnya yang kuyu. Matanya seperti bersinar-sinar mengenang masa indah bersama Dila.

„Setelah setahun tinggal serumah, saya mulai merasakan cinta kepada Dila. Dila pun tidak menolaknya. Hubungan kami mulai berani, mulai dari berciuman hingga sampai ke ranjang. Saya ingat betul, waktu itu malam Minggu di musim semi. Saat bangun keesokan paginya, kami saling menatap dan tersenyum. Lalu kami berpelukan, enggan turun dari ranjang. Setiap hari sepulang kerja, saya membelikan oleh-oleh kecil buat Dila, yang dibalasnya dengan ciuman panjang atau kue apel kesukaan saya. Delapan jam di tempat kerja saya rasakan ibarat bertahun-tahun, saking rindunya kepada Dila. Telepon saya tidak pernah berhenti, penuh dengan kata-kata mesra dari Dila. Oh Dila, Dila. Dilaku yang kecil dan ceria.“ Wajah sahabatku tiba-tiba berubah menjadi muram.

Tangannya seperti gemetar. Saya menuangkan kopi manis ke cangkirnya dan menyodorkan kepadanya. Dia mengangguk lalu menghirup sambil menutup matanya.
„Saya tidak pernah menyangka bahwa setahun penuh bunga dan lagu cinta bisa berubah menjadi neraka. Saya sudah mempersiapkan surat-surat untuk melaporkan Dila ke Kantor Catatan Sipil, supaya bisa memperoleh kartu identitas. Dila menyulam sebuah rompi dari wol sebagai tanda terima kasihnya untuk saya. Di bagian depan rompi tersebut disulamnya gambar hati dari benang merah dengan tulisan: FOREVER. Alhasil, suatu siang tiba-tiba saya menjadi pusing, sempoyongan dan hampir terjatuh. Saya merasakan sakit kepala yang hebat. Setelah agak membaik, saya mengajak Dila ke dokter untuk meminta resep. Dokter memberikan obat biasa untuk sakit kepala. Setelah beberapa hari sakit kepala saya tetap juga tidak hilang, malahan saya muntah-muntah. Saya putuskan hari itu untuk langsung saja ke dokter sepulang kerja. Dokter memeriksa saya dan mengambil darah. Saya disuruh menunggu seminggu sampai beliau membuat penelitian untuk memutuskan apa gerangan yang membuat saya merasa pening, lemah, letih dan muntah-muntah.“

Matahari mengintip dari balik awan jingga, bertengger di atas atap gedung-gedung tua. Sebentar lagi pasti menghilang. Sahabat saya menunduk menatap cangkir kopi yang tinggal setengah. Dia berusaha menghabiskan kisahnya. Meskipun tidak sanggup lagi hatinya. Mulutnya. Pikirannya. Jiwanya.

„Di rumah saya tidak mendapatkan Dila. Dia menghilang. Telefonnya ditinggalkannya. Hanya tas kecil dan dua pasang baju yang dibawanya. Saya menelpon orang tua, tetangga dan pak lurah. Tidak satu pun yang tahu ke mana perginya si Dila. Saya takut menelpon polisi, karena Dila tinggal seatap dengan saya tidak dengan resmi. Neraka saya menjadi lengkap saat saya mendapat berita dari dokter, bahwa saya menderita HIV. Saya ketularan oleh si Dila. Dunia saya runtuh. Saya pingsan. Setelah sadar saya ternyata berada di rumah sakit ini. Tanpa siapa-siapa. Tanpa Dila.“ Sahabatku bangun dan berjalan ke arah pintu masuk ke lorong. Dia berdiri terpekur sejenak dan menoleh ke arahku sambil melambaikan tangan sambil tersenyum lesu. Sempat terlihat olehku sulaman hati di bagian depan rompinya. Tampak tulisan yang sudah kusam: FOREVER…*

Dimuat di: Pos Kupang – Minggu, 15 Maret 2009.

http://www.pos-kupang.com/index.php?speak=i&content=file_detail&jenis=11&idnya=22310&detailnya=1


%d Bloggern gefällt das: