Soneta Anak Gunung

Cerpen Vinadi GM

……..KAMPUNG itu terletak di lereng pegunungan. Nenek moyang mereka katanya dulu tinggal di puncak yang paling tinggi. Entah apa sebabnya mereka berpindah dari tempat yang luas dan tidak jauh letaknya dari sumber air itu. Dan justeru mereka memilih sebuah dataran sempit di sela-sela dua bukit memanjang. Jauh dari sumber air pula. Hawanya sama dinginnya seperti di puncak. Pemandangan dari kampung tersebut terbentur pada gunung-gemunung.

Sejauh mata mencari, hanya deretan punggung raksasa yang tampak. Hamparan kebun-kebun kopi seakan menjadi gaun indah di punggung-punggung bukit tersebut. Jauh di bawah kelihatan sungai yang diapiti kotak-kotak petakan sawah. Tampak asap-asap api mengepul dari pondok-pondok beratap ilalang. Sesekali terdengar teriakan petani menghalau kerbau saat membajak. Di gunung di hadapannya, cahaya mentari memantul dari atap sink rumah-rumah di beberapa perkampungan yang berjejer.

Di kampung itulah Takung dilahirkan dan dibesarkan. Kesehariannya berkisar di seputar pegunungan. Bangun pagi, saat keluar rumah untuk pergi ke jamban, yang pertama kali tampak adalah deretan gunung. Ke sekolah harus menjelujuri pinggir bebukitan, meskipun tidak jauh jaraknya. Sepulang sekolah bersama teman sebaya dan saudara-saudaranya


Takung sering ke hutan di puncak gunung untuk mencari ranting-ranting kering untuk dipakai di tungku di dapur. Kadang-kadang ke sana juga untuk memasang jerat ayam hutan dan mencari buah jambu. Ke sawah pun harus menuruni gunung, lalu mendaki gunung berikutnya untuk sampai ke sana. Malahan ke gereja pun harus melewati gunung.

Kampung dan pegunungan itulah yang menghidupkannya. Melatihnya untuk selalu berjuang maju, pantang mundur, setinggi apapun hambatannya, sedalam manapun jurangnya. Di sana dia diasah menjadi seorang yang selalu mencari, untuk tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Menjadi seorang yang tegas, setegar punggung bukit yang dilaluinya setiap hari saat ke sekolah. Dan juga dia diajari keyakinan mendalam akan kuasa Tuhan, yang selalu meluputkan keluarga dan kampungnya saat banjir dan tanah longsor.

Kini Takung telah menjadi penyair. Dia tinggal di kota metropolitan. Penuh kebisingan dan pergulatan mengejar nafkah untuk hari esok. Setiap orang berusaha menangkap kesempatan yang lewat di depan mata. Karena siapa terlambat, dia akan kalah dan binasa. Bersama istrinya dia tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Di situ ada sebuah bilik khusus, tempat dia menulis puisi dan syair-syair baru untuk para komponis yang selalu memesan kata-kata untuk lagu-lagu baru mereka. Isi syair-syairnya banyak memuja kesederhanaan dalam hidup. Memuja kepolosan kehidupan di pegunungan.

Memuja ritme hidup orang-orang gunung, dengan sistem waktu siklis mereka: kalau bukan sekarang, besok saja, toh masih ada waktu. Puisi-puisinya mengajak manusia-manusia modern untuk berusaha meredam lajunya waktu. Biar hidup sahaja tetap sahaja, ibarat orang-orang kampung di pegunungan.

Penyair Takung menjadi sangat terkenal. Dia menjadi pujaan publik. Di mana-mana syair-syair dan lagu-lagunya menjadi pedoman dan tetuah dalam mendidik kawula. Menjadi kata-kata mutiara saat bercinta. Menjadi acuan saat ceramah-ceramah ilmiah. Menjadi rincian bagi para pemuka agama. Lagu-lagu dengan kata-kata penyair Takung memenuhi radio-radio. Didengungkan para sopir becak, bajaj dan pengamen. Dilantunkan presiden, para menterinya dan para anggota majelis negara saat jedah. Dinyanyikan saat pentasan sekolah maupun pentasan di penjara-penjara. Dipakai saat para pastor dan bhiksu bermeditasi maupun saat orang-orang najis berselingkuh. Terdengar di kota metropolitan dan juga di pegunungan, hingga sampai ke kampungnya.

Penyair Takung pun berkeliling dunia. Dia sering ke Eropa dan Amerika Serikat guna membawakan puisi dan syair. Seorang komponis muda Eropa meminta dia menuliskan sebuah puisi sebagai landasan untuk dia menciptakan sebuah soneta. Penyair Takung pun menuliskan sebuah puisi panjang, dalam bahasa kampungnya untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa. Sang komponis sangat puas, ditulisnyalah sebuah soneta tentang kesederhanaan. Soneta di C major, karena akord C adalah lambang kesederhanaan, paling mudah dimainkan. Soneta untuk piano. Dengan dentingan pianonya yang ibarat hujan. Mulai dengan rintik-rintik, lalu bunyi-bunyi berkejaran dan berdesak-desakan ditambah bunyi guntur dan kilat yang meledak-ledak. Soneta kemudian mereda, perlahan-lahan melambat hingga sampai kembali ke rintik-rintik. Akhirnya diam…..

„Kontrol tiketnya, Pak,“ tiba-tiba aku terbangun dari mimpi. Leher agak ngilu. Lewat kaca bus kelihatan cuma gelombang putih salju, meliliti gunung-gunung dan bebukitan. Di kejauhan tampak salib besar di puncak Giewont, puncak tertinggi Polandia. Sambil mengusap-usap mata saya mencari-cari tiket di saku saya. Pikiran masih segar, ke kisah anak gunung si Takung. Seandainya dia benar-benar ada, oh, betapa indahnya tentunya soneta tersebut. Terngiang, terekam oleh telinga saya dentingan piano dari film mayapada tersebut.

Seperti hujan di gunung. Soneta anak gunung. Sebab Takung adalah anak gunung. Di luar salju berjatuhan dari langit. Memukul-mukul kaca bus. Sepertinya ritmik sekali. Lalu terngianglah di telingaku sebuah lagu rakyat anak-anak pegunungan Manggarai saat musim laron: Loe loe salo loeee…delat ngara eta tepo tendeng…. Sebuah tema bagus untuk soneta. (*)
Lublin, 22 Desember 2008

Pos Kupang Minggu, 18 Januari 2009, halaman 6

%d Bloggern gefällt das: