Kisah menjadi murid lagi – bagian 32

„Butir-butir padi di sawah kita sangat bernas,“ demikian cerita ayah. Di usianya yang melebihi 70 tahun, suara beliau tetap lantang dan penuh keyakinan, bahwa berita tentang padi di sawah juga merupakan bagian dari kehidupan saya, meskipun saya jauh berada di benua lain, di dunia lain. Setiap saya menelpon, ayah dengan gembira menceritakan hal-hal yang sebenarnya sudah saya ketahui dari saudara-saudara saya. Kadang juga beliau mengulangi kisah lama yang juga sudah seringkali saya dengar. Mengenai bernasnya butir-butir padi sawah beliau melanjutkan: „Setiap orang yang lewat di tengah sawah kita, pasti akan berhenti dan mengagumi hamparan padi yang menguning, karena seakan tiada sebatang pun yang tegak. Semuanya penuh berisi dan merunduk…“ Ya, teringat saya akan peribahasa tentang ilmu padi: semakin berisi, semakin dia merunduk. „Saudaramu tidak menggunakan pupuk, itu adalah kekuatan doa…“ Ayah begitu berani mengungkapkan sebuah konklusi definitif dan malah absolut, tanpa mengajak budi saya untuk menganalisa dan menyelidiki. Tanpa kecemasan akan komentar kontra dan pesimisme saya akan kebenaran pernyataan dan keyakinan beliau. Budi saya, yang telah terkontaminasi pemikiran modern Barat.

IMG-20160101-WA0004Ayah, sang pendoa

Ayah. Seorang yang ulet dan pantang mundur. Tegas namun lembut hati. Seorang PENDOA. Beliau berdoa dan selalu mengajak berdoa. Beliau mendidik anak-anak dan cucu-cucunya UNTUK dan DENGAN  berdoa. Dari sejak kami masih kanak-kanak, doa di rumah selalu menjadi ritual penting. Semuanya dicapai beliau dengan kekuatan doa, mulai dari kemiskinan di keluarganya, perjuangannya menjadi guru, pergolakan saat beliau membela tanah milik sekolah dan Gereja. Doa, demikian kata beliau, membuat hati tenang, hening dan mampu membuat keputusan tepat. Sekarang, ketika beliau sudah pensiun, bersama ibu mereka selalu melewatkan hari-hari tua dengan berdoa. Bahkan ketika bekerja di kebun atau menjaga burung di sawah, ayah selalu mengajak orang-orang lain untuk berdoa pada jam 12.00.

Beberapa hari yang lalu saya diundang oleh sebuah keluarga asal Vietnam untuk makan malam. Setelah makan malam, tepat jam 19.00 seisi anggota keluarga (empat orang anak, dua gadis belasan tahun dan dua bocah) berdiri di depan patung dan berdoa rosario. Kata mereka, itu sudah tradisi keluarga mereka. Saya bertanya dalam hati, berapa keluarga yang masih berdoa di atas bumi ini? Saya teringat akan orang tua saya. Akan saudara-saudara saya di kampung yang setia menjaga kebiasaan dari orang tua.

Bersama saudara-saudara dan adik-adik seasal, saya menyambut tahun baru 2016 di lereng pegunungan Alpen, di Bischofshofen – Austria. Tahun lama ditutup dengan doa dan juga untuk menyambut tahun yang baru. Sambil berharap, kisah tragis tidak akan lagi memenuhi tahun yang baru ini. Sampai kini, belum begitu terpenuhi. Dunia di tahun baru 2016 diguncangkan oleh peristiwa-peristiwa berdarah, perang di Timur Tengah yang tidak berkesudahan, malahan di Indonesia. Mungkin karena belum semua penghuni bumi ini berdoa? Paus Fransiskus mengajak kita berdoa bagi dunia. Ya, kita berdoa memohon supaya orang-orang lain juga ingin berdoa. Doa bukan sekedar sebagai ritual dan rutinitas, tetapi sebagai wujud dari sebuah religiositas mendalam. Bukan religiositas pamer.  Mari menganyam Masa Puasa yang sebentar lagi tiba dengan doa khusus memohon perdamaian….

Mit Lumia Selfie aufgenommenMengagumi kebesaran Sang Khalik

IMG-20160105-WA0008Mewartakan keindahan ciptaan Sang Khalik

%d Bloggern gefällt das: