Puisi Cinta Vinadi GM

LUKISAN SEMPURNA

Ibarat melukis di tirai langit

di atas kanvas dengan warna-warni pelangi

di lekak-lekuk tubuhmu yang putih murni

kugoreskan kisah penuh gairah

Rambut panjangmu kujadikan daun palma

mata dan bibirmu hiasan cakrawala

bebukitan di dadamu gunung salju

tanganmu yang merangkum dadaku ranting mahoni

dan sumber air pegunungan di lembah suci

dengan bersungai cabang kedua kakimu

Tatkala penaku menyentuh sumbermu

lukisan sempurna berubah menjadi sejati

kehangatan yang memandikan nubari

mendidih, menggetarkan pelangi

kita pun berselubung tirai langit.

(tentang NN., 20.01.2009)


PURNAMAKU

Bulatan sempurna

ibarat purnama

direngkuh tangan naifku

kurangkul dengan puisi

kulilit dengan nada gitar

ayunanmu meliuk-liuk

sentuhan terataimu

seakan memeras seluruh nadi

hingga aku berteriak lirih

sebab gunung berapi

meronta-ronta

melepaskan isi jantungnya

aku hilang kesadaran…

(tentang NN. – Lublin, 15.02.2009)


CERITA KITA

(Buat gadis NN)

Kembang yang kemarin kukirimkan

kini melayang-layang

sembari terus menoleh

kulumat sejuta rasa di dada

dan kutuang dalam puisi di atas gitar


Kulihat kau di pucuk cemara

berteman desau angin dan cahaya purnama

kuraih..

kuraih..

senyummu masih jauh dari mataku


Duh manis, andaikan saja aku rembulan

‘kan kutaburkan sinar bening di jidatmu

dan bila saja aku lagu

‘kan kurasuki jiwamu

biar secepatnya berkhabar

tentang kembang yang kemarin belum sampai

dan tentang cerita kita yang kini belum usai….

Ledalero, 1.XII.1999


HINGGAP LAGI

Atas kuncup yang lagi mekar

kutaburkan rindu yang mengental

bertebaran rasa pada langit-langit mimpi

mengumpul

mengembang

dan mengental lagi


Kugantungkan sepi pada sayap manyar

biar diterbangkan ke alam sahayamu

hinggap lalu melayang-layang

dan menyambar cinta suci dari sukmamu

untuk dibawa pulang


Kuncup lagi mekarnya

mari kita hinggap bersama

lalu hujan kasih turun deras dari langit

menyirami kita yang terlena…

(Ledalero, Maret 1999)


DI DEPAN MATA

(buat yang dicintai)

Kau yang di depan mata

bagai tonggak

tegak, tugu ziarah

kedip-kedipkan mata cintamu

aku pun menyerbu, merangkul


Kuraih sukmamu ke dalam ceritaku

mimpi yang telah lama melayang-layang

terbang tinggi

kini merayapi jejak-jejak hari setia

kita katupkan bangkai mimpi

dan mari menjilati tapak di depan mata…

(Ledalero, April 1999)


Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: