Puisi Kehidupan Vinadi GM

WP_20151231_13_40_07_Pro[1]

LAGU MAKNA

Menimba arti dengan cangkir di tangan

pancuran ilahi di lereng gunung bakti

dengungan puji insan-insan sambil antri

sebab sumber tak kenal henti


Mengalir menyusuri bebukitan

menerpa, menggesek bebatuan

menyucikan ujung-ujung dedaunan

yang bergoyang-goyang dalam irama mantra


Muncrat ke cangkir di tangan dina ini

yang lemas menarikan soneta bagi musim dingin

kubawa buat bekal kala penat

sembari kupercikkan sepanjang hayat


Ini lagu tentang makna

kian ditimba, kian jiwa dahaga

(Lublin, 09. 12. 2008)


MADAH HUJAN

Hujan panjang merayakan malam

mengucur dari gunung abadi

berkah bertaburan menghiasi nyali


Titik-titik lagu menimpa atap

kalbu yang sepi bermekaran bunga

mengalir-alir ke tepian kisah


Hujan deras dalam gelap

o, doa dalam kelam

rahmat penumbuh sejuta impian


Hujan banjir di gunung budi

bangkitkan simfoni raya

menghangatkan khayal,

menyuburkan cipta


Wahai, hujan bagaikan kembang langit

berkata-kata dalam diam

berlagu tanpa ritma

wahai, puisi paling sempurna


Hujan turun lagi, deras mengucur

semesta menari-nari

kita bangkit gairah syahwat….

Ledalero, 11.I.1999


PESTA DI AWAL MUSIM

Bila saja kau hening

langit biru kan bicara

cerahnya hari

bangkitkan seluruh daya

Awal musim semi

harapan di depan mimpi

kelopak konvali tumbuh

dari balik ranting kering


Angin taburkan wangi dari sisa salju

yang terinjak-injak burung tropis

nyanyi merpati di atas genting

satukan segala mimpi

di muara musim ini


Ku bariskan cangkir dan piring

di belakang jendela

persiapan pesta syukuran

bersama seluruh semesta

atas musim yang telah tiba….

(Pieniezno, 16.III.2002).


TENTANG SEJARAH

Sejarah tak berulang

walau musim semi kembali

menggiring kawanan mimpi

ke tengah arena tak bertepi


Menyanyikan lagu sendu

suara tak lagi lengking

di atas tangga gitar terkapar

sebab jiwa-jiwa telah mati


Sejarah takkan pulang

walau cemara tetap tegak

menyelam ke lautan gelap

meraba-raba nasib yang tak kentara


Merajut sejarah yang tak berulang

rangkaian puisi selalu melingkar

ayah, ibu dan anak doa bersama

di atas tungku mendidih kuah mimpi

(Pieniezno – 2002)


BUAT SAUDARIKU YANG SEDANG SEDIH

Andaikan aku punya kecapi

‘kan kudendangkan lagu

biar mimpi-mimpi buruk

takkan mengusik kita lagi


Senyum dan tatapan matamu

mengukir sebuah lukisan kelabu

di dasar sanubari

seakan hujan badai di balik awan


Saudariku sayang

bila saja engkau mengerti

apa makna sebuah kepedihan

takkan kau ratapi tanpa bekas pamrih


Di wajahmu sejuta bintang

yang tegar menentang taufan

di ujung hari kau tetap tegak

menatap pancaran mentari ke depan

(17.XI.2003)


MENCARI BULAN

Kau menerawang mencari

dengan bola matamu yang sembab

entah ke manakah perginya sang bulan

sebab malam teramatlah pekat


Sejenak kamar bisu

mendengungkan deru angin

yang berpesta menjangkau cakrawala

mendidihkan alam yang sudah panas


Mata birumu yang bening

mencari-cari ke sudut langit-langit

ku berteriak semu ke hayatmu

dengan gema lagu dan dentingan gitar


Mari mencari bersama jiwa sepiku

genggamlah tanganku yang lelah

remaskan jemariku yang penuh peluh

dan bisikkan nada yang paling jernih….

(Buat adikku NN, Krakow, 06.05.2005)

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: