AGENDA – JAJAKAN HIDUP

———————————————————————————————-

Tabe Ase Ka’en! Peribahasa Polandia mengatakan, bahwa seseorang (terutama laki-laki) dinilai bukan „bagaimana dia memulai, melainkan bagaimana dia mengakhiri“ (memang konotasi erotis sedikit hehehe). Saya memulai kuliah S3 di bidang Etnomusikologi 5 tahun lalu dengan keadaan serba kurang, ketidakpastian dan keragu-raguan. Setelah lima tahun bergelut dan bertualang di dunia ilmiah, akhirnya saya dengan bangga bisa berdiri di lereng bukit dan memandang ke belakang, bahwa telah sekian panjang jalan setapak telah saya ukir. Setelah memasukkan disertasi tanggal 10 Juli 2012, saya menanti keputusan ujian tertutup, yang saya lewati tanggal 18 September 2012. Lalu pertanggungjawaban diadakan tanggal 28 September 2012 di hadapan para dosen penguji, sama saudara SVD dan Dubes RI untuk Polandia dan para undangan. Penampilan saya dalam busana daerah Manggarai menjadi pokok pembicaraan di universitas sampai dengan hari ini.

Foto ujian terbuka dalam pakaian adat Manggarai

Sekarang pemasukan lamaran kerja di mana-mana sudah sangat terlambat. Saya hanya menunggu kesempatan terbuka, karena prosedur untuk orang asing sangat komplikatif di Eropa ini. Saya berusaha memperbaiki disertasi, supaya nanti bisa dicetak dalam bentuk buku.

Tanggal 21 Oktober 2012 bersama 29 doktor baru lainnya saya diwisuda. Kami diberikan tanda lulus berupa dokumen, diplom dan cincin bertuliskan KUL (singkatan dari universitas kami). Dengannya kami diutus ke dunia untuk mewartakan kebenaran dan keagungan Tuhan. Di jurusan Etnomusikologi kami bertiga: saya dan dr. Rafael Rozmus dan dr. Kinga Strycharz-Bogacz, mendapat gelar DOKTOR ILMU HUMANIS SPESIALISASI SEJARAH-MUSIKOLOGI.

Foto setelah acara Wisuda S3

Terima kasih atas doa dan dukungan.

Lublin, 25 Oktober 2012.

—————————————————————————–

Tabe Ase Ka’en! Selamat bersua kembali, selamat Pesta Paskah, bagi semua yang Kristiani. Saya sudah melewati ujian bahasa Inggris, maksudnya ujian disertasi dalam bahasa Inggris. Saya terkenang guru-guru bahasa Inggris saya yang hebat dulu di SMP St.Klaus – Kuwu (pak Yosef Jehanus) dan di Seminari Yoh. Paulus II Labuan Bajo (P. Mike Ambong SVD) dan juga guru-guru lain yang sempat menjadi motivator dalam petualangan memperlancar bahasa Inggris saya. Hanya dengan modal „back ground“ yang kuat dan niat pribadi yang tegar, saya bisa maju untuk diuji dalam bahasa yang saya tidak pernah pelajari seperti teman-teman lainnya, yaitu di Inggris atau Amerika Serikat. 

Eropa mengalami anomali cuaca. Setelah panas (25 derajad) bulan lalu, selama Paskah turun menjadi nol derajad, dan salju pun turun. Saya Paskah di Lublin saja, sempat ke paroki di seputar biara. Kemudian saya ke ibu Irena dan esoknya ke Esti yang menikah dengan Marcin, di Lublin. Putri mereka, Veronica dan Martyna, sangat sopan dan pintar.

FC Barcelona cuma ketinggalan 4 poin saja dari Real Madrid. Kemarin mereka mengalahkan Getafe (4-0), dan Real harus menghadapi Atletico di stadion Calderon. Kalau Real kalah, berarti selisih poin akan menyusut menjadi 1. Kalau nanti hasil seri, maka selisihnya 2. Sehingga penentu juara nanti adalah Gran Derbi (21 April) di Camp Nou. Sekarang di kubu Madrid tidak ada lagi yang berseloroh: di Barcelona -10, sehingga bisa man ski di sana. Sekarang -1 saja. Jadi sudah makin, sangat hangat. Kita lihat saja.

Di Semifinal Champions League  akan berlaga 4 klub hebat: Barca-Chelsea, Real-Bayern. Mungkinkah di final akan Gran Derbi lagi? Sangat mungkin! Di Europe League juga 3 klub Sapnyol: Valencia-Atletico Madrid, Athletic Bilbao-Sporting Lisbon.

Lublin, 11.04.2012.

———————————————————————

Tabe Ase Ka’en! Eropa mulai memasuki musim semi. Salju sudah hampir menghilang. Udara semakin menghangat, walapun masih dingin juga. Selama belasan tahun menetap di Polandia, saya sudah menempuh ribuan atau malahan jutaan kilometer dengan kereta api. Sistem perkeretaan di Polandia sudah semakin membaik, memang tidak seperti di Jepang atau Perancis. Kereta-kereta meluncur dengan kecepatan kira-kira 200km/h. Setelah perombakan organisasi KA nasional, di jalur Kraków-Warszawa pun mulai beroperasi kereta Inter Regio, kereta murah (hanya 45 zlotych = 130.000 rp, sementara Intercity 100 zlotych = 500ribu rp). Kereta cukup cepat, murah, apik dan sangat bersih. Saya senang dengan kereta tersebut meskipun selalu penuh dan padat. Tetapi tanggal 3 Maret yang lalu kereta tersebut tabrakan dengan kereta Intercity, 16 orang meninggal dan puluhan lainnya luka berat. Pada hari yang sama saya kembali dari Kraków, tetapi dengan bis.

Di Rusia Putin mengaransir pemilihan presiden sehingga dia menang lagi. Rakyat sengsara dan tidak berdaya. Di Syria setiap hari ratusan orang meninggal di tangan tentara pendukung presiden. Sementara jutaan orang hidup bergelimangan emas dan kekayaan.

Saya sendiri sedang mempersiapkan ujian dalam bahasa Inggris, pada tanggal 02 April nanti. Mudah-mudahan akan berlangsung dengan aman dan sukses. Sekarang juga saya harus memulai analisa lagu-lagu pilihan untuk thesis saya. Ini adalah tugas terberat.

Barcelona meluncur tanpa ada tantangan dalam ajang Liga Champions (Messi mencetak 5 gol melawan Bayer Leverkusen), tetapi di La Liga harus berbenturan dengan Real dan para wasit. Semoga tahun depan akan lebih baik.

Tabe momang agu berkak!

Ini sweter dari alm. Ene Teres, R.I.P.

Sisa-sisa salju di dekat stasiun kereta Kraków

Stasiun metro bawah tanah – Krakow

Stasiun bis bawah tanah – Krakow

Saya di bus kecil BP Tour dari Krakow menuju Lublin

Lublin, 11 Maret 2012

———————————————————————–

Tentang seorang anak cacat di Barcelona:

———————————————————————

Eropa tetap membeku. Saya baru saja kembali dari utara Poland, Pieniezno, tempat diadakan Kapitel Provinsi SVD Polandia. Kapitel bertujuan untuk membahas segala program dan seluk-beluk yang terjadi di dalam tubuh Provinsi SVD, dan diselenggarakan setiap 3 tahun. Yang ikut dalam kapitel adalah para pembesar dari setiap komunitas SVD dan mereka yang terpilih. Saya terpilih hanya untuk menjadi calon reserve, tetapi kandidat utama, prof. Bronk tidak bisa berangkat, karena harus mengikuti sidang ilmiah. Saya pun pergi bersama p. rektor dan prof. Sylwek. Saat kami berhenti di pom-bensin, saya sempat ke toilet. Saya tidak sadar, bahwa dompet saya jatuh. Ada ibu-ibu yang menemunkannya dan memberikannya kepada pemilik pom bensin tsb. Saya kagum, masih ada begitu banyak orang jujur di atas bumi ini.

Kapitel berlangsung dengan sangat lancar. Tetapi neraka yang paling berat adalah dinginnya rumah SVD Pieniezno. Di dalam rumah kami harus memakai jaket tebal, celana panjang berlapis dan sepatu dingin yang berat pula. Bayangkan, di Lublin kami bisa bercelana pendek saja di rumah. Saya pun jatuh demam, pilek dan flu. Untung ada Teraflu, sehingga saya agak terbantu. Yang paling menyenangkan adalah makanan selama kapitel yang sangat enak: babi panggang, babi hutan, nasi masakan China dan buah-buahan yang selalu segar. Hasil sidang menjadi rahasia yang tidak boleh disebarkan kepada siapa pun.

Hari ini kami kembali. Kami sempat singgah di Lipowki, di mana dompet saya jatuh. Isinya memang hanya KTP dan dokumen-dokumen saya yang lain. Tidak ada uang. Kami sempat makan siang di restoran di samping pom bensin tsb. Selama perjalanan kepala saya bukan main sakitnya. Anehnya, setelah memasuki kamar, rasa sakit hilang. Langsung terasa hangatnya rumah SVD Lublin. Hangatnya kamar….

Panorama Utara Polandia

Di kamar pun harus mengenakan jaket tebal

Lublin, 10.02.2012

———————————————————————————————–

Tabe, Ase Ka’en! Eropa tenggelam dalam salju, suhu udara malam tadi mencapai -29 derajad Celsius. Puluhan gelandangan sudah mati beku lantaran dingin. Kereta-kereta api batal beroperasi karena rel-rel membeku. Mobil-mobil juga macet, karena mesin tidak bisa dihidupkan. Saya kemarin berjalan kaki ke universitas (2,5km), akibatnya langsung pilek. Pulangnya saya naik bis.

Saya meringkuk di kamar, menekuni transkrispsi lagu-lagu liturgis dari Dere Serani, Madah Bakti, Yubilate, SKB dan Exultate ke not balok. Ini tahap-tahap akhir dari thesis saya. Kemarin sempat juga berkonstultasi dengan dosen pembimbing, hanya sebentar saja. Beliau kurang sehat, selalu pilek.

Ini ada beberapa foto „Snow attack“:

http://wiadomosci.wp.pl/gid,14210108,title,Atak-zimy-w-Europie,galeria.html

Lublin, 31.01.2012.

———————————————————————————–

Tabe, Ase Ka’en! Akhirnya salju turun juga. Lebat bercampur angin. Udara memang menjadi agak segar, tetapi dinginnya minta ampun. Saya sudah kembali dari Warszawa dalam rangka pembukaan Asosiasi Persahabatan Polandia-Indonesia (APIP). Saya bersama Renata Lesner-Szwarc, yang pernah ikut program darmasiswa di Indonesia, menjadi protokol (MC). Kata mereka yang hadir dan Bapak Dubes, bahwa yang paling menarik dari semua acara adalah para pembawa acaranya sendiri. Saya dalam hati: macama baru tahu saja.

Renata dan saya – sebagai MC

Saya beberapa hari yang lalu menonton film WAR HORSE (Kuda Perang). Kuda yang bernama Joey dipelihara oleh seorang bocah, lalu dibeli oleh pasukan tentara Inggris untuk menjadi kuda perang melawan Jerman tahun 40-an. Kuda yang sangat pintar tersebut luput perang, dari tangan ke tangan lalu bertemu lagi dengan tuannya, sang bocah yang juga masuk wajib militer. Luar biasa, sangat mengharukan, betapa seekor binatang dapat menjadi sangat setia dan tidak akan melupakan tuannya. Saya teringat juga film HACHIKO, tentang seekor anjing di Jepang yang setiap hari menghantar dan menjemput tuannya, seorang dosen, ke stasiun kereta. Setelah tuannya meninggal kaget, Hachiko terus menunggu selama sepuluh tahun di stasiun setiap hari. Lalu mati di sana. Saya berpikit, manusia tidak akan sesetia itu, seandainya tidak ada hubungan darah. di stasiun tersebut sekarang dipajang patung sang anjing, sebagai simbol kesetiaan.

Patung Hachiko di Shibuya – Jepang, simbol kesetiaan

Leo Messi menjadi pemenang Balon d’Or lagi, ke tiga kalinya berturut-turut. Dia menyamai Michel Platini. Cruyf dan Van Basten juga meraihnya tiga kali tetapi tidak secara berturut-turut. Sementara Barca sendiri sedang loyo di La Liga. Real Madrid sudah memimpin klasemen sementara dengan selisih 5 poin. Memang baru pertengahan laga, tetapi akan sangat berat nanti kalau FCB akan timpal lagi dalam pertandingan-pertandingan mendatang. Hari Rabu besok lagi-lagi El Classico, melawan Real di Santiago Bernabeu dalam rangka Copa del Rey (Piala Raja).Siapa yang akan menang? Buat Barca, yang terpenting mencetak gol dan tak boleh kalah. Nanti dalam pertandingan di kandang (Camp Nou) akan lebih mudah. Visca el Barca!

Lublin, 17.01.2012.

————————————————–

Tabe Ase Ka’en! Musim dingin di Poland agak aneh. Salju turun baru dua kali, tapi langsung mencair. Suhu udara selalu plus, sehingga tidak terlalu bagus untuk siklus alam. Salju dan suhu minus penting untuk tumbuh-tumbuhan dan hewan, juga untuk kesehatan manusia, karena semua virus akan mati karena suhu dingin. Paradoksal, karena di Austria dan Korea Utara salju turun dengan hebatnya.

Saya sedang menggarap buku dosen STKIP Kanis T. Deki, TRADISI LISAN ORANG MANGGARAI. Lagi-lagi publikasi tentang Manggarai dan budayanya bertambah. Semoga akan muncul lagi yang berikutnya.

Hari ini saya ke KBRI warszawa, karena besok akan ada pengresmian Fundasi Kerjasama Polandia-Indonesia SAHABAT, saya akan jadi protokol dalam acara pementasan budaya dan seni.

NENEK ANDE!!!! Nama lengkapnya Andreas Alang. Lahir di Ngusu pada tahun 1938. Beliau kami panggil „kakek“ kalau ditilik menurut keturunan ibu, tetapi kalau menuruti garis ayah, seharusnya kami panggil „om“. Pendaping hidupnya, Ene Nika, adalah seorang yang pendiam, tetapi pendo’a dan penyembuh. Terkenal sebagai dokter bersalin tradisional. Nenek Ande selalu aktif dalam segala bidang: olahraga (pesepakbola handal, pemain bulu tangkis yang tetap cekatan sampai sekarang), pakar budaya (pernah mengikuti Lokakarya PML di Ruteng tahun 1997, komposer adat, penyair adat dan ensiklopedi hidup). Saya selalu kagum dan hormat pada beliau sejak kecil. Suaranya yang lantang dan tegas, logat Manus (MTim) yang kental dan kerendahan hatinya. Selama berada di Kupang, saya merekam lagu-lagu yang beliau nyanyikan, ciptaan sendiri maupun dari Dere Serani. Yang membuat saya tambah kagum adalah ceplas-ceplosnya dalam mengomentari situasi yang ada di sekitar beliau. Saat ditanyakan oleh kawula muda di gedung olahraga, apa resep dari sang kakek sehingga tetap lincah dan gagah dalam bermain badminton, beliau menjawab: NEKA MBERONG, artinya: JANGAN SELINGKUH!!! Betapa benarnya dan mendalamnya. Saya tertawa terngakak-ngakak, tetapi tetap membenari refleksi Nenek Ande. Dan orang-orang yang bertanya pun pasti membenarkan jawaban beliau….. Beliau kembali ke Ruteng, ene Nika menangis tersedu-sedu. Betapa indahnya, sekian lama bersama, tetapi tetap rindu. Kata nenek Ande, saking ingatnya akan ene Nika, beliau tidur tak nyenyak, mandi tak basah, makan tak enak……

Nenek Ande dan Ene Nika

Lublin, 12.01.2012

——————————————————-

Lagu Natal Poland dalam motif Keroncong

Tabe, ase Ka’en! Tahun baru 2012 telah hadir menyapa kita. Pasti ada banyak hal baru yang kita harapkan dari tahun ini. Natal pun telah lewat, berlalu bagaikan kilat, tak terasa. Saya merayakannya di Golkowice, di paroki SVD kami, berdua dengan pastor paroki P. Stan Lomnicki, SVD. Suasana sangat akrab, pembagian tugas untuk merayakan misa dan ibadat lain pun berjalan lancar. Saya bertamu dari rumah ke rumah, mengunjungi mantan umat Allah, saat dulu bekerja di sini sebagai pastor pembantu. Setelah selesai bertugas, saya merencanakan ke Warszawa, ternyata di sana tidak ada perayaan Tahun Baru bersama di KBRI. Maka saya pun kabur ke Lublin. Di sini hanya kami berempat, sempat minum whisky dan segera pergi tidur.

Gereja di Golkowice (Krakow)

Kota tua Krakow menjelang Natal

Tahun 2011 yang lalu bagi saya merupakan tahun yang sangat intensif. Setelah riset di Manggarai, saya pun segera menyelesaikan penulisan thesis saya, dan rampung pada saatnya. Tinggal saja sekarang mengkoreksi bersama dosen pembimbing dan menyelesaikan tranksrispi not balok. Semoga janji sang dosen pembimbing, supaya bisa selesai sampai dengan musim gugur tahun ini bisa terlaksanakan.

Saat berbincang-bincang dengan keluarga di kampung, banyak sekali cerita yang mencengangkan, di samping banyak pula berita gembira. Di sana-sini para sepupu dihamili atau juga menghamili di luar nikah. Ada yang serentak beberapa wanita dihamili oleh sepupu saya. Ada apa gerangan? Kutukan ataukah karma keluarga kami? Saya jadinya naik pitam. Seandainya saya jumpai mereka sekarang, pasti akan saya labrak dan saya pukul sampai babak-belur!!! Bukan saja memalukan, melainkan sangat tidak bertanggungjawab atas nasib para wanita tersebut dan anak-anak yang telah dan akan lahir. Tuhan, tunjukkan jalan bagi keluarga kami…. Mungkin karena BENG AGU ITE, DEDEK, NGANTIT AGU ITE, KAMPING JARI????????

Lublin, 02.01.2012.

————————————————————

Tabe, Ase Ka’en. Buku TRADISI LISAN ORANG MANGGARAI  dan GEREJA MENYAPA MANGGARAI bersama dua baju batik merah Pekalongan saya terima hari Senin (19.12.2011), yang dikirim oleh kakak saya di Kupang. Baju amat menarik dan menjadi baju favorit saya, apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru, banyak event yang akan saya hadiri. Kedua buku baru saja saya bolak-balik, mudah-mudah berguna untuk thesis saya. Adik saya dari Masohi (Maluku) datang berlibur ke kampung bersam si kecil Adrian (2,3 tahun). Mereka sempat singgah di Kupang, di rumah kakak.

Kemarin rektor rumah SVD Lublin memanggil saya untuk mengambil bab 4 thesis saya dari kamar alm. P. Antoni. Ternyata yang beliau sempat perbaiki jumlahnya 20 halaman (dari 30 hal.). Luar biasa. Sekarang saya sedang menulis korekta beliau ke komputer saya. Terima kasih, P. Antonius, semoga engkau bahagia di sisi Tuhan!

Sekarang Lublin diselimuti salju. Kata teman-teman, di daerah lain Polandia belum turun salju. Semoga akan memutih di mana-mana sampai dengan Tahun Baru. Karena menurut orang-orang di sini, Natal dan Tahun Baru tanpa salju, ibarat orang menikah tanpa baju…

Saya sedang siap untuk pergi berasistensi Natal ke Golkowice (Kraków). SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU 2012 SEMUANYA. SEMOGA TUHAN MENJADI KEKUATAN DAN PEMBIMBING SATU-SATUNYA BAGI SELURUH RENCANA DAN KARYA KITA. AMIN

Lublin, 22,12.2011.

————————————————-

Tabe, Ase Ka’en! Ulang tahun saya biasa-biasa saja, diingat hanya oleh keluarga terdekat dan sahabat-sahabat terdekat saja. Hari Minggu yang lalu saya pergi asistensi ke Kraków (Golkowice), pastor paroki meminta saya pergi berkotbah di sebuah paroki di gunung: Bęczarka. Paroki kecil, hanya 3 misa. Pastor parokinya, Stanislaw, juga sangat sederhana dan ramah-tamah. Santap siang kami masak sendiri berdua. Sepanjang hari saya ngantuk, karena nonton Gran Derbi semalam (Real Barca, 1-3), sambil minum wodka di keluarga dekat, seperti saudara kandung: Marek dan Joasia. Minggu malam saya bermalam di di rumah mereka lagi, hari Senin saya kembali ke Lublin. Diam, sepi, hening; pintu yang berhadapan dengan kamar saya tertutup rapat, kamar alm. P. Antoni. Herannya, saya tidak merasa seram sedikit pun.

Hari Selasa di gereja universitas dirayakan misa perpisahan jenasah P. Antoni. Umat dan segenap civitas academica membeludak. Isak tangis terdengar di mana-mana. Sore itu juga saya dengan rektor P. Michna, br. Romuald dan P. Tomek berangkat ke warszawa dengan mobil rumah. Di rumah SVD Warszawa kami sempat minum anggur peninggalan almarhum, yang beliau dapat dari Sinterklass. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, kami berangkat ke Pieniezno untuk mengikuti misa penguburan alm. P. Antoni. cukup semarak dan mengharukan. Setelah santap sore, saya dengan mobil pastor paroki Olsztyn segera ke paroki beliau, di mana Heri, sama saudara asal Were sudah menanti. Kami berbincang-binccang lama, sampai larut malam.

Tadi saya meninggalkan Olsztyn dengan bis senja. Sampai di Lublin jam 21.00. Sepi. Tenang. Teduh.

Lublin, 15.12.2011.

————————————————————————–

Tabe! Saya sangat terkejut pada saat santap siang hari ini, mendengar berita bahwa P. Antoni Kosc SVD, profesor hukum meninggal dunia di kamarnya. Padahal kamar kami terpisah hanya dengan lorong. Sekitar jam 10.00 pagi, saya memang mendengar dentuman di lorong, ternyata sama saudara serumah sedang mendobrak pintu kamar beliau. Dokter menyatakan bahwa beliau meninggal pada jam 4 dini hari karena serangan jantung.. Dalam usia 65 tahun, pater Antoni adalah profesor SVD dengan pangkat tertinggi. Studi masternya diselesaikan di Jepang, lalu master kedua di China. Selama beberapa tahun menjadi dosen di Nagoya University. Lalu thesis doktoratnya dibuat dalam bahasa Jerman. Titel profesornya dibuat dalam bahasa Inggris. Beliau juga mahir berbahasa Korea. Luar biasa. Kemarin siang saya sempat memberikan bab 4 thesis saya untuk beliau baca dan diperbaiki seadanya. Beliau tidak sempat menyelesaikannya, walaupun sudah dimulai. Kertas-kertas tersebut masih ada di meja beliau. P. Antoni terkenal sederhana dan terbuka. Saya selalu kagum dengan daya ingatannya yang tajam. Selalu siap menolong. R. I. P.!

Lublin, 07.12.2011.

—————————————————————–

Tabe, Ase Ka’en! Musim semi di Poland, biasanya sudah turun salju, tetapi kali ini suhu udara tetap di atas nol, yang artinya tidak ada salju. Saya bergulat dengan not-not balok, mentranskripsi lagu-lagu Misa Adat Manggarai. Tidak terlalu sulit, cuma harus teliti dan hati-hati, supaya jangan salah tekan tuts komputer. Kemarin saya harus naik pitam, karena sebuah lagu yang sudah lengkap ditranskripski, berjumlah 7 halaman A4, tiba-tiba hilang, karena saya salah tekan tuts. Saya putus asa, kamar porak-poranda dan tidak bisa konsentrasi untuk memulai dari awal. Hari ini, setelah saya sudah siap untuk memulai lagi dari awal, saya juga lupa meng-save-nya. Alhasil, setelah hampir selesai, saya salah tekan tuts lagi dan semuanya menghilang. Dalam kemarahan saya, saya menghancurkan papan tuts. Kaba mbulakn!!!!!!

Papan tuts yang hancur lebur

Besok ke Golkowice lagi, untuk asistensi. Saya sudah jenuh sebenarnya. Perjalanan pergi-pulang dengan bus memang melelahkan. Apalagi hari Senin harus ke universitas lagi. Tapi, apa daya. Life goes on…..

Lublin, 02.12.2011.

—————————————-

Tabe Ase Ka’en! Hari ini Polandia merayakan Hari Kemerdekaannya yang ke-92, mengenang pembebasan dari tangan para penguasa yang mengobrak-abrik Kerajaan Polandia waktu itu (tahun 1918). Jenderal Jozef Pilsudzki dipercayakan menata negeri yang porak poranda, sehingga terbentuklah Republik Polandia II (RP II).

Saya kecewa pada minggu ini, karena dosen pembimbing tidak sempat menyisihkan waktu untuk bertemu dengan saya. Sementara dr. Mariusz, yang membantu saya memperbaiki transkripsi not-not, sedang sakit. Untunglah, ada pekerjaan lain yang bisa diselesaikan.

Tanggal 08.11 (Selasa) saya mengikuti ujian doktoral teman kelas saya P. Marcin Piwnicki SVD di Warszawa, di bidang Teologi Spiritual. Ujian berjalan lancar, meskipun saudari-saudari beliau sempat mengalamai kecelakaan mobil sebelunya. Untung saja, tidak ada yang cedera, walaupun mobil hancur-lebur.

Besok saya siap lagi berangkat ke Golkowice (Kraków). Umat sudah menunggu. Saya melayani dengan senang hati.

Lublin, 11.11.2011.

———————————————————

Tabe, Ase Ka’en!

Gereja Katolik Polandia merayakan kedua pesta Gereja Para Kudus dan Peringatan Para Arwah seakan secara terbalik atau juga sekalian. Hari ini, 01 November, sebagai Pesta Para Kudus menjadi puncak dari kedua DWI-PESTA itu. Umumnya 1 November menjadi hari „mengunjungi kubur keluarga dan kerabat“, sehingga sejak kemarin arus mudik menjadi sangat deras. Kubur-kubur dibersihkan, dihiasi dengan bebungaan segar serta dipasangi lilin dan lampu kubur (zniczki). Malam hari pemandangan di pekuburan akan sangat indah, kelap-kelip lampu kubur dan warna bunga-bunga menjdai sangat romantik. Ya, dwipesta ini adalah nostalgik dan romantik. Besok orang Polandia umumnya kembali kerja, tidak ada liburan, sehingga sejak dahulu, cuma tanggal 1 November yang dirayakan. Di gereja-gereja akan ada misa dan perayaan kudus besok (2 November), tetapi orang-rang beriman akan datang pada misa malam hari atau pagi hari (sebelum atau sesudah kerja).

Menarik, kenaangan akan kerabat-kenalan yang telah mati masih dan akan sangat kuat dalam tradisi kehidupan orang Polandia. Pekuburan mereka dihias dengan sangat apik, seakan taman kota. Pekuburan selalu mempunyai pegawai khusus dan selalu pasti penuh pengunjung. Tetapi ironisnya: selama mudik Dwi-pesta ini, selalu saja ribuan orang meninggal dalam kecelakaan-kecelakaan di jalan-jalan. Terlalu banyak juga yang mengendarai mobil dalam keadaan mabuk atau juga dengan kecepatan terlalu tinggi. Mereka akan dikenangkan pada Dwi-pesta tahun depan…..

Lublin, 01.11.2011

—————————————–

Tabe, Ase Ka’en! Udara makin dingin, meskipun beberapa hari terakhir ini suhu agak menghangat. Saya bergulat dengan thesis dan perjalanan pergi-pulang Lublin-Kraków. Tetapi menarik, karena saya bertemu kenalan-kenalan lama, orang tua angkat dan mantan murid-murid.

Kemarin saya bawa laptop tua saya ke service untuk diperbaiki, ternyata tidak bisa ditolong lagi. Saya terpaksa menukar-tambah, saya harus bayar hampir 2 juta rupiah. Untuk ukuran Eropa memang tidak banyak, tetapi untuk mahasiswa seperti saya, cukup mahal. Tetapi beruntung, karena laptop bekas yang baru cukup memuaskan.

Baru-baru ini om Fani Pandang meninggal, dia adalah paman kami. Usianya baru 53 tahun, jarang sakit, tidak pernah marah, selalu tersenyum. Semoga Tuhan menerima arwah beliau di sisi-Nya.

Lublin, 28.10.2011

———————————————-

Tabe Ase Ka’en! Lama saya tidak muncul di sini. Selain karena kesibukan akademis, juga karena hal-hal lain yang harus diselesaikan. Tanggal 25 September kemarin, saya ke Białystok, ke utara timur Polandia, untuk menghadiri tabhisan diakon dari Fr. Vincent Taji, asal Lait (Waelengga). Acara cukup menarik, di gedung gereja yang belum rampung, sehingga sangat simbolis bagi umat.

Kemudian, setiap akhir pekan saya ke Krakow, tepatnya ke tempat kerja saya dahulu (Golkowice) untuk asistensi hari Sabtu-Minggu. Lublin-Krakow jaraknya 500-an km, dengan bis 4 jam, tetapi sekarang agak dingin dan banyak perbaikan jalan (menjelang Euro 2012), sehingga kadang-kadang jam perjalanan diperpanjang. Setelah misa Minggu (4 misa) saya langsung kembali ke Lublin, karena hari Senin harus bergulat lagi dengan perbaikan thesis bersama promotor.

Polandia baru saja selesai pmilu legislatif. Yang menang adalah partai kanan liberal (PO), urutan kedua diraih partai kanan konservatif (PiS), sedangkan urutan ketiga dicapai oleh Gerakan Palikot. Adapun Palikot adalah dahulu seorang Katolik (mungkin saja masih Katolik) dan sempat kuliah di universitas Katolik Lublin. Beliau adalah seorang milioner, sehingga dengan mudah mengagitasi para celebriti dan orang-orang kontroversial, seperti para anti-Gereja, anti-agama, pendukung aborsi dan eutanasia, pendukung legalisasi narkoti ringan. Kelihatanlah sekarang, berkat si Palikot, betapa tendensi sekelompok orang Polandia sangat besar untuk menghapus tradisi, tuntutan moral dan menjadikan Polandia negara tak berlandasan moral, bebas seperti Belanda dll. Tetapi gerakan mereka tidak diajak untuk bekerjasama oleh parti penguasa. Puji Tuhan!

Saya agak pilek dan flu, tetapi harus tetap tegar, karena banyak tugas dan harus ke paroki di Kraków. Saya tidak boleh sakit.  Saya harus kuat!!!

Lublin, 13. 10. 2011.

—————————-

Tabe Ase Ka’en! Missa Flores pun sukses, kali ini tidak ada halangan yang berarti, walaupun rasa capai tetap menjadi momok. Untunglah repertuar kami sudah siap umumnya, sehingga pada minggu terakhir sebelum misa kami hanya memolesnya. Sebelum Missa Flores, kami mengikuti festival musik klasik berjudul MOZARTIANA. Anak-anak sanggar berperan sebagai wakil-wakil kebudayaan klasik pada saat pemusik Mozart hidup. Kami semua berpakaiankan a la masa barok. Saya berperan sebagai Pangeran del Karaibo, sebagai pembawa acara dan penghidup suasana saat pementasan tari-tarian klasik dan undi-undian untuk anak-anak di Oliwa Park.

Marta dan tarian Sulintang saat Missa Flores (di atas)

Setelah Missa Flores, hari Senin (29.08.2011), bersama suster Fronsi dan Yosefin, Sawa dan bapa Yosef, kami bertamasya dengan ferry dari Gdańsk ke Hel. Hari yang indah, walaupun saya sempat mabuk laut.


Hari Selasa sore saya sempat memberkati rumah dari sebuah keluarga (ibu Grazyna) di Gdynia. Suasana sangat akrab. Esok harinya saya dengan kereta pagi Inter Regio berangkat menuju Lublin.

Di kereta saya ditemani seorang anak muda yang baru saja keluar dari penjara setelah 5 tahun meringkuk. Dia penuh entusiasme, benar-benar menikmati kebebasan, cuma lupa mengurus surat-surat supaya bisa naik kereta tanpa bayar. Karena kasihan dengan kondisinya, saya pun mebayar tiket untuk si Sebastian. Dia sangat rindu ibu dan saudarinya. Dia dipenjarakan karena memukul polisi. Di tangannya ada tatoo: AMORE DE MADRE, yang berarti: CINTAILAH IBUMU! Saya menasihati: kalau mau mencinati ibumu, dengarlah nasihat beliau…!!

Lublin, 02.09.2011 

——————————————————-

Tabe, Ase Ka’en! Saya sudah di pantai Baltik, bergulat dengan sanggar dalam rangka mempersiapkan Missa Flores edisi 2011 nanti. Anak-anak menanti dengan senyum, polos dan penuh kerinduan. Sebelum ke Gdansk saya sempat memberikan sakrament pernikahan di Kraków, di paroki Golkowice untuk Angelika dan Pawel. Saya menginap di orang tua angkat. Sebelum ke Krakow saya singgah di Falecin Stary, sebuah kampung kelahiran istri Fred, Ela. Kami memetik mentimun, bermain-main, makan dan minum sepuasnya di sana.

Cuaca hari-hari terakhir sangat indah. Banyak turis dan wisatawan lokal di pantai Baltik, yang letaknya hanya 70 meter dari rumah tempat saya menginap. Tadi pagi-pagi sekali Esti sekeluarga datang bertemu saya dan keluarga ibu Jadwiga. Kami sempat sarapan bersama. Mereka baru pulang dari Swedia dengan kapal feri wisatawan.

Saya sedang memetik mentimun.

Di dalam kereta api ke Gdańsk.

Gdańsk, 06.08.2011.

———————————————————

Tabe Ase Ka’en! Setelah panas terik selama dua hari, Lublin mendung lagi. Hujan angin dan banjir melanda beberapa daerah Eropa Tengah. Rusia sudah membuka kembali jalan dagang dengan Polandia setelah mengembargo impor sayur-sayuran dan buah dari Poland dan beberapa negara lain, karena diduga mengandung virus. 

Hari Sabtu (16 Juli) saya diajak mbak Esti sekeluarga ke rumah peristirahatan mereka di dekat sebuah danau. Indah sekali di sana, sunyi dan hening. Kami bakar-bakar daging sambil minum vodka dan bir. Suasana sangat kekeluargaan dengan suami (Marcin) dan anak-anak Veronica dan Martyna. 


Marcin, Veronica dan saya menanti daging yang sedang dipanggang.

Keesokan harinya (Minggu, 17 Juli), kami, masyarakat Indonesia yang tinggal di sekitar Lublin diundang Bapak Dubes dan Ibu untuk makan siang bersama. Esti sekeluarga, Novita bersama suami dan saya (sendiri, bersama Roh Kudus). Suasana sangat simpatik. Saya memesan belut untuk santap siang (satu ekor untuk saya sendiri), dan harganya mahal sekali ternyata. Mereka yang lain memesan yang murah-murah saja. 

Selama seminggu saya bertemu dosen pembimbing beberapa kali. Perbaikan bab 1 sudah hampir rampung. Berarti rencananya bab 2 nanti diteruskan bulan September, karena Agustus agak sulit bagi saya dan juga bagi prof. Antoni Zoła. HP saya macet, untung ada hp tua, jadi masih bisa sms-smsan, tidak bisa menelepon. Kaba mbulak ngua’n!!!!! Perbaikan hp sangat mahal.

Lublin, 23.07.2011.

—————————————————

Tabe Ase Ka’en! SIM mobil saya sudah berusia 5 tahun. Tetapi, begitulah nasib anak sekolah, saya jarang mengemudi. Saya hanya mengandalkan bis kota, kereta dan sepeda. Akhirnya saya berniat untuk kembali membiasakan diri mengemudi. Maka saya meminta teman bruder untuk memberikan mobil untuk sekedar mengingat-ingat kembali seluk-beluk menjadi seorang sopir mobil. Iya, ternyata masih banyak yang diingat. Kemarin bersama beliau saya ke sebuah kota namanya Nałęczów (baca: Nauencuf), di sana ada kolam renang dan sauna. Jaraknya 30km dari Lublin. Saya yang mengendarai mobil, biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa, cuma cuaca yang sangat gerah dan panas. Setelah kami keluar dari ruangan Spa, sekeliling kami basah, sepertinya huran baru saja berhenti turun. Ternyata ada hujan angin yang sangat kencang selama sejam, dan di bagian utara dan tengah Polandia meluluhlantakkan rumah-rumah, tiang listrik dan pohon-pohon tumbang. Begitu dahsyat kekuatan alam! Kerugian sangat besar, jutaan Euro. Lalu refleksi kecil saya: siapakah anak manusia di hadapan alam dan Penciptanya? Ada kata-kata orang tua di Manggarai yang berbunyi: Iling nili de Mori Jari, rantang posa lako kolang, kong tadang darap tana (berteduhlah di bawah bayangan Tuhan, supaya kamu tidak letih saat berjalan dan dijauhkan dari terik matahari; sebuah ajakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan).

 

Akibat dari hujan angin di utara Polandia, Kamis, 14.07.2011

Lublin, 15 Juli 2011

——————————

Tabe Ase Ka’en! Sejak beberapa hari ini Poland kembali panas. Dan Eropa betul-betul panas. Dalam segala bidang. Setelah Yunani, sekarang Portugal terancam bangkrut. Tiba-tiba Italia juga ternyata siap ambruk ekonomis, menyusul Irlandia. Banyak isu tentang dihapusnya mata uang Euro, karena ekonomi negara-negara Eropa umumnya agak surut. Polandia memulai masa presidensial Uni Eropa untuk setengah tahun mendatang. Tantangannya sangat berat. Di Laut Wolga di Rusia kapal „Bulgaria“ tenggelam dan menelan korban 120 orang, di antaranya anak-anak (50 orang) yang sedang bermain di ruangan bermain khusus untuk anak-anak di kapal pesiar tersebut. Di Somalia musim kering terpanjang semenjak 60 tahun. Banyak yang meninggal akibat kekurangan gizi dan air, sementara orang-orang kaya di belahan dunia lain sibuk mempersoalkan apakah kucing dan anjing mereka sudah dibelikan sabun dan parfum yang cocok.

Seorang anak Somalia yang menanti bantuan dan siap menerima kenyataan maut.

Saya bertemu dosen pembimbing beberapa kali dalam seminggu, memperbaiki thesis saya, kalimat demi kalimat. Dari kampung banyak berita, yang menyenangkan, maupun yang membuat hati gerah. Begitulah hidup. Kata orang Perancis „C’est la vie“, kata orang Poland „takie jest życie“. Itu kadang-kadang yang membuat saya mengerti, mengapa orang-orang Eropa kurang senang „kumpul keluarga“. Karena memang kadang-kadang yang membuat kita jatuh adalah orang-orang dari keluarga sendiri (duri de Kuni, karot de Kalo). Di manakah: teu sa ambo, muku sa puun dll?


Ini bingkisan lain, sekedar mengenang kampung halaman.   

Saya ditelepon ibu Jadwiga, bahwa tahun ini ternyata sudah direncanakan Missa Flores, tanggal 28 Agustus. Iya, terpaksa saya setuju, bukan demi nama pribadi saya, tetapi demi keagungan nama Tuhan. Demi pengembangan bakat anak-anak juga. Sehingga bulan Agustus saya reservasikan untuk mengurus persiapan Missa Flores. Saya akan berusaha menyederhanakan tari-tarian dan musik, karena waktu yang sangat minim.  Apalagi banyak anggota sanggar yang baru.

Lublin, 14 Juli 2011.

——————————————-

Tabe Ase Ka’en! Poland mendung sejak lebih dari dua minggu terakhir. Cuaca seperti musim gugur di bulan September. Kadang hujan turun, kadang hanya mendung, dan cukup dingin. Orang-orang yang siap berlibur ke pantai sangat kecewa, karena harus batalkan rencana mereka. Liburan pun dibuat di rumah. Saya di rumah saja (Lublin). Sedikit-sedikit memoles thesis, membaca buku dan memperdalam „English listening“ saya. Yaahh, internet menyuguhkan begitu banyak kemungkinan gratis untuk bisa mengembangkan ilmu dan pengetahuan, pun secara privat.

Ini saya bingkiskan kenangan liburan tahun lalu. 



Lublin, 05.07.2011.


————————————-

Tabe Ase Ka’en! Eropa terengah-engah karena Yunani yang semakin terancam bangkrut. Polandia sebentar lagi (sejak 01 Juli) mengambil alih presidensial Uni Eropa dan harus berjuang membantu Yunani, kalai mau supaya imbasnya tidak akan menyebar ke seluruh Uni Eropa. Cuaca sangat ambivalen, tidak jelas. Sebentar-sebentar panasnya bukan main dan daam sekejap berubah menjadi pengap dan berawan, lalu turun hujan, untuk kemudian panas lagi. 

Saya baru saja pulang dari utara Polandia. Ada sidang para agen ilmiah (dosen-dosen dan mahasiswa-mahasiswa S3 SVD Polandia) di Seminari Tinggi Pieniężno. Sidang tidak membuahkan satu kesepakatan konkret pun, saya menyesal harus datang. Bis Radex yang saya tumpangi dari Warszawa ke Olsztyn bannya meledak dan kami pun harus ganti bis. Perjalanan saya diperpanjang 3 jam, untung saja tidak basah karena hujan. 

 Bus Radex dan para penumpang setelah ban pecah.

Setelah pertemuan hari Sabtu (25 Juni 2011) dengan mobil Provinsial, saya ke Górna Grupa untuk ikut kaul kekal tiga bruder (Gregor, Symon dan Piotr). Saya sempat bertemu dua mantan misionaris Indonesia yang seudah agak pikun (Pater Kozłowski dan Zenon). Kozłowski masih segar pikirannya dan masih senang bergurau, meskipun jalannya agak tersendat-sendat. Sedangkan Pater Zenon (pelopor misi SVD Sumba) sudah sangat pikun, tetapi masih senang bertanya-tanya: apa kabar Bloch (teman sekelasnya, di Nenuk sekarang), apa kabar Kupang, untuk apa janggut kamu, kamu dari mana dll, yang diulang-ulang sampai puluhan kali. Memang rumah jompo SVD sangat bagus untuk para kakek tersebut. Hari Senin saya pun kembali ke Lublin bersama br. Romuald, Yosef teman imam, dan seorang dari para tamu kaul kekal bruder (Ewa). 

Lublin, 28.06.2011.

——————————————————

Tabe, Aseka’en! Kuliah S3 saya selesai hari ini, dengan ujian Etnomusikologi. Tersisa ujian bahasa asing (Inggris) dan ujian thesis. Rencananya awal tahun depan (musim semi 2012). Ini tidak berarti bahwa saya sudah bisa berlibur. Sayang, kali ini saya harus di rumah,harus selesaikan transkripsi musik Manggarai dan rekaman-rekaman ke dalam not balok.  

Hari ini kak Sin Modo (kak Mama Ika) dari BTN mengagetkan saya dengan acces internet ke blog ini. Luar biasa! Dunia menjadi semakin kecil. Yang jauh menjadi semakin dekat, meskipun ada resiko, bahwa yang dekat menjadi semakin jauh. Tetapi yang ini tidak akan terjadi di komunitas-komunitas kekeluargaan Indonesia. Alasannya adalah, karena ikatan familiaris di grup-grup elementaris  di sana masih sangat kuat. Naring Morin!

Ini khusus untuk Kak Mama Ika, foto semasa di Seminari Labuan Bajo dahulu.


Lublin, 20.06.2012.

————————————— 

Tabe Ase Ka’en! Eropa sangat panas, padahal menurut kalender sekarang adalah musim semi. Apakah yang akan terjadi kalau tiba musim panas nanti? TEtapi anehnya di daerah lain benua ini, turun hujan dan badai, sehingga banyak korban banjir seperti di daerah dekat ibukota Slowakia, Bratislav.

Saya dikunjungi saudari suster Eusebia yang bekerja di Irkutsk (Rusia). Sekalian menanti visanya, beliau belajar bermain organ di tempat saya di Lublin selama seminggu (sd. Selasa, 31 Mei 2011). Lalu kami ke Chludowo dekat Poznan. Kemudian saya bersama Provinsial ke Sankt Augustin (Jerman) untuk mengikuti pertemuan SVD dalam rangka menyambut tahun ke 20 datangnya para misionaris non-Eropa ke Eropa. Pertemuan sangat melelahkan, tetapi asyik dan menarik. Kami kembali tanggal 6 Juni 2011 ke Poland.

FC Barcelona lagi-lagi menang Champions League. Di partai final di Wembley, para artis Pep Guardiola mengalahkan Manchester United, sekalian mengokohkan posisi mereka sebagi klub terhebat dan terkuat di Eropa. Gol trio MVP akhirnya menjadi penghias keindahan gaya bermain Barca. Sebuah majalah asing melukiskan sbb: „mereka menari-nari seperti kupu-kupu dan tiba-tiba  menyengat seperti lebah…“. Visca el Barca!

Jerman (Eropa Barat) sering dikonotasikan dengan kemerosotan moral dan filosofi Haegel  „God is dead“. Tetapi kesan saya agak lain setelah beberapa hari berada di sana. Daerah Koeln, sebagai pusat kekatolikan Jerman, mungkin memang harus tampil lain. Kami sempat mengikuti perayaan misa kudus di sebuah gereja (St. Martin), yang diadaptasi oleh para biarawan/wati Jerusalem. Doa-doa dan lagu-lagu gaya Bizantium sebelum misa betul mentransformasi posisi manusia ke dunia alienasi spirituil, jauh dari kebisingan kota Koeln. Dan dalam alienasi tersebut, manusia semakin melayang-layang dan pasrah pada kehendak Sang Khalik. Kesan yang sangat luar biasa! Dan umat di gereja cukup banyak setiap kali misa. 

Lublin, 08.06.2011.

——————————————————————

Tabe. Eropa panas, sementara di kampung hujan terus. Jalan raya yang memang tidak beraspal lagi menjadi semakin berlumpur, seperti sawah. Kasihan negeriku. Kasihan Indonesia Luar yang selalu terlupakan. Tambahan lagi prosentase kelulusan sekolah-sekolah di NTT adalah yang terendah. 

Konsep Indonesia Dalam dan Indonesia Luar adalah ide dari Clifford Geertz (1963). Indonesia Dalam adalah daerah-daerah maju (Jawa dan Bali), sedangkan selain itu adalah Indonesia Luar, dengan budaya berladangnya dan kesulitan ekosistemnya. Meskipun klasifikasi Geertz ini terlalu menyederhanakan fakta, sampai hari ini masih aktual. Sumatera sudah pelan-pelan mengambil tempat di dalam kelompok Indonesia Dalam. Sedangkan daerah lainnya (terutama NTT) tetap terpuruk dan malah makin menjauh dari kelompok elit, semakin terpuruk dalam „ke-Luar-annya“. Masyarakatnya teralienasi, terlupakan, dianggap sebagai anggota nomor 2. Tambahan pula pendidikannya sangat bermutu rendah, lulusannya tidak berbobot. 

Saya baru saja lulus ujian universum filsafat minggu kemarin (Kamis, 12.05.2011). Saya ditanyai tentang „keindahan“. Menurut St. Thomas Quinas, i) Pulchrum est quod visum placet (indah apa yang tampak oleh mata-definisi subyektif) dan ii) pulchrum est cuius ipsa prehensio placet (indahlah apa yang pada dasarnya indah berdasarkan indra intelektual – objektif). Seni-seni kontemporer sering mengabaikan yang subyektif, tanpa memikirkan batas-batas moral dan perasaan dari para pemakai dan pengagum potensialnya. Kasihan!

Anak merpati tinggal seekor, seekornya mati terinjak induknya. Mungkin Hukum Rimba? 

Lublin, 20.05.2011.

————————————

Tabe. Begitu lama saya tidak muncul. Banyak kejadian dan kegiatan yang digeluti. Mulai dari Paskah, sampai dengan kegatan ilmiah (seminar, menulis artikel, dll). Dunia sedang digempari dengan berita-berita hebat. Mulai dari beatifikasi Bapa Suci John Paul II, pernikahan Pangeran William dan KAte Middleton, sampai dengan berita tewasnya teroris ulung Osama Bin Laden dari tangan serdadu USA. Dunia diliputi rasa yang bercampur baur, sedangkan kepala saya pecah karena harus menghafal puluhan tese panjang menyongosng ujian filsafat untuk S3 minggu depan. Mudah-mudahan sukses. 

Paskah saya lewati di Lublin dan kemudian di Zawichost, bersama keluarga Wiśniewski, keluarga kenalan akrab saya. Setelahnya saya ke orang tuanya Ela, istri dari Fred teman saya dari Wien. Suasana kekeluargaan dan keakraban sangat terasa. Setelahnya saya pulang ke Lublin untuk bergumul dengan script filsafat yang sedang menunggu. Transkripsi not saya kesampingkan dulu.

FC Barcelona lolos lagi ke final Champions League setelah menyingkirkan musuh bebuyutan Real Madrid. DAlam jangka waktu 18 hari, FCB dan Real bertemu 4 kali. Di La Liga mereka bertanding dengan hasil seri (1-1) berkat gol Messi dan CR7. Setelah itu di final Copa del Rey, Real menang setelah gol CR7 di perpanjangan waktu. Kemudian leg pertama semifinal Liga Champions di Santiago Bernabeu, Real tunduk 0-2 atas gol-gol berlian sang dewa Lionel „si kutu atom“ Messi (La Pulga). Pertandingan tersebut yang menjadi buah bibir dan objek analisa sampai dengan hari ini. Mengapa Pepe dikelurkan wasit setelah faul dengn kaki lurus ke arah Dani Alves? Mengapa wasit dan UEFA mendukung FCB, sedangan Real selalu dipersalahkan? Mengapa para pemain FCB sangat beroverakting dengan berpura-pura jatuh meskipun hanya disentuh sedikit saja oleh lawan? „Porque ?“ demikian pertanyaan sinis dari sang „football killer“ Jose Mourinho. Beliau menghembuskan roh pembunuh (the killing spirit) ke setiap pemain di klub mana saja dia melatih. Spirit tidak menghargai lawan, spirit tidak rela mengaku kalah, spirit memecahbelah…. Seandainya misi beliau adalah menghancurkan keselarasan dan mental juara dari para pemain kesebelasan nasional Spanyol, maka dia berhasil. Para kampiun dari Real dan Barca tidak akan mampu bersatu lagi, tidak akan ada keharmonisan intern lagi, yang sangat dibutuhkan untuk meraih juara sebagai timnas. Del Bosque cemas, para pemain sendiri cemas. Tetapi Mourinho bertepuk tangan. Berarti timnas Portugal akan ada peluang untuk menghajar Spanyol. Logis, bukan?

Di belakang kamar saya ada seekor merpati liar membuat sarang dan sedang mengeram dua buttir telurnya. Apakah ini tanda akan adanya perdamaian di dunia, di rumah ini, di hati saya? Semoga saja demikian. 

Salam sukses untuk semua.

Lublin, 04.05.2011.

——————————————————————————————————————————————————————

Tabe. Dunia tertegun, karena Mesir rusuh. Apa yang dicari oleh sang Mubarak yang dipaksa untuk turun tahta? Baru saja Tunisia menggulingkan presiden-koruptornya, sekarang Mesir juga mau terlepas dari cengkraman cakar-cakar sadis sang presiden. Wartawan-wartawan ditahan, diinternir dan diinterogasi. Tahrir Square menjadi saksi pertumpahan darah rakyat jelata yang mengemis kebebasan dan harga diri.

Beberapa waktu lalu saya menonton film di ekino.pl berjudul „Marcelino Pan y Vino“ (Marcelino Roti dan Anggur). Film dari tahun 1955, tentang seorang bocah yang dibesarkan di biara Fransiskan oleh para biarawan. Sangat mengesankan lakon si Marcelino kecil, dialognya dengan Manuel yang tidak pernah dilihatnya, tetapi dianggapnya ada dan bermain bersama dia. Juga dialog dan kedekatannya dengan Yesus yang tergantung di salib tua di loteng biara. Yesus memakan roti dan anggur yang diberikan oleh Marcelino kecil dan berjanji supaya Marcelino bisa bertemu dengan ibunya. Marcelino setuju, tetapi harus tidur, dalam arti meninggal, karena ibunya ada di surga. Biarawan Fransiskanes terkejut dan sangat merasa kehilangan si bocah suci. Marcelino pun dianggap suci. Luar biasa. Film hitam putih, tetapi betapa mengharukan!

Bab 1 dan 2 disertasi saya sudah diserahkan kepada dosen pembimbing, supaya diperiksa dan diverifikasi. Sekarang tinggal memasukkan bab 3 dan 4. Kerja saya sekarang adalah mentraskripsi lagu-lagu dan musik Manggarai serta musik liturgis ke dalam not balok.

Hari ini Provinsial dan wakilnya datang dalam rangka visitasi. Mereka menanyakan rencana saya setelah selesai doktorat. Banyak rencana memang, tetapi tidak satu pun yang benar-benar konkret. Yang terpenting adalah sekarang menyelesaikan disertasi dengan baik.

Lublin, 04.02,2011.

————————————-

Tabe. Salju mulai mencair, jalanan menjadi licin karena ditutupi es. Banjir di mana-mana. Saya bertugas mingguan di kapel rumah, jadi bangun pagi-pagi untuk misa harian. Bahu dan lengan agak sakit, lantaran „workout“ yang selama ini terlantar diperbaharui kembali. Demi kesehatan dan „frame of mind“.

Leo Messi memenangi Balon d’Or, menjadi pesepakbola terbaik dunia untuk kedua kalinya berturut-turut. Pesepakbola terbaik wanita adalah Marta dari Brasil. Pelatih terbaik adalah Jose Mourinho. Banyak suara negatif terhadap terpilihnya Leo. Beliau gagal bersama tim Tango Argentina di Mundial of south Africa, gagal bersama FC Barcelona di Champions League. Suara terbanyak memihak Xavi Hernandes maupun Andres Iniesta (keduanya Spanyol dan FC Barcelona). Keduanya adalah jawara dunia Mundial 2010 dan jendral lapangan tengah klub Barca. Tetapi malahan Mourinho sendiri mendukung pemilihan Messi: Dia adalah pemain dari planet lain. Legenda Barcy Johan Cruyf menilai Leo: Tanpa dia Barca kehilangan „seni“. Felietonist Polandia Dariusz Wolowski menggambarkan pemilihan tersebut: Demi seorang „dewa“ Messi, semua peraturan lain terpaksa dirubah. Dia adalah di atas segala regulamin pemilihan. Felietonist Polandia lain Rafal Stec berkomentar: Messi melambung semaikn tinggi, keagungan Maradona semakin terancam, karena gayanya semakin membuat daya nalar kita terkesan sangat miskin. Messi adalah terbaik di planet ini. Lalu teman seklubnya, bek Brasil Dani Alves berujar: Messi seperti pemain harpa, sentuhan kakinya bagaikan jari-jari lentik di atas senar-senar harpa, yang membuat semua orang disekelilingnya ikut menari dan tenggelam dalam musik paling indah. Kemudian Xavi dan Iniesta kompak membenarkan pemilihan Leo sebagai pemenang Balon d’Or: Dialah yang terbaik di dunia.

Lublin, 11.01.2010

————————————————

Tabe. Selamat Natal (masih oktaf = 8 hari) dan Tahun Baru 2011. Saya mendapatkan banyak ucapan selamat dari kenalan dan kerabat, dalam berbagai bahasa (Malahan sudah beberapa kali ada dalam bahsa Manggarai, luar biasa!!). Ada yang panjang, ada yang puitis, ada yang reflektif-teologis, eskatologis, optimis dan juga malahan ada yang pesimis (misalnya: semoga  esok -2011- tidak sejelek kemarin, tetapi tidak mungkin demikian…dst.). Tetapi yang paling membuat saya terkesan adalah ucapan dari seorang suster Cecylia, African White Missionary. Beliau menulis hanya satu kalimat: „Bądź darem, Vincent!“, yang artinya: Vincent, jadilah berkat, rahmat, kebaikan, pemberian Tuhan… Sulit menerjemahkan kata „dar“ ke dalam bahasa Indonesia. Lebih mudah rasanya menemukan artinya dalam bahasa Manggarai, yaitu „widang“. Lengkapnya akan berbunyi demikian: „Vincent, nahe ciri nah widang de Morin hau“.

Bagaimana pun juga, ucapan selamat sr. Cecylia berisi pengharapan, supaya setiap orang menjadi „pemberian Tuhan“ bagi orang lain, menjadi tangan Dia yang terlahir jauh di Betlehem, supaya „rahmat dan berkat“-Nya terasa sampai ke dunia kita, hic et nunc!

Televisi Polandia (TVP 1) mengorganisir kuis sms tentang kejadian yang paling besar untuk orang Poland selama dekade terakhir (2000-2010). Di antara kejadian tersebut antara lain adalah: wafatnya Sri Paus John Paul II, kecelakaan pesawat presiden dan stafnya di Smolensk, masuknya Poland ke stref Uni Eropa, menangnya Poland- Ukraina dalam kontes organisator Euro UEFA Cup 2012, dll. Semua kejadian tersebut sama „besar“ dan „penting“-nya, tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Sedikit menoleh ke 10 tahun yang lewat, perasaan saya bercampur-baur. 10 tahun di Poland, sejak masa frater, belajar bahasa sulit, kuliah teologi, kerja di Golkowice-Kraków, sekolah musik orgel selama 1,5 tahun, lalu kuliah S3 Etnomusikologi yang sedang berlangsung. Ada „jatuh“-nya, ada juga „bangun“-nya.

Untuk tahun 2011 saya sangat berharap supaya S3 berhasil dengan baik. Supaya terbuka banyak jalan dan kemungkinan untuk mengabdi sesama, memajukan misi cinta kasih Tuhan dan mimpi-mimpi anak negeri.

Karena hidup ini harus penuh dengan mimpi. Seperti blog saya ini, sebagai MIMPI ANAK MANGGARAI. Selamat sukses selalu!!!

KUDUT TITONG KOE TINGO, TORONG MOLOR, PALONG LAKO. NAHE NEKA TINANG IMAR, NEKA RETANG REPANG…….

Lublin, 01.10.2011

————————————–

Tabe. Musim dingin tidak mengenal ampun. Musim ini memang adalah musimnya orang kaya. Betapa tidak, segala sesuatu harus dibayar. Rasa hangat pun harus dibayar. Demikian jugamenurut mereka, musim panas dan pasir di pantai adalah milik orang-orang kaya. Kesimpulannya ialah bahwa mereka kaya dan kita di Indonesia juga kaya.

Saya baru saja menyelesaikan pembuatan tabel lagu-lagu dari Dere Serani, Yubilate, Madah Bakti dan Sykur Kepada Bapa, menurut kalender liturgis dan menurut kebutuhan atau penggunaannya. Tabel-tabel tersebut memenuhi hampir 40 halaman disertasi saya. Begitu banyak lagu yang tidak dipergunakan di gereja-gereja kita, padahal lagu-lagu tersebut begitu indah dan menarik, serta mudah dinyanyikan. Di mana-mana beredar lagu-lagu „liturgis“ baru di gereja-gereja kita di Indonesia, yang dipakai lantaran „enak didengar“ (mecik – bhs Manggarai). Lagu-lagu tersebut tidak diseleksi, baik melodinya maupun isi teologisnya. Ironisnya, kerja keras dan intensi luhur PML di Yogya sepertinya mulai diredam oleh beberapa pihak. „Quo vadis, musik liturgi Indonesia?“, itu saja pertanyaan dalam benak yang muncul. Pertanyaan yang menyakitkan.

Kemarin saya misa malam di Susteran Misionaris Putih (White Missionaries) bersama sekelompok anak muda anggota Missioner Voluntary. Menarik dan ramai. Kemudian kami lanjutkan dengan Vigil supper bersama, sebuah tradisi Natal Polandia.

Lublin, 15.12.2010

——————————————–

Tabe. Menurut prakiraan cuaca, pada hari-hari mendatang akan ada kenaikan suhu udara, sampai +3 malah. Tetapi itu tidaklah hangat memang, malah mendatangkan banyak bencana bagi masyarat. Yang paling berbahaya adalah bongkahan-bongkahan es dari atap-atp gedung dan rumah-rumah, yang bisa sampai 800kg beratnya. Untung saja ada perusahaan khusus yang menangani itu.

Saya di kamar, memilah-milah lagu-lagu di buku-buku lagu Dere Serani, Yubilate, SKB dan Mudah Bakti, menurut kalender liturgis. Pekerjaan buat para „semut“, sangat detail dan cepat melelahkan dan membosankan.

Lublin, 05.12.2010.

—————————————

Tabe. Musim dingin menerjang dan meluluhlantakkan peradaban Eropa, yang dikagum-kagumi dunia. Sudah ratusan orang meninggal dunia karena kebekuan. Pipa-pipa gas membeku membuat puluhan apartemen meledak dan terbakar. Jalanan macet, kereta api, pesawat udara, mobil dan kapal laut terseok-seok menghadapi badai salju.

Saya di kamar, bersama buku-buku, disertasi dan sejuta mimpi. Semuanya serba sulit dan menggerahkan. Remontage, demontage dan montage – begitu terus brulang-ulang. Bab-bab diganti nama, isi diubah, lalu ternyata yang diubah kemarin lebih berisi – lingkaran setan……

Tapi dengan itu, terasa lebih hangat….

(Lublin, 01. 12. 2010)

————————————

Tabe. Penghujung tahun, musim gugur enggan pergi, musim salju pun enggan datang. Di atas meja kerja saya bertumpuk pekerjaan, buku-buku sumber terbuka penuh gaya demonstratif. Tetapi buku lagu Dere Serani, Madah Bakti, Yubilate dan Syukur Kepada Bapa menanti ditranskripsi ke not balok. Barangkali tidak semuanya, hanya sebagian lagu yang penting dan representatif. Saya mendapatkan program Sibelius 4 dari dosen muda Mariusz Pucia, untuk menuliskan not balok dari lagu-lagu bernotasi angka. Cukup membantu dan mempermudah, meskipun butuh banyak waktu.

Salam sejahtera.

Lublin, 10. 11. 2010.

—————-

Tabe. Lima bulan penuh (sejak 15 Maret 2010) saya berada di Tana Congkasae, Mbate dise Ame, redong dise Empo – Manggarai. Masa liburan / cuti saya gabungkan dengan pengumpulan material untuk disertasi saya. Being, living in and absorbing – adalah sarana handal untuk semakin mencintai Manggarai dan segala kekayaan budayanya. Seseorang akan semakin merasakan dan sadar, bahwa dia adalah anak budayanya sendiri (the son of the culture – dziecko kultury – pol.)

Selanjutnya sekarang adalah bagaimana saya menuangkan segala gagasan dan pengalaman, dengan berbasiskan data-data empiris, ke atas lembaran-lembaran disertasi saya.

Terima kasih untuk semua yang telah dengan rela hati membantu dan memperlancar segala urusan saya, mulai dari Poland sampai di kampung saya tercinta Nonggu / Mbata.

Good luck. Nio ca lingko, kali wuan pati kura.

Lublin, 31.08.2010.

———————————-

Tabe. Sejak pertengahan Pebruari sampai dengan 25.02 saya gunakan waktu untuk workshop dengan anak-anak, latihan tarian GENSAM (perpaduan Genjek dan Saman) bersama grup Sendratari Damai dan beberapa kali „Indonesian Night“ di Gdansk. Melelahkan, tapi memuaskan. Ada rasa „satisfied“ dalam nubari.

Tanggal 25 saya kembali ke Lublin, tapi sempat singgah di Anton. Keesokan harinya saya ke rumah di Lublin, dan tanggal 27 sudah harus ke Żywiec, dengan bis kecil. Sampai di sana jam 16.20, diterima dengan ramah oleh Rm. Stanislaus Kozieł, kenalan lama saya. Bersama rm. Marek, seorang doktor malamnya kami menonton olimpiade musim dingin, Justyna Kowalczyk meraih emas dalam marathon 30 km.

Sepanjang hari Minggu selama misa-misa kudus, saya membawakan kotbah, tentang karya misi Gereja, tentang Indonesia, tentang masa puasa. Sorenya setelah santap siang, rm. Stanis mengantar saya ke ibu Zofia Rączka, penyair yang puisi-puisinya saya lagukan. Sudah cukup tua usia beliau. Lalu etelah itu saya dijemput Wojtek, suami Gosia, saudari dari Ewa, umat saya dahulu di Kraków. Si kecil Justysia dan kakaknya Ola sangat manis dan menarik. Malam hari setelah misa terakhir dan santap malam seadanya, saya segera tertidur lelap. Besoknya kembali ke Lublin, via Kraków, melalui jalan pegunungan yang berkelok-kelok. Pemandangan yang indah….

Lublin, 01.03.2010.

———————————————

Tabe. Masih dingin sekali di Polandia. Sudah 220 orang mati kedinginan. Sungai Bug airnya tumpah ke luar menembusi pecahan-pecahan es, mengalir ke rumah-rumah penduduk, ke perkebunan dan peternakan, tapi sialnya, air itu langsung membeku. Maka terbentuklah landasan rata dari es, sampai ratusan hektar luasnya. Licin, dingin dan penuh bahaya. Mobil-mobil tidak bisa lewat. Manusia harus hati-hati berjalan di atas dataran es yang licin.

Tahun 2009 saya diminta Direktur Asian Studies di Jagiellonian University of Cracow untuk memulai les Bahasa Indonesia sejak bulan Oktober 2010. Tetapi, mungkin karena kelalaian saya, sampai sekarang mengenai rencana itu masih belum juga ada kepastian. Email  saya tidak dibalas. Mungkin mereka terkejut setelah mengetahui bahwa saya adalah imam katolik?

Kemarin tawaran lain muncul, dari John Paul II university, cabang Tomaszow Lubelski, dekat perbatasan dengan Ukraina. Tapi Profesor Pawel Marzec menawarkan saya untuk mengajar Intercultural Affairs di jurusan International Affairs (Politologi). Tapi, waktu saya amat sedikit, setelah saya kembali dari riset di Indonesia. Belum jelas juga dari Krakow, tambahan pula, jurusan itu bukanlah bidang saya. Beberapa sahabat tidak bisa memberikan pendapat pro ataupun kontra. Saya tunggu telefon dari Profesorrr…oh telefon……MUNGKIN SAYA KELIRU – SAYA SETUJU….

Lublin, 30.01.2010

————————————

Tabe! Suhu udara di Eropa (Polandia khususnya) turun sampai -2o derajad celsius. Puluhan ribu penduduk tidak kebagian listrik, air hangat dan gas. Banyak para gelandangan yang ditemukan mati kedinginan. Kata para meterolog, situasi ini akan berlangsung hingga akhir bulan Januari.

Saya kebagian getahnya. Pinggang saya mendadak sakit, serentak, seperti sakit ginjal. Ternyata itu adalah sejenis penyakit lumbago. Persendian di kedudukan terasa sangat sakit, perihnya bukan main. Untung bruder Wieslaw membeli plaster penghangat, sehingga situasi agak berubah lebih baik.

Ema Tindeng sekeluarga ada di Ruteng, jadi saya bicara lewat telepon berjam-jam. Maklum pakai smartvoip cukup murah, 3 cent per menit. Dan ke telepon rumah, kedengarannya sangat jelas. Jens kecil nyanyi-nyanyi lagu-lagu koor Natal ke telepon. Maklum, kakek-neneknya anggota koor, ibunya dirigen koor.

Aha, iya, kemarin Barca menang 3-0 dengan Real Villadolid, 8 poin di atas Real Madrid. Gol dicetak Xavi, Dani Alves dan Messi.

Lublin, 24.01.2010. ———————————————————————————————–

Tabe! Sebenarnya agak terlambat posting ini. Lupa. Natal kemarin di rumah saja. Rencananya untuk selesaikan pekerjaan ilmiah, eh malah jatuh sakit. Demam dan pilek. Di rumah kami berempat, Wieslaw, Stan Grodz dan prof. Bronk. Untung ayah dan adik perempuan Stan datan Natalan di Lublin, jadi suasana cukup familiar. Malahan perasaan saya, Natalan kali ini maknanya sangat mendalam buat saya. Sederhana dan tanpa hiruk-pikuk. Hari Natal bersama bruder Wieslaw saya mengunjungi saudari-saudari kami para suster SSpS. Kami bercanda ria dan bernyanyi-nyanyi berjam-jam. Saya lupa demam. Hari-hari berikutnya saya isi dengan kegiatan ilmiah privat, selesaikan meringkas buku sumber Music in Flores karya Jaap Kunst. Tanggal 30 Desember, setelah agak baikan, saya take-off ke Warszawa, ke Anton. Kemudian Lambert dan istrinya Gosia juga datang untuk Natal dan Tahun Baru bersama di KBRI. Saya bawakan renungan dan doa, meskipun sepatu saya adalah pinjaman dari pak Lambert. Sepatu hitam saya disimpan bu Pungki dan beliau sudah berangkat duluan ke wisma. Acara berjalan cukup lancar. Ada kenangan tersendiri (hihihi rahasia iman…).

Tanggal 2 Januari saya berangkat ke Gdansk, untuk mengurus sanggar. Anak-anak agak loyo setelah jedah Natal dan Tahun Baru. Saya juga. Tanggal 5 anak-anak mementaskan tari-tarian pada acara pembukaan terminal kapal laut. Setelahnya saya kembali ke Lublin. Untung segera, karena sehari setelahnya rel-rel kereta tertutup salju tebal.

Di kamar, sepi.

Lublin, 12. 01. 2010

————————————————

Tabe! Natal di ujung pintu. Penyelamat datang, mengingatkan jiwa-jiwa akan kebakaan dunia dan pentingnya perdamaian bagi semua orang yang berkehendak baik. Bagi semua orang dari segala suku, bangsa, agama dan warna kulit. Di seharusnya datang setiap hari, setiap saat. Hanya sering manusia terlena, lupa diri dan malahan malas tahu.

Natal di Eropa: hiruk-pikuknya suasana di mall-mall, di jalanan kota. Para artis yang setiap harinya selingkuh dengan wajah sendu menyanyikan lagu-lagu Natal, bintang-bintang yang adalah pendukung gerakan feminis yang memperbolehkan aborsi, juga dengan pakaian malaikat meninabobokan Anak Yesus di kandang Betlehem. Di gereja: sepi, ada pohon Natal dan lampu-lampu. Tapi sepertinya tidak ada jiwa, tidak ada ide untuk membuat Misa Natal lebih semarak dari Misa-misa lainnya.

Natal saya: di kamar. Hening, sunyi. Tidak dingin. Cuma banyak kerjaan ilmiah yang harus selesai dan dipresentasikan setelah Tahun Baru. Tahun Baru nanti di KBRI. Saya juga persiapkan renungan Natal dan Tahun Baru untuk KBRI.

SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU 2010, SEMOGA DAMAI-NYA MENYERTAI SEMUA ORANG YANG BERKEHENDAK BAIK…

WESOŁYCH ŚWIĄT BO ZEGO NARODZENIA I SZCZĘŚLIWEGO NOWEGO ROKU 2010, NIECH JEGO POKÓJ NAPEŁNIA WSZYSTKICH LUDZI DOBREJ WOLI…

Lublin, 23.12.2009.

————————————–

Tabe! Dingin di Lublin. Saya sepertinya betah, banyak tugas dan tulisan tesis yang harus kejar waktu dan target. Tadi saya dapat email dari teman saya di Papua bersama dengan nomor HP adik saya Pian, yang lama menghilang dari agenda keluarga. Menganggur, dengan istri dan seorang anak, di tanah rantau. Hati saya tersobek. Dunia ini kejam, berat dan tidak terkendali secara logistik. Negaraku masih dunia ketiga, rakyatnya masih terlunta-lunta mencari makan. Tapi saya bahagia, bahwa bisa berkontak dengan Pian. tentu saja orang tua di kampung turut bergembira. Apalagi mendengar bahwa cucu mereka bertambah satu.

Lublin, 24.11.2009.

—————————————-

Tabe! Musim gugur, dingin, ditambah gejala swine flu yang menggerogoti nyawa 70 orang di Ukraina. Jumlah yang sakit di seluruh Eropa kira-kira mencapai 400 ribu orang. Lublin sangat dekat letaknya dengan perbatasan Ukraina, tetapi isu kejangkitan justeru datang dari daerah lain Polandia. Perdana Menteri Ukraina Julia Timoschchenko mengumumkan siaga 1 di negerinya, meskipun pemimpin negara lain masih was-was dengan efek dari pengumuman seperti itu. Kelihatannya ada juga yang mendulang di air keruh, memanfaatkan kepanikan massal untuk memperoleh rejeki.

Hari ini Erdit meninggalkan Lublin, mau mengelilingi Eropa sebentar. Seorang anak muda yang tegar, tahan banting dan optimistis. Setelah membaca novel Hirata SANG PEMIMPI, di dalam diri Erdit saya melihat inkarnasi sang pemimpi Ikal yang berani maju.

Lublin, 5.11.2009

—————————————-

Tabe! MISSA FLORES (Minggu, 25.10.2009) yang dinanti-nantikan pun telah lewat. Begitu banyak tantangan, pengorbanan dan air mata. Untunglah dalam nama Tuhan semuanya berjalan dengan lancar dan aman. Anak-anak penari Sendratari DAMAI begitu tegar memainkan angklung dan kolintang serta menari meskipun cuaca dingin dan lantai gereja yang lembab. Kehadiran Pak Dubes dan rombongannya menjadi dukungan yang luar biasa untuk kami. Apalagi pada pagi Minggu, ketika saya kehilangan suara dan semua pada panik. Meskipun banyak halangan, namun ekspresi solidaritas dengan kebutuhan perdamaian dunia dan korban bencana di Sumatera, berjalan sukses. Terima kasih buat semua atas dukungan dan doa. Terima kasih buat Anton, Ibu dan Pak Pungki atas pengorbanan. Terima kasih buat anak-anak Sendratari DAMAI, atas ketegaran dan senyum polos. Terima kasih untuk Ibu Jadwiga Mozdzer dan suaminya kak Bogdan yang menjadi seperti keluarga kandung untuk saya dan Lambert.

antonAnton membawakan lagu INDONESIA PUSAKA

pose

Pose bersama setelah misa

Lublin, 28.10.1009

————————————————-

Tabe! Pada saat menulis di pojok ini, saya sedang berada di Warszawa. Kemarin secara spontan saya diminta Pak Pungki (I Secretary of KBRI) untuk datang mengikuti pertemuan denga petinggi Caritas Polska, dalam rangka mengorganisasi konser amal untuk korban gempa di Padang. Pagi-pagi saya naik kereta express yang kumal (sic!) untuk bisa segera sampai sejam sebelum pertemuan tersebut. Pertemuan berjalan dengan berhasil dan sekarang tinggal menunggu saja, apakah Royal Palace dan pianis Leszek Mozdzer akan bersedia menjadi „performer“.

Hari Sabtu kemarin (10/10) Jadwiga dan Bogan menikah secara sipil. Acaranya cukup mengharukan dan sangat bersifat kekeluargaan. Meskipun agak sakit dan badan lemah, saya berusaha menolong sedapatnya.

Warszawa 13.10.2009.

—————————————————

Tabe! Saya baru saja kembali dari Lublin. Ada cerita menarik tapi konyol. Dari rumahnya Anton (Pak Pungki), saya terburu-buru ke Lublin dengan kereta. Saking malasnya membawa tas, maka saya tinggalkan di rumah Anton. Toh rencananya hari Selasa kembali lagi, saya cuma datang untuk mengecek tugas, surat dan juga untuk hari ppertama kuliah, hari Senin. Begitu hampir tiba di Lublin, saya tersentak, teringat bahwa kunci rumah dan kamar tertinggal di saku tas, dan tas tersebut sedang enaknya parkir di kamar Anton di Warszawa. Pikiran saya pun mulai berputar-putar. Saya coba menelpon prof. Sylwek, teman dekat serumah, tapi beliau tidak mengangkatnya. Waktu bergulir, hujan turun, angin musim gugur begitu kencang. Ke hotel? Mungkin saja. Saya pun naik bis kota dari stasiun kereta api. Pada saat saya mau turun untuk mengecek kamar di sebuah hotel kecil,  saya melihat sosok yang sedang susah payahnya menarik-narik sebuah kopor besar. Begitu mendekat, saya menanyakan apa perlu dibantu. Tentu saja dia (seorang gadis cantik) mengiyakan. Saya pun menyeret kopor yang gagangnya patah tersebut. Sialnya, tempat tinggal si cantik agak jauh. Dengan bersusah payah, terhuyung-huyung, saya mengantarkannya sampai ke kamarnya. Saya keringatan, badan sakit-sakit dan nafas kembang kempis. Tapi, di hadapan seorang gadis yang cantik, saya berpura-pura tegar. Namanya Iwona. Saya memperkenalkan diri seadanya, tidak selengkapnya. Setelah meminum teh hangat, Iwona melepaskan saya pulang. Hujan dan angin masih berkejaran di malam gulita. Saya ke hotel, tidak ada kamar kosong (untung juga). Lalu saya ke rumah, kebetulan ada teman yang keluar membukakan pintu. Setelah makan, saya langsung saja berbaring di kamar tamu, tanpa memberitahukan siapa-siapa (malu kan?). Tengah malam saya tidak bisa tidur, badan panas dan kejang-kejang. Aspirin tidak menolong. Sampai pagi nyenyak seadanya. Pagi-pagi ke tempat kuliah lalu santap siang di Chinese Restaurant dengan sahabat mahasiswi. Setelah itu ke Warszawa (Anton tentu saja kaget). Saya jatuh pilek, demam dan batuk-batuk. Saya langsung merayap ke bawah selimut. Tadi bangun cukup segar dan ke DEPLU Poland untuk menguji dua orang di bidang Bahasa Indonesia. Sedikit segar memang. Tetapi kisah Iwona akan melekat dan nama Iwona akan saya konotasikan dengan kekonyolan, keluguan dan kebodohan seorang lelaki 30-an tahun di hadapan seraut wajah yang cantik…….

——————————

Salam jumpa lagi, Ase ka’en. Semakin dekat ke rumah, hawa Eropa semakin dingin. Bulan Oktober mulai, berarti mulai pulalah kuliah. Saya baru saja kembali dari pertemuan SVD non-Poland dengan provinsial di Olsztyn. Saya pagi-pagi berangkat dari Gdansk mempersiapkan Missa Flores edisi 2009. Lalu dengan Provinsial ke Warszawa dan bermalam di Anton.

Begitu banyak yang terjadi selama ini. Mulai dengan terjemahan film-film Indonesia ke dalam bahasa Poland sampai dengan pementasan Vocal Group dengan ibu Dyah dan Frater-frater Adi dan Vincent Taji di Hotel Hyatt.

Warszawa, 03.10.2009 —————————————————

Begitu lama tidak muncul, Aseka’en! Begitulah nasib musafir, dari kota ke kota, dari desa ke desa mencari hmmm…makna. Mulai dari mengurus dan latihan sanggar di Gdansk, sampai dengan pementasan tanggal 19 Juli 2009, lalu malamnya makan minum bersama bapak Dubes Pohan di teras Jadwiga, serta musisi handal (saudara Jadwiga) Leszek Mozdzer. Kemudian acara ramah-tamah di KBRI dengan kami sebagai latarnya. Lalu sempat juga mengunjungi Fred dan Ela (dari Wien) bersama putra mereka Eric yang lucu. Sebelumnya ke Piotrowice dan Krakow, di rumahnya Magdalene. Akhirnya mendarat juga di Magdalene untuk makan dan tidur sepuas-puasnya. Hari ini kembali ke Lublin. Sepi.

Image072Si Eric kecil yang masih berumur 3 bulan.

Lublin, 03.08.2009. —————————————————————–

Pagi-pagi saya sudah ke halte bis untuk ke gereja tempat Weronika, anaknya Esti dan Marcin akan menerima Komuni Pertama. Saya salah jalan, tetapi bisa sampai sebelum jam misa dimulai. Orang berjejal-jejal, sehingga Martynka kecil mengajak saya keliling untuk berjalan-jalan. Setelah misa kami ke restoran Nirvana untuk santap siang, syukuran Komuni pertama Weronika. Acara yang simpatik, menarik dan sangat kekeluargaan. Keluarga yang betul memahami nilai-nilai keagamaan dan moralitas yang tinggi.

Lublin, 07.06.2009.

DSCN0274taEsti, Vera, Martynka dan saya

——————————————

Sepanjang hari saya di gedung Pameran Tourisme Internasional, bersama awak-awak KBRI. Saya memimpin workshop angklung dan juga menari ria Poco-poco. Orang tidaklah banyak, meskipun cuaca cukup bagus. Pasti saja kurang direklamekan. Sorenya kami misa di rumah SVD Lublin, bersama bapak dan ibu Poerwonggo dan Monika. Setelahnya kami makan malam di Lublin Plaza. Saya pergi tidur segera.

Lublin, 06.06.2009 ———————————————

Sudah bulan Juni. Ya ampun, begitu tak terasa. Hari-hari berlalu seperti biasa. Tidak ada sensasi, tidak ada hal baru. Sebagian waktu saya habisi di kamar, di depan komputer. Hari ini hari terakhir kuliah. Liburan jadinya. Tapi banyak hal harus diselesaikan. Sejak Juli nanti saya di London untuk memperdalam bahasa Inggris sampai September. Sebelumnya saya harus konsultasi dengan pembesar untuk memperoleh dokument persetujuan mereka atas rencana istirahat kuliah saya selama tahun ajaran 2009/2010. Alasannya adalah riset di Manggarai. Mudah-mudahan semuanya bisa berjalan dengan lancar.

Lublin, 02.06.2009.

———————————-

Rencananya mau ke Walendow, ke Panti Asuhan, eh ternyata tidak sampai. Saya di keluarga pak Pungki saja sepanjang weekend. Hari Minggu kami ke „old town“ untuk foto-foto. Sebenarnya memalukan, bahwa saya pertama kali ke sana. Lalu saya langsung ke stasiun untuk pulang dengan kereta ke Lublin. Hari ini saya tidak bangun kuliah, tapi pergi misa misioner di kapel akademik. Tidak banyak orang yang hadir.

Senin, 18 mei 2009.

DSCN0157Anton di „old town“ Warsawa

——————————–

Hari ini ada seminar „The Limmits of tought“, di Krakow. Saya hadir sebagai pembawa acara untuk monodram Jadwiga berjudul „The Birth“. Indah dan menarik. Prof. Michel Henry Kowalewicz juga sangat gembira dan antusias. Saya di hotel sendiri. Hanya sang dewi sekali-sekali datang. Dalam maya.

DSCN0008Saya bersama Jadwiga, prof. Kowalewicz dan seorang pelukis

Krakow, 07.05.2009

——————————

Hari ini dengan mama (datang malam tadi) kami mengelilingi kota tua Lublin setelah misa pagi. Lalu ke stasiun untuk segera pulang ke Krakow. Mulanya kami membeli tiket via Warsawa seharga 272 zlote (hampir 1 juta rupiah untuk tiga orang). Kami cemas. Ternyata tak dinyana, di rel sebelah sebuah kereta bertuliskan Lublin-Krakow sedang diparkir. Setelah ditanya, ternyata dia berangkat setengah jam lagi dan lebih murah setengah harga, tidak lewat Warsawa yang jauh, dan tiba dua jam lebih cepat. Hati pun lega. Mereka berangkat dengan pikiran ringan. Saya sedih.

Minggu, 03.05.2009.

——————————-

Kedua saudariku Karolina dan Magdalena datang dari Krakow hari Kamis larut malam. Keesokan harinya kami dihantar profesor Silvester ke Kazimierz Dolny, tempat bersejarah, konon tempat tinggalnya Raja Kasimir dahulu kala, raja yang menjadikan Polandia yang terbuat dari kayu menjadi Polandia yang dibuat dari semen. Kota kecil, sebenarnya setingkat kampung. Pemandangan indah, dari sebuat bukit „Tiga Salib“, ke arah sungai Vistula dan perumahan dengan gedung-gedung klasik dan gereja-gereja yang menjulang. Banyak orang, karena memang liburan. Matahari bersinar cerah, tetapi angin sangat dingin, itu yang membuat kami segera pulang. Sore harinya kami pesiar keliling kota tua Lublin. Kami tidak sempat menunggu pementasan opera „Istana yang Angker“ karya Moniuszko. Jam 24.00 saya naik tempat tidur.

image050

Karolina yang dipanggil Lola, di atas bukit „Tiga Salib“. Foto kesukaan saya.

Sabtu, 02.05.2009.

————————

Setelah berbincang sebentar dengan Herlin, saya berlari menuju halte bus. Dengan bus bernomor 20, saya ke Debowka, ke rumahnya ibu Irena. cuaca bagus, maka suaminya mengantarkan saya keliling tanah milik mereka, sepanjang 700mx30m. Begitu luas dan indah. Setelah makan siang, kami membuat api unggun, seluruh cucu mereka datang. Saya sempat bermain sepak bola dengan mereka. Hari yang indah. Meskipun melelahkan. Saya dihantar pulang oleh Irek, putra ibu Irena.

Minggu, 26.04.2009.

——————————

Dosen muda Silvester Kasprzak mengajak saya ke bioskop, konon ada film baru, film historis. Bersama dua teman mahasiswi, Aska dan Ania kami ke bioskop BAJKA. Film berjudul „General Nil“ (Jenderal Nil). Nil adalah samaran dari Jenderal August Emil Fieldorf.  Dalam sejarah Polandia beliau adalah tokoh anonim. Beliau adalah pahlawan nasional pasca Perang Dunia II yang berjuang melawan Jerman dan juga Rusia. Beliau dibuang ke Sibir, tempat pembuangan untuk banyak orng Polandia yang menentang pemerintahan komunis. Sepulangnya dari pembuangan beliau dipenjara oleh pemerintah komunis, dengan tuduhan bahwa banyak ofisi dan sipil Rusia terbunuh dibawah agitasinya selama di Sibir. Setelah disiksa, beliau dihukum gantung. Sampai akhir hayatnya, beliau tidak mau bekerjasama dengan pemerintah komunis.

generalnil_17Jenderal Nil sebelum hukuman gantung (diperankan oleh Olgierd Lukasiewicz)

Refleksi saya akhirnya muncul. Seandainya semua orang Polandia menonton film-film historis tipe „Jenderal Nil“ atau „Popieluszko“, partai-partai komunis tidak akan pernah lagi muncul di arena politik Polandia. Cara kerja mereka begitu kejam, licik dan memuakkan. Saya bersyukur bahwa komunisme tidak sampai menang di Indonesia.

generalnil_19Di kereta saat pulang dari pembuangan di Sibir

Lublin, 23.04.2009.

—————————–

Selama seminggu sebenarnya tidak ada kuliah. Saya di rumah saja. Habis kan baru saja pulang dari Warszawa, dua minggu di luar rumah. Kamar harus dibersihkan, jendela dibuka, apalagi musim semi sudah tiba. Hari Jum’at,  17 April, dengan kereta sore saya ke Gdansk, karena ada Pekan Tourisme di sana. Anak-anak saya akan tampil menari bersama ibu Jagoda. Saya harus hadir. Saya pun berangkat. Tiba jam 20.30, saya dijemput tata Jozef Mozdzer dan langsung ke rumah untuk santap malam dan berisitirahat.

Keesokan harinya, 18 April kami ke tempat Pekan Tourisme. Orang-orang membeludak, apalagi itu adalah akhir pekan. Anak-anak dan ibu Jadwiga menari dengan luar biasa, mengundang tepuk tangan riuh para penonton. Setelahnya saya bergembira ria bersama orang-orang Indonesia. Pak Pungki kami bawa ke rumah ibu Jadwiga untuk minum kopi sebentar.

Hari Minggu saya kembali ke Lublin. Tidak ada tempat duduk di kereta. Saya menyusup masuk ke wagon restoran WARS, dan pura-pura meminum kopi selama 5 jam perjalanan, biar tidak diusir dari sana. Tiba jam 20.00 malam. Capek. Secara fisik dan psikis. Entah apa sebabnya.

Lublin, 21.04.2009

————-

Dengan kereta siang pada hari Minggu, 06.04. saya ke Warszawa. Setelah bertemu dengan seorang suster, saya terus ke rumah Anton. Hari-hari saya hanya bermalasan. Sepertinya letih secara psikis. Malam Senin ada pertemuan dengan para bankir dari Indonesia di Wisma Kedutaan. Saya main musik. Hari Rabu kami persiapkan wisma menjelang pemilu keesokan harinya. Pada hari Pemilu saya bertindak sebagai pengawas sejak pagi. Sebenarnya tidak ada pekerjaan, cuma saja harus hadir sebagai anggota pengawas. Malam hari kami misa Kamis Putih di rumah saja, bertiga, karena ibu Diah capek. Acara Jum’at Agung di Paroki Milosierdzia berlangsung cukup lama, apalagi tidak kebagian tempat duduk, saking banyaknya umat yang hadir. Sabtu Suci kami ke gereja 45 menit sebelum mulai, sehingga mendapat tempat yang cukup baik dan nyaman, meskipun Anton membawa bangku kecil sendiri (ditinggalkan di gereja lantaran lupa). Hari Minggu Paskah kami ke Walendow, ke tempat Panti Asuhan untuk misa pagi, tetapi agak terlambat. Anton menyerahkan Casio untuk anak-anak berlatih. Para suster betul terkesan dengan keluarga pak Poerwonggo. Setelah makan siang kami nyanyi-nyanyi lalu foto bersama. Anton menjadi bintang utama. Waktu pulang kami sempat singgah di Michalowice untuk mengunjungi rumah SVD. Kami diterima Marcin Piwnicki dan rektor. Setelahnya kami pulang. Hari Paskah yang indah. Penuh kesan menarik.

Warszawa, 13.04.2009.

image048Pak Punky sekeluarga di Walendow

——————————-

Sejak pagi kami di klub Feluka untuk berlatih menari. Selesainya jam 13.00. Lalu bersama penari yang sedikit besar kami ke Teater Gdynia untuk menonton pementasan para bhiksu dari Nepal. Iyah, semuanya dalam tempo yang cukup lumrah bagi dunia Asia. Acaranya pun begitu-begitu saja, malahan para bhiksu sendiri menguap di panggung. Hari ini cukup hangat. Musim semi telah tiba.

Gdansk, 04.04.2009

—————————————

Pagi-pagi buta saya mendengar pembicaraan lewat telepon antara Jagoda dan direktur TKK, bahwa mulai jam 09.00 pagi ada workshop di sana. Dengan berat hati saya bangun dan tanpa sarapan sedikit pun kami bergerak ke TKK. Anak-anak dibagi dalam 4 kelompok kecil. Diberi angklung dan diajak menari-nari. Mereka senang, guru-guru pun senang. Sorenya saya tidur panjang.

Gdansk, 03.04.2009.

—————————————

Hari ini saya ada janjian dengan Iing yang menikah dengan lelaki Poland, Rafal. Saya dengan kereta ke Gdynia, dijemput oleh ibu Vernie, asal Filipina yang menikah juga dengan orang Polandia. Kami bersama-sama ke rumahnya Iing. Putrinya Karolina dan Agata begitu cantik dan sopan. Menjelang malam saya kembali ke Gdansk, dengan bis dan tramwaj. Hari berlalu indah.

Gdansk, 03. 04.2009

————————-

Sebenarnya hari ini saya harus pergi kuliah. Tapi agak pilek dan takut terlambat mengejar kereta ke Gdansk. Ada rencana pementasan tari anak-anak dalam rangka memperingati kejadian di Tibet. Di dalam kereta saya berbincang-bincang dengan seorang saudagar sapi. Kami mengurai banyak tema. Saya tiba hampir jam 00.00, tidak langsung tidur, karena di rumah Jagoda begitu banyak debu. Sedang ada kegiatan rehab di kamar mandi. Setelah bangun pagi kami dikagetkan oleh berita ambruknya pesawat latihan yang menewaskan 4 prajurit. Lalu diumumkanlah hari berkabung sepropinsi. Dan pementasan pun batallah. Iya, tidak ada apa-apa. Segala persiapan anak-anak menjadi sia-sia. Sore hari kami ada latihan bersama anak-anak. Malamnya Polandia menang 10-0 atas San Morino.

Gdańsk, 02.04.2009

———————–

Pagi ini Polandia terbangun dari tidur pagi dalam humor yang jelek. Pertama, karena „time change“ demi kehematan ekonomis, artinya tidur diperkurang satu jam. Yang kedua, adalah karena kekalahan Tim Nasional Polandia di Belfast melawan Tim Irlandia Utara. Kekalahan adalah hal biasa, tetapi kekalahan tanpa perjuangan dan tanpa „style dan character“ adalah yang paling memalukan, menyakitkan. Situasi di grup A eliminasi Mundial 2010 Afrika Selatan memang belum pasti, Slowakia memimpin klasemen sementara dengan 10 poin, Ceko main imbang dengan Slowenia, jadi poin mereka masing-masing 8 dan Polandia berpoin 7. Hari Rabu nanti mereka game melawan San Marino, kesebelasan yang terdiri dari para polisi, penjaga toko, pemasak di restauran dll. Besar harapan akan diraih 3 poin penuh di Kielce.

Polandia tidak memiliki „Junior football school“ yang bisa menghasilkan pemain-pemain hebat seperti di negara-negara lain. Boniek dan Lato dahulu hanyalah kebetulan. Kiat mereka sekarang (seperti Indonesia juga dan saya salut!!), adalah mengail talenta-talenta muda di sekolah-sekolah sepak bola di Eropa Barat yang berdarah Polandia untuk membela Tim Nasional. Turki selalu berada di puncak tabel kan lantaran politik seperti itu.

Polandia akhir-akhir ini meghasilkan golkiper-golkiper yang handal. Sebut saja mulai dari Dudek, Boruc, Fabianski, Kuszczak dan Zaluska. Tetapi selain Boruc di Celtic, mereka yang lainnya hanyalah golkiper nomor 2 atau 3 di klub-klub besar seperti Real Madryt, Arsenal maupun Manchester United. Sayangnya lagi, situasi Boruc sekarang semakin terpuruk. Setelah meninggalkan istri dan anaknya yang belum berumur setahun dan berhubungan dengan janda beranak satu, dia kelihatannya makin kehilangan konsentrasi. Kesalahan fatalnya dalam dua pertandingan terakhir, melawan Slowakia dan Irlandia (school mistakes), betul menyeret dia ke posisi „the lost“. Iyah…masih ada golkiper yang lain…..

Lublin, 29.03.2009.

Artur Boruc pada saat „kicks“ yang membuahkan goal. Polandia kalah 2-3.

——————————————-

Adapun perayaan ulang tahun tidak pernah menjadi tradisi di kampung-kampung, juga termasuk di dalam keluarga saya. Tidak sepertinya di keluarga-keluarga modern yang mulai dari ultah ke-1 sudah dibikin kue tar dan hadiah macam-macam, meskipun sang solenizant sama sekali tidak mengerti seluk-beluk kehidupan. Senang tidak, sedih pun tidak. Setelah diberi susu, tertidurlah dia. Kemarin saya menerima cukup banyak ucapan selamat ultah, walaupun yang tahu hanya 2% dari seluruh kenalan saya. Mungkin karena saya juga tidak terlalu pusing dengan ultah atau pesta nama mereka. Yang paling manis adalah SMS dari keluarga di kampung Nonggu (Flores-NTT). Saya terharu, karena mereka ingat, padahal saya benar lupa kapan saudara-saudari saya merayakan ultah mereka (memalukan memang). Saya teringat akan saudara saya nomor 5 (fotonya agak kabur) yang pergi merantau entah ke mana dan tidak ada kabar berita. Jejaknya hilang. Dulu dia lari dari sekolah SMIP di Ruteng, dikenal sebagai penipu. Tetapi bagaimana pun, dia adalah saudara saya, yang saya rindu, kelakarnya dan sifat penurutnya. Badannya kurus, sangat legam. Boleh dikatakan, dialah yang paling „tidak tampan“ dari seluruh 7 bersaudara. Lalu lantaran pergaulannya yang tidak beres, kami kakak-kakaknya memaksa dia untuk merantau. Sampai hari ini tidak pernah menelpon atau bersurat ke kampung. Banyak kejadian naas yang menimpa para perantau dari daerah saya, mudah-mudahan dia tidak terkena nasib sial itu. Pian, adikku, seruan saya ini tidak berarah. Blog ini hanya dibaca oleh saya sendiri. Tapi saya ingat namamu selalu dalam doa-doa dan misa. Semoga Tuhan selalu memberkatimu.

Kemarin salah satu bruder merayakan pesta nama, sehingga kami ada acara kecil bersama. Saya dalam diam meminum whisky, toast untuk diri sendiri. Karena yang berpesta adalah bruder. Toast umum untuk beliau.

Lublin, 10.12.2008.

******

Tabe! Setelah kuliah hari Jum’at saya dengan kereta api senja berangkat ke utara, ke Gdansk. Saya diundang seorang pastor paroki Rm. Piotr Twarog, untuk memimpin misa yang namanya „misa Fatima“. Dinamakan demikian, karena misa tersebut dibuat setiap tanggal 13 dalam bulan. Tanggal 13 adalah tanggal di mana Bunda Maria menampakkan diri kepada tiga anak gembala kecil di Cova da Iria, Fatima, Portugis. Sampai bulan Oktober, selalu pada tanggal 13. Tanggal 13 juga adalah tanggal Paus Johanes Paulus II ditembak oleh Ali Agca. Tanggal 13 juga Paus Benediktus XVI memulai proses beatifikasi JPII.

Gdansk, berarti Sendratari DAMAI. Saya tidak menyia-nyiakan waktu di sana. Saya manfaatkan juga untuk berlatih angklung dengan anak-anak. Memainkan lagu-lagu Natal Polandia dengan iringan angklung. Manis kedengarannya.

Hari Minggu pulang ke Lublin. Dengan kereta, 8 jam lebih. Musim winter, meskipun tanpa salju. Dingin. Suram. Gelap. Capek. Di kamar: sepi. Tapi hangat. Piano diam di sudut.

Lublin, 15.12.2008

****

Ada kebiasaan bagus dalam tradisi Polandia. Namanya „opłatek“ (baca: opuatek). Oplatek artinya hostia, cuma dibuat khusus untuk tradisi tersebut, bukan dalam bentuk bundar seperti untuk Misa, melainkan segi empat. Pada tanggal 24 Desember, malam hari, dibuatlah perjamuan dalam keluarga. Seluruh anggota keluarga berkumpul untuk merayakan Natal. Dimulai dengan pembacaan Injil tentang kelahiran Tuhan Yesus dan doa oleh ibu rumah tangga, lalu menyanyikan lagu Natal tradisional Polandia, untuk kemudian ucapan selamat Natal masing-masing dengan oplatek di tangan. Ketika kita bersalaman dengan anggota keluarga atau siapa saja yang hadir, kita memecahkan, mematahkan satu bagian kecil dari oplatek yang dipegang oleh dia yang di hadapan kita. Dia juga memecahkan oplatek dari tangan kita, lalu kita memakannya. Setelah bersalaman dan memecahkan oplatek dengan seluruh anggota yang hadir, acara pun berlanjut ke perjamuan. Perjamuan terdiri dari 12 jenis sup: sup dari cendawan, sup buah, sup bit merah, sup kacang, dll (melambangkan keduabelas rasul). Yang terakhir, yang terpenting adalah acara menyantap ikan karpel. Ikan karpel adalah simbol Natal bagi orang Polandia. Setelah perjamuan, semua menyanyikan lagu-lagu Natal. Sebagai acara terakhir adalah acara meminum anggur yang dibuat di rumah dari buah-buahan yang tumbuh di sekitar rumah.

Tadi ada acara „oplatek“ untuk seluruh Institut Musikologi. Saya bersama tingkat III membawakan drama Natal. Saya berperan sebagai salah seorang raja dari Timur. Dari Timur, sehingga saya berpakaian a la Cina. Semua tertawa di dalam aula. Kemudian acara pemecahan oplatek dengan semua. Ratusan orang. Capeknya bukan main.

Tanpa „oplatek“ Natal menjadi kering. Salju tidak ada, tetapi acara pemecahan oplatek tetap berjalan.

Sebentar lagi saya akan mengudara di Radio RMF Classic, bercerita tentang kebiasaan Natal di Indonesia. Tidak ada oplatek, tidak ada ikan karpel, tidak ada sup. Tetapi Tuhan Yesus juga akan lahir di sana. Walaupun di musim hujan yang penuh lumpur.

Lublin, 17.12.2008

******

Natal sudah di ambang pintu. Di mana-mana hiruk-pikuk dan bising. Mall-mall penuh dengan manusia, membelanjakan hadiah atau persiapan-persiapan yang perlu. Pohon-pohon Natal sudah bercahaya di mana-mana. Lagu-lagu bernuansa Kelahiran Almasih pun bergaung di mana-mana.

Tetapi tidak di hati ini. Setelah tidak ada kepastian dari Radio RMF Classic tentang rencana audiensi, saya jadinya putus asa. Tidak ke mana-mana. Semua rencana saya batal. Mau ke Krakow? Enggan, pergolakan bathin, karena Krakow bukan tempat yang membuat saya leluasa bergerak dan bersikap. Ke Gdansk? Enggan juga. Jauh, dan juga tidak akan ada kebebasan. Banyak undangan, ke mana-mana. Tetapi ada keengganan dan kekosongan di hati. Kemalasan barangkali. Keputusasaan. Rasa overdosis segala sesuatu. Panik. Muak. Ada segumpal rasa terpenggal….

Lublin, 21.12.2008

******

Akhirnya saya putuskan juga untuk ke Krakow merayakan Natal. Suasana kekeluargaan terasa begitu kental. Saling memecah-mecahkan „oplatek“, roti perdamaian. Bersama seluruh kenalan. Misa Vigilia saya tidak rayakan, cuma Misa Natal pagi di Sanktuarium Kerahiman Ilahi, Lagiewniki. Tanggal 27 Desember saya ke Gdansk, memulai rekaman angklung dan kulintang bersama anak-anak Sendratari DAMAI. Melelahkan. Tahun baru di KBRI Warsawa. Saya MC-nya. Ramai, penuh kekeluargaan. Setelahnya saya ke Krakow. Lalu pulang Lublin untuk kuliah.

Krakow, 05.01.2009.

****

08.01.2009. Saya naik bus di Lublin pukul 13.00 siang, setelah kuliah. Dingin sangat menggigit, suhu udara turun jauh di bawah nol, ditambah angin yang terasa seperti sembilu yang menyayat-nyayati kulit. Saat merogoh saku jaket tebal saya, saya terkejut, kaus tangan saya cuma sebelah. Pasti sebelahnya tertinggal di kamar. Sambil berderet di pintu masuk bis, saya menggerak-gerakkan kaki untuk mengusir dingin, padahal saya mengenakan tiga pasang kaus kaki.

Lublin terletak di tenggara Polandia. Dia terkenal sebagai kota pelajar dan mahasiswa dengan Universitas Johanes Paulus II yang lazim disebut KUL, tempat saya belajar. Bis yang penuh dengan mahasiswa itu bergerak perlahan-lahan keluar dari bisingnya kota. Teman seperjalanan di samping saya menjelaskan bahwa bis akan ke Rzeszow, sebuah ibukota propinsi. Kami pun bergerak melalui jalan ekspres, yang berliku-liku. Setelah empat jam perjalanan, kami pun tiba. Saya kaget setelah sopir memberitahukan, bahwa saya harus menunggu bis berikutnya ke Wina (Austria) selama satu setengah jam. Saya memesan kebab dan kopi. Dingin tetap menusuk. Saya sempat beli kaus tangan seharga 2 zlote.

Tepat pukul 18.00 dengan sebuah bis besar, saya bergerak meninggalkan Rzeszow. Terpampang tulisan besar: Wina (Austria). Asisten sopir menyetel film sensasional di video. Saya menoleh, penumpangnya cuma 10 orang. Saya berpikir, nanti setelah sampai di perbatasan Polandia dan Slowakia baru saya tidur. Apalagi dari Reszow ke sana, jalannya berkelok-kelok, naik turun pegunungan. Teringat saya akan jalan di Flores. Cuma bedanya, di sini jalannya mulus dan bis tidak berhenti sembarangan. Tepat pukul 24.00 kami masuk ke Slowakia. Saya pun tertidur.

09.01.2009. „Stasiun Bratislav“, terdengar suara dari pengeras suara di bis. Saya terhentak. Di stasiun sepi. Bis-bis raksasa pada diparkir rapih. Kota sedang tidur pulas. Saya melirik ke arloji saya, pukul 03.55. Sebentar lagi pasti Wina, pikir saya. Benar saja. Sejam perjalanan dari Bratislav, bis pun parkir di stasiun Erberg. Juga sepi. Cuma beberapa orang sedang menanti kerabat yang datang dari Polandia. Dingin menusuk.

Saya datang untuk memberikan Sakramen Pernikahan teman saya Fred dengan calon istrinya Ela, orang Polandia. Fred dengan mobilnya mengantarkan barang-barang bawaan saya dan orang tua Ela yang juga tiba sesaat setelah saya tiba. Ela menemani kami dengan metro ke rumah mereka. Sebuah apartemen modern, bertingkat dua. Masih baru. Saya kagum dengan kenekatan mereka. Sebelum menikah, sudah mempunyai mobil dan rumah tinggal. Semuanya milik pribadi. Setelah sarapan, kami semua membantingkan badan ke tempat tidur empuk. Dunia seakan berhenti berputar.

Sore harinya teman-teman dan saudara-saudari asal NTT berkumpul untuk mempersiapkan musik liturgi. Ada gitar bas (Severin), ada Pan-Flute (Kletus Pake), ada beberapa gitar (saya dan Rm. Yance Montero) dan juga gendang (Kletus dan seorang teman asal Ghana). Penyanyinya terdiri dari  Kons Kapu, Puplius (anak Belu), Edwin (dari Philipina). Tarian Ja’i dipimpin oleh Rm. Hilde. Suasana sangat kekeluargaan. Saat latihan Lena, Amelie,dan Janek (anak-anak) juga turut aktif. Orang tua dan kerabatnya Ela asal Polandia hanya berdecak kagum, melihat kesederhanaan dan kepolosan orang-orang NTT dalam bersikap. Pertemuan berakhir sampai larut malam. Saya sekali lagi melatih membaca teks Sakramen Pernikahan dalam bahasa Jerman. Semakin baik dan pasti.

10.01.2009. Setelah ke gereja pagi hari, persiapan pernikahan pun mulailah. Peralatan dan segala sesuatu dibawa ke tempat perjamuan nikah. Gereja tidak perlu dihiasi lagi, karena gaya gotiknya sudah sangat indah. Cuma aula parokinya yang perlu ditata. Tetapi semuanya berjalan lancar, banyak orang yang membantu, meskipun ada adegan lucu dengan gelas-gelas. Ela dengan wajah kecewa melaporkan kepada Fred, bahwa ternyata gelas tidak ada. Fred pun pontang-panting menilpon ke tempat kerjanya, yang jaraknya 60 km dari Wina untuk meminta para suster meminjamkan gelas mereka. Kami pun ke sana. Tetapi kami sempat mengambil gitar  elektrik-akustik dari tempat kerjanya. Sepulangnya dari sana, kami pun mencoba mengecek gitar tersebut. Pada saat Fred mencari-cari  tempat untuk cok listrik, dia terganggu oleh sepasang pintu kecil yang tidak terlalu kelihatan. Saat dia buka, ternyata di sana berjejer berlusin-lusin gelas.  Semuanya tertawa terpingkal-pingkal. Pukul 20.00 kami sudah kembali ke rumah. Setelah menonton Barcelona, Fred kembali melatih saya membaca teks nikah dalam bahasa Jerman.

11.01.2009. Seisi rumah sibuk sejak pagi. Ada pengakuan, ada memasak, ada ke salon kecantikan, ada pencetakan teks dll. Pukul 15.00 kami semua berkumpul di gereja. Setelah latihan menari dan menyanyi kami pun bersiap-siap untuk memulai misa. „Marilah kita ke rumah Bapa…“ dalam irama Ja’i mengantarkan para imam dan pengantin Ela dan Fred menuju altar. Sentakan kaki dan teriakan para penari (romo Hilde, p. Thomas Tulung, Sr. Lelia dan Br. Kons) menambah suasana NTT yang semarak. Misa dihiasi dengan lagu-lagu Indonesia, Afrika dan Jerman. Juga Polandia. Anggota koor dan musisi bertambah: Sr. Lidia, Rm. Georg Lolan, p. John Herin dengan gitarnya.

Misa dipimpin oleh Rm. Martin dari Eisenstadt, tempat Fred bekerja sebagai Asisten Pastoral. Dia diapiti oleh Rm. Peter Paskalis dan P. Franz SVD, orang Austria. Saya berpakaian misa, tetapi aktif di kelompok musik dan penyanyi. Setelah Injil dan kotbah dalam bahasa Polandia, saya membawakannya dalam bahasa Indonesia. Kemudian seluruh acara pemberkatan nikah, saya bawakan dalam bahasa Jerman. Bahasa yang saya tidak mengerti sama sekali. Tetapi dengan bantuan Roh Kudus, saya tidak salah sekali pun, jedah-jedahnya tepat (memang karena sudah dilatih) dan dimengerti baik oleh semua orang. Dan herannya juga, saya tidak merasa kikuk atau stres sedikit pun. Mungkin karena kebiasaan saya untuk tampil dalam pentasan-pentasan. Setelahnya saya kembali ke sudut musik dan koor untuk melanjutkan mengiringi misa.

Saat acara pesta di aula, suasana pun begitu semarak. Makanan a la Indonesia, dengan nasi putih berwangi daun Pandan, ada soto dan sate kambing, ada nasi uduk dan udang goreng. Semuanya puas. Ela dan Fred tersenyum-senyum dan penuh cahaya di wajahnya. Semoga Tuhan memberkati mereka. Kemudian mulailah Rokatenda, Ja’i, Poco-poco Tandak dan Dolo-dolo. Anggur pun tidak kehabisan. Setelah para tamu pamit, kami duduk-duduk sampai menjelang pagi. Dengan ditemani sopi Polandia.

12.01.2009. Dengan sedikit pilek dan badan agak ngilu, saya bangun. Jam 10.00 pagi. Sepi. Hanya sebentar-sebentar terdengar batuk ayahnya Ela. Sarapan, kopi dan santai-santai. Sore harinya setelah santap siang, kami mengunjung Janek dan keluarganya (ayahnya asal Poland, ibunya dari Austria). Hanya sekedar bercerita dan meminum kopi. Lalu kami pulang. Cuma dengan lift ke lantai satu. Lalu saya santap malam karena sebentar lagi harus ke stasiun bis untuk kembali ke Polandia.

Pukul 21.00. Fred dan Ela melambaikan tangan tanda perpisahan. Saya pun segera tertidur. Perjalanan pulang melewati Ceko, sehingga jalan-jalan lurus dan lebar. Bis meluncur tak terasa. Hangat.

13.01.2009. „Stasiun Krakow“, suara dari pengeras suara. Jam 04.00 pagi. Sepi. Dingin. Kota sedang pulas. Di papan pengumuman saya melihat alamat sebuah hotel murah. Saya pun ke sana. Saya memesan kamar untuk beberapa jam saja. Dingin. Pemanas ruangan dimatikan. Saya langsung pulas. Saat telpon berdering saya terbangun. Saya di minta oleh resepsionis untuk segera meninggalkan hotel. Jam tinggal sudah usai. Saya keluar sambil memaki-maki. Bayarannya dihitung seperti sehari penuh. Nasib petualang. Saya harus segera mengejar bis ke Lublin supaya bisa sampai sebelum jam kuliah mulai. Bis lagi, bis lagi. Salju turun satu-satu.

*********

Dalam suatu pertemuan komunitas, Prof. Bronk menceritakan pengalaman seorang pastor tua dahulu. Konon di gerbang biaranya berdiri sepasang orang tetua berpakaian kusam. Biasanya orang-orang kotor tidak diijinkan masuk oleh para penghuni, karena nanti takut mengotori (!!). Sang pastor tua, lantaran iba, keluar dan menanyakan apa kebutuhan mereka, entah makanan, entah pakaian atau yang lain-lain. Kedua kakek-nenek tersebut menunjukkan cek sebesar 100.000 mark. Katanya mereka baru saja menjual harta benda, anak-anaknya suda berkecukupan. Mereka sakit-sakitan dan tidak butuh uang sebanyak itu. Sehingga mereka bersepakat untuk memberikannya kepada biara.

Saya diajar oleh ayah saya, bahwa setiap tamu yang datang ke rumah kita adalah wakil dari Tuhan Yesus (meskipun beberapa kali kain songke Manggarai kami dibawa lari oleh tamu). Di Polandia ada pepatah: tamu di rumah, Tuhan di rumah. Artinya sama, tamu harus dihargai, sejelek apapun pakaiannya, seburuk apapun wajahnya.

Beberapa hari lalu bel rumah berdenting berkepanjangan. Kemudian bel ke kamar saya. Suara seorang wanita tua yang minta supaya gerbang dibukakan, karena ada pertemuan, katanya. Saya menekan tombol, yakin bahwa sang ibu sudah masuk ke pekarangan. Tidak lama berselang, bel ke kamar saya berdering lagi. Sekali lagi sang nenek meminta gerbang dibuka. Saya tekan tombol sekali lagi. Lalu saya kembali ke diktat saya. Baru saja saya duduk, bel berdering lagi. Sang nenek belum juga masuk. Setelah menekan tombol, dengan penuh rasa sebal saya membiarkan headphone di domofon tergantung, biar tidak berdering lagi. Setelah sepuluh menit berselang, saya akhirnya luluh. Saya berpakaian dan turun melihat di gerbang. Seorang wanita berpenampilan necis, umur 70-an tahun. Dia sangat berterima kasih, katanya dia sudah menekan bel ke semua kamar, tetapi hanya saya yang mau menjawab. Dalam hati saya masih sebal. Saya mengantar beliau ke ruangan pertemuan. Dia memperkenalkan diri: Irena. Wah, nama indah. Dia meminta nomor telpon dan alamat email saya.

Dua hari berselang. Sekali lagi bel ke kamar saya berdering. Wah, malas ah. Saya hanya menekan tombol saja, supaya gerbang bisa dibuka. Setelah lima menit berselang, saya akhirnya iba, saya turun. „Pak Vincent?“ tanya tukang pos.  Saya mengiyakan saja. „Ini ada hadiah uang sebesar…..dari Ibu Irena“. Lalu dia pulang. Saya terkesiap. Langsung menelpon ibu Irena untuk mengucapkan terima kasih.

Kemarin saya ke rumah ibu Irena untuk santap siang. Keluarga berada. Cucu-cucu cantik dan manis: Jolanta dan Monika. Suasana kekeluargaan. Betapa berharganya memiliki sedikit hati dan waktu untuk orang lain.

Lublin, 02.02.2009.

*******

Hari ini ujian semester III saya berakhir. Nilai biasa-biasa saja, apalagi jurusan musikologi bukanlah jurusan yang mudah. Mata ujian berkisar di bidang Sejarah Musik di masa romantisme (abad XIX). Saya ditanyai tentang opera Perancis: Spontini, Auber, Mayerbeer, Gounod, Bizet dan Offenbach dengan operet-operetnya yang terkenal. Ada kelegaan, tetapi ini baru saja pertengahan tahun. Bulan Juni nanti ujian akan banyak. Aha, hari ini ultah Laurienne. Selamat berbahagia, Nak.

Lublin, 05.02.2009.

********

Semua bis privat yang saya hubungi sudah penuh. Terpaksa saya pakai bis  umum, meskipun jalannya lebih lamban dan tidak necis. Sialnya bis tersebut tidak berhenti di halte di mana saya menunggu. Terpaksa saya mengejarnya dengan bis kecil ke satu kota, Krasnik. Sampai di terminal Rzeszow, saya dijemput oleh Agata Mazur, teman kuliah S3 saya, yang kerja di Museum Etnografi. Setelah meminum kopi dan menyantap kue, saya memulai pertemuan mengulas sedikit tentang Indonesia. Saya putar film dan tunjukkan foto-foto tentang Indonesia dan Flores. Pesertanya tidak banyak, hanya untuk elit. Setelah pertemuan saya diajak Agata ke restoran. Kepala saya sakit sekali, mungkin karena kedinginan dan perut yang kosong. Saya memesan sup ayam dan pierogi, sehingga sedikit membaik. Agak sorenya saya kembali dengan bis privat ke Lublin. Capek.

Lublin, 09.02.2009

********

Hari Senin pagi saya mengambil kartu isin tinggal sementara saya, setelah perjuangan selama setengah tahun. Lalu dengan kereta saya ke Warszawa dan menginap di Anton. Dia senang kalau saya menginap. Keluarga yang baik dan ramah. Pagi Selasa saya ke Gdansk untuk latihan dan workshop. Workshopnya hari Rabu, di TK artisitik „Panienka z Okienka“. Ada 50 anak, kami bagi dalam dua kelompok. Mereka senang, kami juga puas, direktur Ibu Ewa juga puas. Anak-anak kami latih bermain angklung. Setelah kegiatan dengan anak-anak, kami dijamu dengan ikan „pstrag“ yang begitu nikmat. Kemudian kami mengunjungi mama Luba ke Rumah Sakit. Agak pucat, memang setelah operasi kanker. Sorenya kami buat latihan angklung dan tari-tarian dengan grup Damai. Keesokan harinya jugam sejak pagi. Jam 13.08 saya berangkat ke Warsawa degan kereta. Sawa menangis, memang si kecil itu sangat dekat dengan saya. Di rumah Anton sudah menunggu. Saya duduk-duduk dengan pak Pungky sampai menjelang pagi. Paginya saya harus ke Krakow. Urusan masa depan.

Lublin, 15.02.2009.

********

Tabe! Sepanjang minggu saya mempersiapkan retret Masa Puasa untuk umat di Paroki Mechnica dekat Opole. Retret bukanlah pelayanan yang mudah. Saya kompilasikan banyak tema dan bahan dari buku-buku dan internet, walaupun Romo Rudolf Golec, Pastor paroki, menganjurkan supaya lebih banyak bercerita tentang Indonesia. Hmm, sulit juga, apalagi tema Puasa.

Waktu saya sedang mencari-cari bahan di internet, saya temukan blog seorang gadis (mulanya saya kira laki-laki), keturunan Afrika yang ditinggalkan orangtuanya setelah dilahirkan. Sejarah yang membuat hati bertanya-tanya: mengapa kok ibu kandung sekejam itu? Dia (Grace) luntang lantung dari Panti Asuhan satu ke yang lain, dari keluarga angkat satu ke yang lain. Malah sempat masuk biara, malah selesai kuliah teologinya di Krakow. Saya berpikir, seandainya kisah-kisah dan puisi-puisi dari blog-nya dibukukan, pasti akan jadi bestseller. Luar biasa. Saya sampai hari ini masih terpengaruh oleh kisah si Grace.

Grace kecil di Panti AsuhanGrace kecil di Panti Asuhan

Hari Sabtu saya pergi makan siang di restoran Cina dengan Moni Uzorko. Anak cantik, pintar, tapi luntang-lantung cari pacar. Saya berpikir, di Indonesia masak ada gadis secantik dia tidak bakal punya calon?

Barcelona kesayanganku kalah kemarin dengan Espanyol, 1-2. Hmm..pelan-pelan mulai surut kehebatan mereka? Padahal sisa pertandingan masih banyak. Aj!!! Sampai-sampai saya pun marah-marah dengan si Ade. Fuh!!! Mudah-mudahan Pep Guardiola punya jurus untuk meluruskan rel kereta FCB. Visca el Barca!!!!!

barca

Lublin, 22.02.2009

*********

Akhirnya saya kembali dari „voyage“, retret Masa Puasa di Mechnica, dekat Opole dan dua hari di Krakow.

24.02.2009. Saya berangkat dari Lublin, via Krakow. Saya bermalam di motel.

25.02.2009. Saya dibangunkan oleh seorang permaisuri, yang lari dari khayangan untuk bermain-main di taman. Kemudian dengan kereta saya ke Kedzierzyn-Kozle. Di sana saya ditunggui oleh Mr. Ernest untuk diantar ke Mechnica. Mechnica, sebuah kampung cantik, daerah rawan banjir. Pastor paroki rm. Rudolf Golec dan saudarinya Irena menerima saya dengan senang hati. Santap malam, televisi lalu tidur. Besok petualangan dimulai.

26.02.2009. Hari ini Rabu Abu. Mulailah Masa Puasa untuk orang Kristen.  Dalam tradisi Katolik ini dilambangakan dengan penandaan tanda salib di dahi dengan abu, sebagai tanda tobat dan silih. Pengakuan sejak pagi, lalu dua misa berturut-turut. Sorenya dengan anak-anak, lalu misa lagi dan pengajaran untuk kaum ibu.

27.02.2009. Juga hari dimulai dengan pengakuan, lalu misa, dengan anak-anak, lalu misa lagi.

28.02.2009. Setelah pengakuan dan misa pagi, saya mengunjungi orang-orang sakit di Poborszow. Orang-orang simpatik meskipun menderita. Lalu Jalan Salib di dua gereja. Umat membeludak.

29.02.2009. Setelah misa pagi saya dengan Mr. Michalski mengunjungi 9 orang sakit dari rumah ke rumah dengan pengurapan dan Komuni kudus. Juga kesempatan bagi saya untuk mengenal kampung. Indah. Di sana-sini masih menggeletak gumpalan-gumpalan salju, tetapi matahari sudah tidak  kikir lagi dengan sinarnya. Hari ditutup dengan Misa kudus. Agak lelah.

01.03.2009. Misa berkejar-kejaran di dua gereja. Kotbah singkat dan pamitan. Sorenya saya diantar mr. Ernest ke stasiun kereta. Saya berangkat ke Krakow, Magdalene dan orang tuanya sudah menunggu di sana. Santap malam dan istirahat.

03.03.2009. Dengan bis saya ke Lublin sore hari. Tiba pukul 20.00. Di kamar sepi. Badan sakit. Masih tergambar wajah rm. Rudolf Golec dengan kesederhanaan dan kerja kerasnya. Wajah anak-anak Mechnica. Wajah orang-orang saleh dan baik hati di sana. Tuhan, lindungilah mereka. Amin.

Lublin, 04.03.2009

****************************

Dengan adanya program VOIPCHEAP yang canggih dan murah, saya akhirnya bisa berkontak ke kerabat-kenalan yang berada di kota. Kemarin saya berbicara selama dua jam dengan saudari saya Sri, mama kecil Moni, bapa kecil Simon dan mama kecil Til. Kak sulung saya Sri adalah kebanggaan ayah kami. Tamat sekolah dengan hasil bagus, beliau melanjutkan kursus informatik di Bandung sampai selesai. Tapi nasib memang menghendaki lain. Dia dirajuk oleh cinta seorang jejaka, Sius, yang bermukim di Makasar. Sri pun ke sana. Anak putri mereka pun lahir: Mirta. Tetapi ternyata Sius mulai menunjukkan taringnya. Dia tidak bertanggung jawab, sering tidak pulang, marah-marah dengan istri dan anaknya dan tidak setia, alias playboy. Itu yang membuat Sri dan si kecil Mirta pulang kampung. Sius pun menyusul, dan diberi pekerjaan oleh bapa kecil Simon sebagai kontraktor. Sudah diberi kaki, malahan minta paha, ibarat kacang yang lupa kulitnya, dia jatuh cinta dengan beberapa gadis sekalian dan langsung ke ranjang. Setelah ketahuan bahwa salah seorang dari pacar-pacarnya itu hamil, Sri pun resmi mengusirnya dari sejarah hidup bersama mereka. Saya sampai menangis terisak-isak mendengar berita tersebut. Akan tetapi Sri berusaha tetap tabah. Dia dirikan pondok kecil di Kupe, di pinggir jalan raya. Setiap hari dia ke sawah, mengerjakan 3 bidang sawah yang besar, demi hidup si kecil. Tidak lama berselang, dia berkenalan dengan seorang sopir colt-diesel: Felix, seorang duda beranak tiga. Diskusi pun membara. Sri, saudari seorang pastor dan suster, bisa hidup tanpa ikatan dengan seorang duda? Saya menguatkan beliau: SAYA SETUJU!! Ini yang menjadi rujukan semua keluarga terdekat kami. Kata Sri, yang menjelek-jelekkan nama keluarga justru kerabat kenalan terdekat, yang dibesarkan dan disekolahkan oleh ayah dan mama (orang tua kami). Kisah hidup ibarat di film-film. Saya doakan supaya Sri tetap tabah dan kuat. Saya anjurkan juga supaya beliau mengambil PGSD di Ruteng, supaya jauh dari gosip-gosip dangkal orang kampung……

Lublin, 06.03.2009.

hpim1185 *********************

Sebenarnya kemarin kami pergi ke bioskop, tetapi karena tempat penuh, kami pun pergi hari ini. Monika, teman kuliah, yang membeli tiketnya. Kami sengaja memilih film berjudul „POPIELUSZKO, KEBEBASAN ADA DI DALAM KITA“. Film berkisah tentang perjuangan merebut kebebasan di Polandia dari tangan komunisme, sebagai awal dari runtuhnya Uni Soviet. Bukan seperti dikenal oleh dunia, bahwa komunisme runtuh lantaran runtuhnya tembok Berlin. Runtuhnya tembok Berlin hanyalah imbas dari perjuaangan kaum buruh di Polandia, di kota-kota besar seperti Gdansk (sumber keruntuhan komunisme, ingat Lech Walesa) dan Warszawa.

ksRm. Popieluszko, pelindung kaum buruh

Popieluszko adalah seorang pastor diosesan, imam muda kapelan dari kaum buruh di Warszawa. Nama lengkapnya Jerzy (George) Popieluszko. Sejak awal beliau berjuang bersama kaum buruh untuk mengambil alih pabrik-pabrik dari tangan pemerintahan kaum komunis. Kotbah-kotbah dan kata-kata peneguhannya kepada rakyat Polandia yang muak dengan komunisme, menjadi ancaman bagi pemerintah jaman itu. Dia memperjuangkan kebebasan dan kejujuran dalam memerintah rakyat. Setelah diancam berkali-kali, beliau pun ditangkap dan dianiaya sampai mati. Mayatnya dibuang ke sungai Wisla dalam keadaan terikat dan penuh luka memar. Sebelum dia dibunuh, sudah beberapa rakyat tak berdosa yang ditangkap, dipenjarakan maupun dianiaya sampai mati.

Romo Popieluszko meninggal pada 19 Oktober 1984. Kematiannya mengundang protes dan demonstrasi besar-besaran di seluruh Polandia, bahkan sampai ke Czechoslowakia. Puncaknya adalah pada tahun 1989, ketika Lech Walesa mengumumkan bubarnya komunisme, hingga merambat sampai ke USSR.

Saya duduk di samping seorang ibu tua umur 70-an. Pasti dia adalah saksi dari segala kebrutalan pemerintah komunis di Polandia. Beliau menangis selama film berlangsung. Saya ikut terharu. Betapa tentunya dia teringat lagi masa-masa komunis, ketika untuk membeli gula saja harus antrian dan harus memiliki kartu. Lalu saya teringat beberapa komentar orang-orang saat saya di Krakow dahulu, bahwa hidup mereka lebih baik saat masa komunis dulu. Hmm. Semestinya mereka menonton film „POPIELUSZKO, KEBEBASAN ADA DI DALAM KITA….“

ks2

Rm. Popieluszko memberikan peneguhan iman

tama1-2Tempat mayat rm. Popieluszko dibuang ke sungai Wisla

Lublin, 15.03.2009

***************

Kembali Voipcheap yang murah beraksi. Saya berjam-jam lamanya berbicara dengan ayah kemarin dan hari ini. Kebetulan beliau datang ke kota untuk mengurus uang asuransinya, yang ternyata hanya sejumlah 10 juta rupiah. Yah, lumayanlah untuk merehab rumah tua di kampung. Saya banyak bertanya kepada beliau tentang perlakuan terhadap Sri oleh keluarga di kampung. Memang ada yang sedikit menjelek-jelekkan beliau, tetapi keluarga sendiri, seperti adik Gons dan istrinya malah memanjakan dia, dengan memberikan sebidang tanah luas di Kupe untuk dijadikan miliknya.

Ayah, seorang guru sederhana tapi bijak, sempat menyinggung tentang mimpi beliau saat Sri hendak dilahirkan. Kata beliau, bahwa malam itu dia bermimpi, bahwa seluruh pintu kelas di SD Mombok, tempat saat beliau mengajar, tertutup. tiba-tiba ada seorang kakek memberikan kunci kepada beliau untuk membukakannya. Beliau menyimpulkan, bahwa seharusnya Sri nasibnya tidak sejelek seperti yang telah terjadi. Mungkin ada jalan baru di hadapannya, hidup baru yang akan dimulainya. Dan segala sesuatu pasti akan berjalan dengan semestinya. Kemudian saat saya juga hendak dilahirkan oleh ibu, beliau bermimpi bahwa dia ke kampung leluhur, kampung asal ibunya, Ene Reing, di daerah Runus. Di sana konon beliau diantar ke tempat di mana dua kuburan berjejer rapih. Dari dalam salah satu pusara, muncul seorang lelaki gagah perkasa dan menyerahkan keris kepada beliau. Saat beliau menunjukkan keris tersebut ke seisi kampung, mereka serentak berkata, „Itu bukan milik kita…“. Kemudian beliau kembali ke tempat kuburan. Dan dari pusara yang satunya lagi muncul seorang wanita cantik. Hmm…menurut beliau, mimpi itu berarti: satu pastor dan satu suster (adik saya suster SSpS, Herlina). Mudah-mudahan. Atau mungkin, wanita cantik tersebut…..???

Lublin, 18.03.2009.

*******************

Menurut kalender meterologis, musim semi seharusnya sudah mulai tanggal 20 Maret, berarti lima hari yang lalu. Tetapi di luar jendela penuh salju. Udara dingin, angin bertiup kencang dan bercampur hujan. Orang mulai bertanya-tanya, apakah cuaca nanti tidak akan menghangat? Ini membuat orang semakin tidak bergairah hidup, penuh depresi dan rasa kekelaman psikis yang hebat. Demikian juga saya. Ditambah lagi dengan ancaman-ancaman rm. Smolarek, dosen Analisa Musik, yang selalu mengingatkan bahwa untuk menganalisa musik, setiap kami harus kuat di bidang harmonisasi. Sementara saya di bidang yang satu itu tidak terlalu memuaskan. Tetapi ini barangkali pelajara untuk merendahkan diri dan menjadi rendah hati. Hari ini saya sempat berbincang-bincang dengan Kak Ruben, iyah…lagi-lagi tentang situasi di kampung, perlakuan Ema-Ende Yon yang agak aneh. Itulah hidup. Seperti bunga Mawar yang selalu ada durinya. Saya diingatkan seorang suster, bahwa hari ini adalah hari pesta bagi SVD. Saya heran. Saya misa sendiri tadi.

Lublin, 25.03.2009.

10 Kommentare (+add yours?)

  1. Gabril
    Sep 02, 2011 @ 08:02:11

    romo pengalamannya bagus!! sungguh luar biasa ,kapan yah romo aku juga bisa melanglang buana seperti romo dengan banyak kisah-kisah unik.

    Antworten

    • vinadigm
      Sep 02, 2011 @ 19:24:20

      Kraeng Gaby, selamat menikmati. Melanglang buana juga mengandung resiko besar dan tanggung jawab atas nama kemanusiaan. Doa adalah yang paling utama. slm

      Antworten

      • Gabril
        Sep 03, 2011 @ 03:51:33

        Amiin!!……Romo doakan kami juga anak manggarai yang sedang merantau
        demi mandapatkan perubahan status per-ekonomian.
        salam dari kami semua
        „Tuhan berkati!!

  2. Gabril
    Sep 02, 2011 @ 08:10:03

    romo aku sudah downloading lagunya Daniel anduk,sedih banget romo buat anak rantau kalau ada lagi tolong di add. yang sedih2 lah.
    makasih sebelumnya,Tuhan berkati !!

    Antworten

  3. hans nokom
    Okt 22, 2012 @ 13:41:04

    tabe…. Pater, senang membaca pengalamannya…. pater, sy minta bantuan, mungkin bisa beritahu alamat utk bisa men-downloud pengetikan not balok dan juga not angka….

    Antworten

    • vinadigm
      Okt 25, 2012 @ 09:46:48

      Amang Hans, terima kasih. Utk not balok sy pakai program Sibelius 4, tetapi utk not angka saya tdk punya program. Salam dan sukses selalu.

      Antworten

  4. ananta
    Nov 20, 2012 @ 05:33:37

    salam untuk jagoda. tolong beritahu dia: Dia berhasil dengan banyak seni yang dipelajari-nya dari jogja. dan sy selalu mendukung dia, menangis saat membacanya, Jadwiga nerhasil dengan sendratari damainya. seiring banyak karya seni-ku yang dibawanya. Antusiku.Ananta.

    Antworten

  5. 14 mei
    Nov 23, 2012 @ 05:55:37

    siang Pater toe d mi foto ghoo ata damang angen ngaseng krm lwt email daku kaut hahahahah

    Antworten

  6. marcello
    Feb 08, 2013 @ 11:09:36

    Oleee,,inspirasi bagi saya yang mememulai pertualangan di kota abadi,,,
    pater,,,menarik selkali pengalamnnya e,,,,

    Antworten

    • Vincent Adi
      Feb 17, 2013 @ 19:56:02

      meu di’a2 siap pilih Paus weru tu. ange’n manga berita ata bocorn, bagi2 sama tau. slm sukses selalu To’a ru‘

      Antworten

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: