Kisah menjadi murid lagi – bagian 2

Salam jumpa semuanya. Daerah barat Jerman mendung, dingin dan muram. Tidak ada tanda-tanda bahwa musim semi akan datang. Tetapi untung saja salju sudah mencair malam tadi. Suasana yang memang sangat tepat untuk menemani kita memasuki masa hening, yakni Masa Puasa. Orang kaya berpuasa dari kenikmatan, tetapi orang miskin berpuasa dari kekurangan untuk menjadi lebih nista dan sengsara lagi? Bukan. Puasa adalah bahasa bathin. Adalah nuansa roh, selain nuansa ekstern yang tidak kalah pentingnya, seperti pantang dlsb. Masa Puasa adalah saat „dalem“ untuk lebih menguak diri, menyeruak diri lebih ke dalam untuk dibeberkan di hadapan Yang Ilahi sembari bertutur: Ini aku, Tuhan. Di Polandia sebagai negara Katolik, masa ini sangat terasa suasananya. Tidak ada pesta, tidak ada parade-parade dan gereja-gereja biasanya lebih penuh dari biasanya. Di Jerman??? Hmm…kurang tahu, karena saya baru tiga minggu di sini. Daerah Koln-Bonn umumnya adalah daerah yang masih cukup beragama praksis dan ritualis, sama seperti di daerah selatan (Bavaria). Karnaval baru saja berakhir, tetapi apakah ada maknanya bagi mereka? Saya kurang tahu, belum tahu lah.

Kursus bahasa Jerman sudah berjalan 3 minggu. Masih sangat minim. Kami memperoleh seorang guru baru, Pak Georg. Orangnya sangat profesional, tahu menjelaskan dan mendeskripsikan semua fenomen bahasa, sehingga kita tidak perlu setiap kali membuka kamus. Orangnya lucu (betul-betul seperti Mr. Bean atau Mr. Duncan -guru bahasa Inggris di Youtube; silahkan buka). Lucunya inteligen dan benar-benar edukatif. Teman (adik jauh, beda 15 tahun umur kami) di samping saya dari El Salvador yang selalu mengantuk dan susah tangkap, sekarang menjadi aktif dan selalu meledak tertawa. Memang guru sangat penting dalam proses belajar-mengajar. Pak Georg adalah tipe seorang guru yang saya ingat dari masa SD-SMA dahulu: penuh pengabdian, sabar dan riang gembira dengan profesinya.

Bapa Suci berabdikasi. Karena istilah „lengser“ atau „undur diri“ terlalu berbau politis. Kepausan bukanlah posisi politik, itu adalah utusan Ilahi, terpilih melalui bisikan Roh Kudus. Dunia geger dan mencari-cari alasan mengapa tiba-tiba beliau „menyerah“. Alasannya adalah karena kesehatan dan usia yang uzur. Ini menjadi revolusi hebat bagi dunia, bahwa ternyata Gereja Katolik itu tidak kolot, tidak rakus kuasa dan berani mengatakan „cukup“, atau „Nein, danke“. Bahwa posisi uskup juga tidak otomatis kekal adanya, bisa saja mengatakan „stop“, seandainya tidak kuat lagi memegang ster bagi domba-dombanya. Kita doakan supaya Paus berikutnya akan segera terpilih dan akan juga berani dan terbuka seperti Paus Benediktus XVI.

Berikut ini panorama rumah dan situasi kursus bahasa:

2013-01-26 15.33.53

Di bangunan Anthropos ini saya tinggal.

2013-02-15 09.57.48

Ini suster Arathi dari India dan Rm. Chimezie dari Nigeria, berpura-pura mengajar saya. Sebenarnya terbalik hehehe.

2013-02-15 09.54.17Rm. Thibault orang Kongo-Brazzaville. Orang pintar.

2013-02-15 09.54.38

Sr. Judith dari Nigeria. Protesnya dan analisanya banyaaaa…k sekali, sehingga susah belajarnya. Sus… keep calm….

Sankt Augustin, 16.02.20123.

4 Kommentare (+add yours?)

  1. Zelda
    Feb 16, 2013 @ 14:14:58

    Romo/mas Vincent, fotoin pak Georg dong, penasaran nih sama guru yg baik dan berdedikasi itu.

    Antworten

    • Vincent Adi
      Feb 17, 2013 @ 19:52:25

      Mbak/ibu Zel, hihihihi sy akan coba foto besok ya? penasaran nih yeee… memang orangnya smart….

      Antworten

  2. Gadur
    Feb 27, 2013 @ 16:09:22

    mukanya murid baru ini juga lucu sekali, spt Herr Krahe. Dia itu guruku. haha..tapi perutnya juga lebih dari langsing.

    Antworten

    • Vincent Adi
      Feb 28, 2013 @ 17:02:38

      hahahaha oe Gaba, rei aku ne meseng hi Krahe hitu e, maka mai tae diha ga hi Save aku. oleee baang cama keta tara di laki Lando hitu aku ko ranga daat diha. aku lau Bonn e, april po cee agu hi Krahe

      Antworten

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: