Kisah menjadi murid lagi – bagian 8

     Salju kembali muncul melingkari bumi Eropa, laksana gaun kusam meliliti tubuh bidadari, yang sudah bosan menanti berseminya musim. Lagu-lagu pucat, puisi-puisi menggigil kaku. Prosa anak-anak pubertas seakan kehilangan magia. Tatapan mata menjadi kuyu, bibir-bibir memutih seputih batu kapur, bosan membaca mantra. Beburungan berdesak-desak mencari lubang di pohon raksasa, tempat berlindung agar tidak terkubur meregang oleh kekejaman musim. Ikan-ikan di tambak seakan enggan mencuri cahaya mentari, yang juga telah direbut para awan.

     Murid sekolah menatap rindu melalui jendela kaca. Hati tergiur ikut menari dan bernyanyi bersama cicitan burung-burung di taman. Lagu dan tarian apakah itu? Kerinduan? Kegirangan? Nyanyian fatalisme? Pentasan kepasrahan? Aku tidak tahu. Cuma yang tampak adalah kecekatan mereka di dahan-dahan dan juga keriuhan mereka. Ingin seperti mereka. Benar-benar ingin.

     Tumpukan buku dan pekerjaan rumah berserakan, seperti tertawa mengejek sang murid. Untuk apa semuanya ini? Mau dibilang hebat? Supaya dipuji dan dapat permen karet? Seandainya mereka bertelinga, akan kuhardik mereka. Akan kunyanyikan mereka lagu requiem. Akan tetapi mereka tak bernyawa. Mereka menanti untuk dilahap. Untuk ditekuni. Untuk dimesrai. Untuk digagahi.

     Ah, hujan turun. Bercampur salju. Sebenarnya menelanjangi tubuh putih bumi Eropa. Dengannya tidak lagi memucat. Dia akan merona, menjadi kenyal dibakar matahari. Akan didandani bebungaan yang menutupi segala kecacatannya. Dia kembali menjadi bidadari yang cantik, siap dilamini jiwa-jiwa lembut para romantik, penyair dan pemusik. Siap digendong para perkasa petualang dunia. Tetapi jiwa sang murid tetaplah sendu. Bertumpukan juga kertas tissue pengering air hidung, air mata, air telinga. Romantisme musim semi telah diperkosa salju.

     Sang murid berjalan-jalan menelusuri pinggiran sungai Rhein. Menikmati tari-tarian burung camar. Pucuk-pucuk flamboyan berebutan menyeruak dari kulit induknya. Di sudut taman, di tembok tua, terlukis sebuah wajah. Wajah Yesus yang terbentuk dari beberapa coretan. Lukisan yang setia menanti dan mengingatkan jiwa-jiwa tersesat, jiwa-jiwa yang gulana. Bahwa Dia setia menanti. Bahwa Dia akan bangkit. Bahwa musim semi pasti datang. Murid tertegun. Sejenak terpekur. Oh, sebentar lagi Minggu Palem, Minggu Suci dan Triduum Paskah. Sebentar lagi Tuhan bangkit.

2013-03-15 16.57.39

Lukisan (sketch) Tuhan Yesus dengan HP dan tas belanjaan di tangan-Nya.

Sankt Augustin, 21.03.2013.

%d Bloggern gefällt das: