Kisah menjadi murid lagi – bag. 10

„Suatu ketika,“ demikian Herr Krahe memulai pelajaran untuk para pengikut kursus bahasa Jerman, „tiga ekor tikus dipakai untuk diteliti kadar inteligensi (kepintarannya). Pada penelitian pertama, ketiganya dimasukkan ke kotak kawat kecil, harus menekan tombol agar bisa mendapatkan makanan. Ketiganya dengan mudah bisa belajar. Lalu kemudian ada ide untuk membuat penelitian baru.“ Pak Guru Krahe melukiskan tiga kotak di papan tulis. Gayanya luwes, sebentar-sebentar dia menarik celananya yang sering melorot. Setelah seminggu di tempat kursus baru ini, tampak bahwa pakaiannya cuma yang itu-itu saja. Barangkali memang banyak, cuma bentuk dan warnanya berbeda-beda. Beliau meneruskan pelajaran.

„Ketiga ekor tikus tersebut tidak diajarkan menekan tombol untuk memperoleh makanan. Mereka dibiarkan saja selama 20 detik, boleh melakukan apa saja semaunya mereka, setelahnya makanan diperoleh. Tikus nomor 1 masuk dan berjalan kian kemari untuk menghabiskan waktu. Tikus nomor 2 menghabiskan waktu dengan menari selama 20 detik. Tikus nomor tiga adalah pendoa. Dia berdoa selama waktu menanti makanan tersebut.“ Semua peserta kursus tertawa terbahak-bahak, iya, tidak semua, beberapa cuma terbengong-bengong, tidak mengerti mereka itu barangkali. Atau „sense of humour“ di Korea atau Afrika lain. Herr Krahe kembali meneguk minuman dari gelasnya dan meneruskan cermahanya.

„Coba kalian bayangkan, seandainya ketiga ekor tikus ini diundang untuk membuat seminar? Masing-masing tentu saja mempertahankan tesisnya, bagaimana cara memperoleh makanan: dengan berjalan ke sana kemari ataukah dengan menari, ataukah juga dengan berdoa?“ Kembali terdengar tawa riuh di kelas. Masa tikus diundang untuk seminar ilmiah? Ini pak Guru ada-ada saja. Tetapi semua pembicaraannya saya mengerti. 100%!!!! Tetapi mengapa kalau orang lain yang berbicara dalam bahasa Jerman, sulit sekali dimengerti????? Lalu tiba-tiba wajahnya serius.

„Semua cara mereka benar. Tujuannya sama, yaitu menghabiskan 20 detik yang disediakan agar makanan bisa muncul. Ini adalah cara berbeda dalam menatap suatu hal, istilahnya PERBEDAAN PERSEPSI DAN PERSPEKTIV. Itu harus dihargai. Ini adalah pelajaran toleransi yang sejati. Juga dalam hal kalian belajar bahasa, hargailah cara orang lain belajar. Jangan menyela dan menertawakan kesalahan orang lain. Masing-masing mempunyai cara untuk menghabiskan waktu belajarnya.“

Benar kata pak Guru Krahe ini. Untuk dunia dan kehidupan umumnya, menghargai pendapat orang amatlah susah, terutama pendapat yang todak sesuai dengan persepsi kita. Saya juga dalam hal itu sering „ngotot“. Semoga bisa belajar dari hikmah cerita Herr Krahe tentang tikus. Sekarang kursus kami level „pertengahan“ (Mittelstufe) sudah dimulai. Kami semua berjumlah 28 orang, sebagian besarnya orang Korea. Setelah tes masuk hari Kamis kemarin, kami menanti hasil, dan dengannya kami akan tahu pasti, siapa yang bisa teruskan ke level tersebut, siapa yang harus kembali ke level „dasar“ (Grundstufe). Mudah-mudahan bisa lolos, supaya tidak perlu setiap pagi dengan kereta lagi ke Bonn.

Musim semi sudah tiba. Cuma angin yang masih saja dingin. Minggu kemarin saya membawakan kotbah dan memimpin Ibadah Ekumenis Indonesia. Tentang pentingnya mencari Tuhan dan kebenaran, seperti dua murid yang mungkin juga ke Emaus untuk mencari kebenaran tentang Misteri Wafat dan Kebangkitan Tuhan Yesus. Dan pada saat itu Tuhan Yesus sendiri datang ke hadapan mereka.

Kemarin saya sempat main sepak bola dengan para frater. Selamat berakhir pekan semuanya, selamat memasuki minggu baru. Tuhan memberkati.

2013-04-12 12.17.39

2013-04-12 12.12.29

Situasi baru, kelas baru, teman-teman baru.

2 Kommentare (+add yours?)

  1. Zelda
    Jun 10, 2013 @ 22:04:14

    wah,saya suka dengan ajaran pak guru Krahe. Tapi kenapa foto pak guru Krahe hanya kelihatan punggungnya saja? takut dimarahi karena ambil foto di kelas ya?hahahaha

    Antworten

    • Vincent Adi
      Jun 11, 2013 @ 14:36:52

      Hahahaha mbak Selda, iya, takut karena memotretin tanpa pengetahuan beliau. salam hangat

      Antworten

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: