Kisah menjadi murid lagi – bagian 12

Telah berbulan-bulan ditapakinya lorong sempit beraspal di samping taman itu. Dan taman itu pun menjadi bagian dari kisah sehariannya, meski tak pernah menjadi pusat perhatiannya. Di setiap musim beberapa ekor tupai selalu berkejaran dan burung-burung bercicitan berebut rerantingan dan kembang. Seekor kucing hitam yang gemuk selalu duduk malas di bawah pagar hidup. Kadang-kadang tampak para pekerja dan biarawan tua yang sibuk membersihkan rumput dan memangkas dahan-dahan bunga.

Suatu ketika di saat musim semi. Kicau burung-burung di taman biara membangunkan hayat dan raga sang murid. Mentari pagi menyeruak di sela-sela dedaunan pohon tinggi. Langit biru bersih. Setelah menggumamkan syair-syair suci, dia berhikayat memulai hari. Hari yang sama seperti kemarin, meski alam memberikan tanda, bahwa ada yang bergeser makna.

Diarahkan kakinya menuju paviliun utama, melewati taman bunga di depan bilik. Sepucuk mawar tampak jauh lebih merona kelopaknya dibandingkan ribuan pucuk bunga yang terbangun oleh kehangatan musim di taman itu. Perhatian sang murid pun tertuju ke ujung taman itu. Dia sebenarnya bukanlah pencinta kembang, bukan pula ahli taman. Tetapi sang mawar seakan selalu saja tersenyum  menyapa nubari, setiap kali sang murid melewati taman itu. Aneka kembang warna-warni di sekelilingnya menjadi pelengkap gaunnya yang merah teduh,  ibarat bidadari di pesta perjamuan Pangeran semesta. Paduan warna kuning, hijau, lembayung, merah jingga dan putih berpadu menjadi lukisan dewata di negeri pelangi, dengan warna merah mawar menjadi poros seluruh keindahan.

Sang murid pun berniat menikmati aroma sang kembang mawar dari dekat. Namun setiap kali dia hendak mendekat, selalu saja dia diminta dengan hormat oleh sang tuan taman untuk menjauh. Sang murid ingin menyapa dan mencium wewangian dari kelopaknya. Dia hendak menjadikan hidup rutinnya penuh warna dan aroma sang mawar. Atau juga memenuhi nubari dengan rona merah sang bunga. Ingin berpuisi tentang kelopak-kelopak yang merekah sempurna menutupi duri-duri di rantingnya. Dia bermimpi melagukan keindahan senyuman mawar dengan iringan gitar dan seruling. Sang mawar pun menjadi obsesi sang murid.

Suatu malam, bulan bersinar terang. Sang murid menyelinap ke taman untuk bertutur sapa dengan sang kembang mawar. Tuan taman sedang tidak berjaga. Kucing hitam yang sedang tertidur pulas dilewati sang murid dalam sepi. Sekeliling sunyi. Kicauan burung malam dan jengkerik menyatu bak nyanyian panjang pengantar mimpi. Sang murid mengulurkan tangannya menyentuh sang kembang. Hasrat hatinya ingin memetik. Dia menoleh ke langit. Sang purnama tersenyum menggeleng, pertanda tak restu. Mawar pun dibelai-belai. Dari dekat aromanya, kelopaknya terasa ibarat paduan sempurna jutaan puisi. Terngiang di telinga sang murid lagu tua „Ohh..bunga mawar, kau idaman hati, yang ku puja-puja selalu. Ingin hatiku oh memetik dikau, tapi apa daya tak sampai….“

Semenjak itu pun sang murid selalu berkanjang di hadapan sang mawar di malam hari. Dia ingin menimba hakikat untuk hidup, untuk bermimpi, untuk berpuisi dan berlagu. Menjadi teman dalam menyeruak rahasia tutur negeri baru dan asing ini yang penuh ketaklogisan dan ketakteraturan. Di pagi hari sapaan sang mawar menjadi awal peziarahan menyeruak hari baru. Senyumnya, aromanya, warnanya.

———————————————-

Dua minggu lagi perjumpaan dengan Tanah Air. Apakah Sang Pertiwi masih cantik dan menawan? Ataukah masih saja cinta dan air susunya diperah orang-orang laknat dan para pemilik hukum? Aku rindu berjumpa dengan kampungku, dengan ayah, ibu dan saudara-saudariku, dengan kebun kopi dan sawah. Aku ingin bermesraan dengan pegunungan dan bebukitan hijau, tempat jiwaku dibenah di masa kecil. AKU INGIN PULANG……

4 Kommentare (+add yours?)

  1. Zelda
    Jun 10, 2013 @ 21:58:49

    memang puitis sekali Romo satu ini… dan membuatku tertawa karena lagu tua itupun sangat familiar ditelingaku, dulu waktu aku kecil…

    Antworten

    • Vincent Adi
      Jun 11, 2013 @ 14:38:49

      Mbak Zellldaaa…makasih makasih makasih… selalu dulu nyanyi dg diiringi gitar bertali 4 di kampung

      Antworten

  2. elvinseptiani
    Jun 22, 2013 @ 18:16:04

    romo.. maaf waktu pergi ke indonesia, tidak sempat antar romo,,,
    semoga liburannya menyenangkan ya😀

    Antworten

  3. Samson, YB
    Aug 26, 2013 @ 04:57:11

    Salam bersua Pater, jiwa musisi, intelektual dan biarawan memang berpadu amat apik dalam diri seorang Vinsen AG Meka….. salam

    Antworten

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: