Kisah menjadi murid lagi – bag. 14

Langit suram menyelubungi semesta yang mulai menggigil kedinginan. Setelah beberapa hari panas menyengat, tiba-tiba cakrawala seperti sedih, menangisi kepergian musim. Dedaunan tetap hijau, menyisakan pengharapan bagi nubari, bahwa musim gugur masih jauh di seberang pegunungan Alpen. Curah hujan menjadi berkat para petani yang telah lelah bermantra. Persemaian gandum untuk musim depan pun diselamatkan.

Murid sekolah tekun menggeluti seluk-beluk bahasa „gaib“, lantaran pertarungan telah menuju babak akhir. Suasana di kelas semakin panas, halaman dan aksara bercampur-aduk, kertas berceceran di meja-meja kayu, dipanai dahi yang berkerut-kerut. Herr Krahe, guru kami bergurau: „Seandainya menara Babel tidak didirikan, maka hanya ada satu bahasa di atas bumi ini, dan saya pun menjadi penganggur…“ Hahahaha… para murid terbahak-bahak. Iya, tetapi mengapa bahasa mereka sesulit ini???

Terkenang kampung halaman, benak bertanya-tanya: sedang apakah ayah dan bunda, sudah panenkah sawah saudaraku, apakah pohon rambutan dan salak yang kutanam tak dilupa untuk disiram? Baru tiga minggu di tanah rantau, kerinduan akan asap dapur adik-adik ipar dan saudariku tetap saja menggoda. „Siapa yang tidak rindu, dia tidak mampu berdoa..“ demikian seorang mistik. Maka kerinduan sang murid pun dilebur dalam doa. Minta umur panjang bagi ayah-bunda, minta rejeki dan raga sehat bagi saudara-saudari.

DSCN4179DSCN4219

DSCN4280„Hormat, gerak!!!“ bersama ayah di depan KMAL RI di Labuan Bajo; Saudariku Herlin berpose di kapal menuju Rinca; dan kegembiraan polos di pulau Kelor.

Ada ancaman perang besar. Begitu banyak yang telah tewas, namun para penguasa tetap saja bersiaga untuk perang. Nyawa manusia tidak ada lagi artinya. Siria sudah mencapai titik klimaks perang. Tak ada tanda-tanda akan berhenti. Di sana ada kota Antiokhia, tempat di mana untuk pertama kali para pengikut Yesus dinamakan Kristen. Pewarta damai, yang telah terlupakan. Di kelas, di samping sang murid ada seorang murid juga berasal dari Siria. Wajah kelu dan luluh menggambarkan beban yang dipikul oleh jutaan anak Siria yang semakin tak jelas masa depannya. Perang telah membawa pergi harapan mereka. Bersama debu, bersama dentuman meriam, bersama peluru. Menuju cakrawala gelap.

2 Kommentare (+add yours?)

  1. amariny
    Sep 14, 2013 @ 18:33:20

    ptr, manusia tidak lupa merindu,
    sayangnya manusia lupa dampak perang.
    sedihnya

    Antworten

    • Vincent Adi
      Sep 14, 2013 @ 18:50:30

      Ia mbak, namun kadang-kadang kerinduannya salah arah, egoistis dan kadang juga cuman cari untung. Dari situlah muncul konflik-konflik dan perang.

      Antworten

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: