Kisah menjadi murid lagi – bag. 20

Ruangan kerja itu tidaklah besar, di depan pintu masuk dan sepanjang lorong terpajang gambar, patung dan hiasan dari berbagai budaya dunia. Dari Indonesia tidak ada. Sebuah komputer baru telah siap dipakai. Ada meja besar dan panjang di tengah. Lemari dan laci-laci masih kosong, belum terisi. Tempat gantungan jaket dan sal tampak serasi di dekat pintu masuk. Dinding-dinding kelihatan telanjang, tanpa hiasan. Tanpa gambar. Kelihatan sudah kusam, karena memang ini bangunan cukup tua.

„Anthropos Institut“, terpajang sebuah papan di halaman depan, berdampingan dengan Bank SVD (Steyler Bank), China Zentrum dan Monumenta Serica (menangani riset ilmiah tentang China dan Jepang). Dari kamarku hanya 2 menit ke sana, melalui tangga dan lorong. Ini awal kiblat profesionalku. Meskipun masih dalam tahap „masa percobaan“ (Probezeit), saya perlahan-lahan masuk dalam ritme kerja institut. Entah ini menjadi lahan pelayananku, hanya Dia yang tahu.

„Guten Morgen…“, beberapa kali aku harus menjawab sapaan para rekan sekantor, setiap kali komputer baru saja kuhidupkan pagi-pagi sekali. Dingin mendera, maka pemanas ruangan pun segera kuaktifkan. Di luar belum ada tanda-tanda salju akan turun. Mentari sudah mulai menebarkan gaun emasnya, pertanda hari ini akan cerah. Dari jendela tampak taman di belakang gedung dengan tanaman-tanaman yang masih saja hijau.

Kuraih sebuah buletin budaya Bijtrag terbitan Belanda, kupilih sebuah artikel dalam bahasa Inggris tentang sejarah masuknya Islam dan Gereja Katolik di Manggarai (Flores, NTT). Harus dibaca dan dibuat ringkasan untuk kemudian diterbitkan di katalog „Mission and Anthropology“. Setelah selesai kuambil lagi jurnal etnologis yang berikut, „The Australian Journal of Anthropology“. Sebuah artikel tentang pernikahan campur agama di pulau Roti (Rote; NTT). Dibuat juga ringkasan singkat. Lalu saya kirim ke direktur institut via email, prof. dr. Joachim Piepke SVD. „Gut gemacht, danke Vincent…“, katanya memuji karya perdanaku. Padahal bahasa Inggrisku masuk dalam golongan „Schulenglisch“, berarti yang dipelajari dari sekolah dahulu, ditambah dengan proses pembelajaran otodidak.

„Kamu cobalah untuk membuat resensi,“ demikian kata kepala redaksi, prof. dr. Darius Piowarczyk, SVD. Dia masih muda dan siap membantu. Apalagi kami sama-sama „orang Polandia“, sedikit membuat yang lain risih. Kami tidak tanggung-tanggung berbincang-bincang dalam bahasa kami sendiri. Resensi? Berarti membaca sebuah buku, menarik benang merah lalu memberikan penilaian, apa masukan baru bagi dunia ilmu pengetahuan dari buku tersebut. Ibu Lanz-Volland memberikan buku tentang ritus seputar kematian di suku Diang (Alor, NTT). Ditulis dalam bahasa Jerman. Saya mencoba menelaah, mengupas dan mengerti. Masih cukup sulit, dengan kemampuan bahasa Jermanku yang sekarang. Tetapi „Lalong Paan“ tidak kenal menyerah. Kata P. Gechter: Langsam aber sicher (pelan tapi pasti). Nanti akan diterbitkan di jurnal Anthropos, selain artikel-artikel ilmiah yang akan datang dari seluruh dunia.

„Bis morgen…“, jam kerja sudah usai.Tetapi dilanjutkan di rumah, atau malam hari di kantor. Ya, sampai besok, pak, bu! Aku menuju tempat sembahyang, mensyukuri hari dan setelahnya santap siang. Kentang dan sosis daging. Di kamar makan riuh di sela-sela dentingan pisau dan sendok makan. Aneka wajah, aneka usia.

SAMSUNG

Figur para leluhur sebagai penjaga tempat kerja;-p

SAMSUNG Relaks di kota Aachen.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: