Kisah menjadi murid lagi – bag. 34

Jedah panjang membentang ibarat bayangan yang menguntit di belakang. Laksana tuaian yang tertumpuk di lumbung, tak sempat dipilah-pilah. Mimpi anak dusun terhenti, pengembaraan menembus lereng dan puncak seakan sirna bersama hembusan angin pegunungan yang membawanya pergi ke seberang samudera. Nyali tersentak, oh ada yang terlupa. Goresan sang murid mesti dibaharui. Maaf, wahai Dewa Sastra, dalam dinginnya musim aku hadir lagi. Salam jumpa buat semua dan semesta.

03001d01-1

Memetik kopi.

Penghujung tahun bertepatan dengan hari jadi yang ke-40 sebentar lagi. Sebuah sajadah terbentang, untuk disyukuri dan diusung ke altar persembahan. Ribuan, bahkan jutaan telah berandil dalam sejarah panjang 40 tahun. Ibu bertanya: Mau hadiah apa dari Mama dan Ayah? Kujawab: Hadiah terbesar sudah kalian berikan, yaitu bahwa aku ada. Terima kasih. Terima kasih juga buat semua yang telah menjadi sebutir kerikil mosaik dalam hidupku. Mosaik yang belum jadi, belum berbentuk, namun telah cukup indah dipandang. Sang Khaliklah yang akan menyelesaikannya.

wp_20161006_16_25_55_pro

Pemandangan dari Baumata – Kupang.

Saya baru saja kembali dari liburan di Tanah Air selama tiga bulan. Perjumpaan dan cengkerama di antara keluarga dan kerabat kenalan selalu menjadi momen „retret“ untuk saya. Kesederhanaan, kepolosan, kedekatan dengan alam dan Penciptanya memberikan warna baru bagi budi yang telah diperanai oleh kelabunya dunia spiritual Barat. Tuhan itu mutlak ada, demikian intisari religiositas asli. Dia tidak berwajah, tidak berjenis kelamin, tidak berstatus sosial dan TIDAK BERAGAMA (!!!!!!!!). Pergulatan di dada Ibunda Pertiwi atas nama Tuhan untuk mencapai tujuan politis pribadi membuat sang Ibu menangis. Tangisan dalam diam, dalam nyeri. Mengapa teramat susah untuk hidup bersama dalam damai….?

03001c24

03001b9c

Ayah, ibu dan indahnya kekeluargaan.

Kupang merangkul saya sebagai anaknya. Sebulan lebih berkisah bersama. Terima kasih buat semua yang telah menjadikan cerita itu indah dan layak dikenang. Banyak lagu dan sajak bersama, banyak tawa dan tangis bersama. Ibarat sebuah teater dengan kisah apik dan menarik. Aku berjanji akan kembali, bersandar di rahimnya yang empuk dan meletakkan kepala di dadanya yang merona bestari. Sambil menyulam kehidupan, seiring tegukan laru (tuak aren) dan cabikan kecil ikan panggang di pinggir pantai.

20161022_083349

wp_20161010_10_15_32_pro

Di Unika Kupang.

Kembang mawar merekah dalam selimut salju tipis dan udara dingin menusuk. Tetap mekar dan segar. Ingin kupetik, namun tak tega tangan menjulur. Dia penghias taman, satu-satunya kembang yang tersisa di musim dingin ini. Aku berdoa, ingin menjadi bagian dari taman semesta yang tak lekang oleh musim……

wp_20161205_08_54_10_pro

 

%d Bloggern gefällt das: