Kisah menjadi murid lagi – bagian 15

Sang murid telah lama tak berprosa. Lagi malas, lagi pekak, lagi buta, lagi lumpuh, lagi mendung, lagi sibuk. Ya, lagi disibukkan oleh petualangan di tanah antah berantah ini. Berusaha menatap ke depan, namun tetap siaga agar kaki tidak tersandung.

2013-10-23 17.23.38Daun berguguran, pertanda musim gugur.

Musim gugur tiba. Sang „musim emas“ (der goldene Herbst, złota jesień, the golden autumn) karena dedaunan yang menguning dan bercahaya laksana biasan sang Mentari yang mulai malas untuk bersinar. Pepohonan mulai menanggalkan daun, ibarat permaisuri bersiap-siap menuju pelaminan mencari kehangatan, karna sebentar lagi musim dingin datang menyapa. Kicauan burung semakin serak mendendangkan lagu „the last heroes“ yang bertekad membusungkan dada menentang kebekuan musim. Bebungaan memucat, dengan sisa kekuatan terakhir berjuang menyemarakkan semesta. Tarian alam semakin lelah. Kucing hitam di taman makin jarang muncul.

Sang murid melaju dalam pelayaran mengail makna. Sebentar-sebentar membentur pada karang, kemudian dihantam badai, lalu kemudian mabuk terkapar menanti datangnya mentari pagi. Tutur asing negri ini mulai dikuasai, aksara-aksara tidak lagi kaku. Akhir pertualangan mulai nampak, meskipun beberapa mil yang tersisa harus dilalui di atas gelombang cukup tinggi. Dayung sang murid masih kelihatan kuat, lengan dan jidatnya yang berkeringat masih tetap tampak  tegar.

Setiap hari dia bersua dengan seorang uzur, pensiunan profesor yang selalu setia dan sabar menggurui. Eyang romo selalu ceria, meskipun dia sedang sakit berat. Beliau selalu penuh perhatian mendengarkan cerita dan tutur sang murid. Dia amat tertarik dengan kisah-kisah aneh dari budaya Nusantara, dia merasa diperkaya. Sang murid membiasakan kuping dengan tuturan asli orang negri, bertanya dan berbalas kata dengan sang eyang. Panjangkan usia Dia, o Gusti….

Di sela-sela petualangan sang murid juga melanglang negri. Sekedar melihat kehidupan asli dan mengembangkan daya tutur. Berbagi-bagi senyuman bersama sahabat dan kerabat. Ini kisah dari Rheinland Pfalz: indah alamnya, santun tuturnya, nikmat anggurnya….

2013-10-25 14.30.17Pemandangan ke kampung Trittenheim yang dikelilingi kebun-kebun anggur.
2013-10-25 15.05.16Di sebuah pabrik anggur asli bersama pemiliknya Herr Karl Josef. Botol anggur berlabelkan „tahun 1963“.Semakin tua usia anggur, semakin enak rasanya, semakin mahal pula harganya.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: