Kisah menjadi murid lagi – bagian 16

17

wyn

Sisa-sisa musim hangat – suatu ketika di Odenkirchen

Musim gugur bertahta, seakan berdendang ria dalam irama tetesan hujan, yang tanpa henti menyirami tubuh sang bumi yang kian telanjang. Lekak-lekuk alam diguyuri air pembawa hidup, sekaligus pembawa bencana. Dia memerciki bukit-bukit, membasahi lereng-lerengnya. Muncratan mengalir lamban ke muara, di mana gerbang samudera kebebasan menanti. Sang bumi menggeliat, syahwatnya penuh.

Sang murid tercengang-cengang menatap lewat jendela. Gaun emas sang bidadari telah terganti oleh selimut suram. Kusut ditimpa gerimis terus-menerus. Lembab digantungi gumpalan-gumpalan mimpi yang tak menjadi-jadi. Setapak di taman seakan kesal, tak digubris para dewa. Kotor, tak berdandan, lesu. Paduan suara burung telah diam.

„Sahabat sejati adalah permintaan maaf Tuhan atas keluarga“ demikian penulis Irlandia Bernard Shaw. Ya, kata orang Eropa, sahabat lebih dipercayai ketimbang sanak keluarga, misalkan dalam hal berbincang tentang segala kisah dan jatuh-bangun kehidupan. Dengan sanak saudara, orang Eropa enggan berbagi rasa. Keluarga adalah takdir Tuhan, sehingga harus diterima, apapun bentuknya. Dan bentuknya pun sering tak seindah mimpi – demikian kepercayaan mereka. Lalu Tuhan pun memberikan seorang sahabat, sebagai wujud „maaf“ atas takdir kekeluargaan tersebut. Tetapi orang Asia lebih mempercayai sanak keluarganya. Sahabat akan dianggap sebagai anggota keluarga, tetapi tidak semua topik akan dibicarakan dengannya.

Sang murid terkenang sanak saudaranya. Teman terdekat untuk bercanda, saling mengejek ria, juga berbincang. Salah seorang saudara sang murid beranjak ke pelaminan, nun jauh di kampung. Musik dimainkan, tari-tarian dipentaskan. Gundah hati, sebuah lagi pesta keluarga tidak dihadiri.  Nasib murid, nasib pengembara. Nasib musafir, meskipun lantunan doa dalam sajak dan pantun tak pernah lupa untuk dibisikkan. Gusti, panjang usia dan beranak-pinaklah mereka…..

Sahabat sang murid? Adakah sahabat yang sejati? Dia menyapa dengan caranya yang unik, merasakan kegalauannya dan bergembira dalam kesenangannya. Sahabat selalu bertutur: „Ich bin trotz allem bei dir“, apapun yang terjadi, aku selalu ada. Senyumnya membuai dunia, membawa ke alam mimpi, di sana ibarat pulau teduh, tanpa keriuhan, tanpa kebisingan. Sahabat menjadi inspirasi untuk berpuisi, berlagu, bertempur dan juga untuk berdoa. Untuk memperoleh sahabat yang baik, belajarlah dahulu menjadi sahabat yang baik bagi orang lain – demikian dalam tulisan persiapan ujian nasional bahasa Jerman: Memuji dan mengeritik, menerima dan memberi, serius dan juga penuh humor, kebersamaan tetapi juga kesendirian, kepercayaan dan juga budaya bertanya (bukan mencurigai), harmoni tetapi juga budaya berdiskusi. Teorinya menawan, tetapi betapa sulitnya diejawantahkan. Manusia hanyalah insan lemah.

1383284337121Saudaraku menikah. Profisiat!!

13832471567651383247241718Petualangan dan kelelahan bersama Wayan.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: