Kisah menjadi murid lagi – bagian 17

Pertempuran itu sebentar lagi berakhir. Medan terberat sudah dikuasai, selama dua hari (Kamis-Jumat) sang murid bergerilya di belantara lebat. Musim yang sudah menjadi sangat dingin tidak memudahkan pergerakan mengarungi rawa-rawa gramatika dan semak belukar aksara tutur asing ini. Setelah dua hari, dengan menepuk dada sang murid berdiri di atas bukit: aku sudah sampai di sini, puncak harus kuraih. Kamis depan serangan penentu, apakah bendera lawan dapat direbut, ataukah gugur dan harus memulai pertempuran dari titik awal lagi. Berilah kesaktian, o Gusti…..

„Kebutuhan tidur manusia sangat berbeda-beda“ – itulah tema dari ujian akhir nasional bahasa Jerman bulan ini. Tidur sangat penting bagi kehidupan manusia, tidak terlalu lama dan tidak pula terlalu singkat. Ada yang bisa segar bugar hanya setelah tidur selama 5-6 jam, ada yang membutuhkan 9 jam sehari. Ada yang lebih suka tidur menjelang pagi dan bisa bekerja sepanjang malam, ada juga yang mulai tidur begitu ayam-ayam masuk kandang atau naik pohon. Tidur yang baik menjamin jiwa dan raga yang sehat, menjamin juga efektivitas kerja dan produktivitas karsa yang bermutu. Di masa sekarang kantor-kantor dan perusahaan-perusahaan tidak menjamin jam istirahat siang bagi para pekerjanya. Menyedihkan. Itulah sebabnya ada budaya baru di Jepang, INEMURI namanya. Artinya adalah memanfaatkan waktu kapan saja untuk bisa sebentar tidur. Di halte bus, di kereta, di tram. Dalam keadaan berdiri, berbaring maupun duduk. Dengan demikian jam tidur mereka yang direbut oleh tuntutan kerja menjadi terkompensasi.

japanese-inemuriInemuri. Foto: Mike Richard, Vogabondish.

Japan Daily LifeInemuri. Sumber: Spiegel Online.

Di Spanyol „siesta“ adalah sesuatu yang wajib. Alasannya: cuaca panas, terutama di musim panas. Mereka diijinkan tidur selama sejam lebih, sebelum melanjutkan kerja mereka. Meskipun dengan demikian jam kerja akan diperpanjang, tetapi hasil kerja akan lebih terjamin. Di asrama-asrama katolik dan di biara-biara di Indonesia ada kewajiban tidur siang. Tetapi tetap saja dilanggar oleh para asuhan. Sang murid teringat masa remaja, saat diwajibkan tidur siang, bersama teman-teman pergi mencuri singkong. Setelah itu saat belajar sore, kantuk tidak bisa ditahan. Untuk mengusir rasa kantuk, berbincang-bincanglah dengan teman. Lalu dipergok pengasuh asrama, disiksa berlutut. Bego kan? Sudah diberi kesempatan beristirahat, malah tidak dimanfaatkan.

Tema tentang berbedanya kebutuhan dan jam tidur dari masing-masing kita dapat menjadi contoh untuk mengerti betapa berwarna-warninya dunia kita ini. Begitu banyak wajah, begitu banyak agama, begitu banyak warna kulit dan keyakinan pribadi. Apakah masing-masing kita hanya boleh bergelut dalam kelompok kita masing-masing? Hidup dalam diversitas memang berat. Butuh dialog, saling menghargai dan menerima apa adanya. Harus ditemukan apa yang mengikat kita, bukan yang memisahkan. Apakah Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila sudah cukup menjamin keselarasan hidup bersama di Nusantara? Seharusnya bisa, tetapi sering dilupakan, sering disepelekan, dikesampingkan demi kepentingan golongan tertentu dan pribadi. Filsafat leluhur dan nenek moyang seringkali diinjak-injak. Curahkan budi pekerti nan luhur, o Gusti…..

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: