Kisah menjadi murid lagi – bagian 18

Pertempuran itu telah berakhir. Sang murid bertepuk dada, setelah ribuan bukit dan ngarai dilewati. Ada rasa bangga, sebuah petualangan telah cukup jauh ditelusuri. Namun dia sadar, dia tetap saja berjuang di lereng, menuju puncak sakti. Sebentar-sebentar jalan setapak itu menurun, sebentar lagi mendaki. Ada tawa ria penghuni suaka, ada senyum kembang-kembang yang tidak taat pada musim dingin: tetap mekar.

Gerhard dan Rita. Seusia orang tua sang murid di kampung. Di rumah mereka sang murid mempraktekkan bahasa. Semenjak hampir dua minggu. Suasana sangat kekeluargaan, akrab dan tanpa basa-basi. Keduanya sudah pensiun, tetapi masih aktif dalam sejuta kegiatan, gerejawi maupun duniawi. Banyak tawa dan kepolosan. Banyak keleluasaan, saling pengertian. Bertiga bersama sang murid mereka mendalami kehidupan, sang murid belajar mengenal realitas kehidupan. Berilah mereka umur yang panjang, o Gusti…

2013-12-09 00.01.46

2013-12-09 00.02.31

Jam 00.00. Champagne diminum sambil mengucapkan SELAMAT HUT, anak dan saudaraku….

 Bapa Suci Fransiskus men-„teorisasi“-kan kiblat dan kotbahnya dalam exhortasi GAUDIUM EVANGELII. Dia menegaskan aspek kesederhanaan dan kemiskinan secara rohaniah, tetapi di lain pihak dia tekankan juga solidaritas dengan orang-orang yang berkekurangan dan juga terutama kegembiraan anak-anak Allah. Beriman dan percaya kepada Tuhan bukan berarti hidup dalam kesedihan, ketakutan dan rasa tertekan. Allah adalah kegembiraan dan sumber kebahagiaan. Ide yang sangat populer dan diketahui semua orang, tetapi sudah amat terlupakan. Dunia masa kini berjuang memperkaya diri dan menutup telinga terhadap teriakan anak-anak terlantar di benua lain, terhadap perjuangan meraih keadilan di tengah kebekuan salju di Ukraina, terhadap ratapan lirih jiwa-jiwa kaum muda Eropa yang tersesat dan misorientasi. Dunia menangisi kepergian Sang pembebas Nelson Mandela, tetapi belum seluruh Afrika terbebas, malahan penjajahan baru oleh anak-anak benua sendiri tidak kalah kejinya dari kolonialisme jaman dulu. Quo vadis, duniaku….?

Ada sebuah kisah untuk renungan Advent. Seorang petani miskin membawa sebakul buah anggur yang ranum ke gerbang biara. Saat gerbang dibuka oleh sang juru kunci, bruder Kasmir, sang petani bertanya: „Bruder, tahukah bruder, untuk siapa anggur yang terbaik dari kebunku ini?“ „Tentu saja untuk  Abas, pemimpin biara kami“, jawab bruder Kasmir. „Bukan, anggur ini untuk bruder, karena bruder selalu membukakan gerbang buat saya, saat saya membutuhan pertolongan,“, tutur sang petani yang baik hati itu. Bruder tercengang, lalu mengucapkan terima kasih atas hadiah yang indah itu. Sesaat kemudian sang bruder berfikir, bahwa hadiah tersebut lebih layak buat pemimpin biara. Dibawanya pun bakul tersebut kepada Abas. Abas kemudian ingat akan seorang pastur tua yang sedang sakit, dan mengantar bakul anggur tersebut kepada beliau. Sang pastur yang sakit pun teringat akan seorang bruder tua yang hanya bisa memakan buah-buahan, karena giginya sudah tanggal semua. Sang bruder tanpa gigi menerima anggur tersebut, namun dia ingat akan anak-anak yang sering datang membantu di taman biara. Anak-anak tersebut pun teringat akan ibunda mereka yang sedang sakit, dan mereka membawa bakul anggur tersebut ke rumah. Dan mereka adalah anak-anak dari petani baik hati yang mengantar bakul anggur tersebut ke gerbang biara. Bakul berisi anggur ranum kembali ke rumah sang petani dengan dipenuhi berkat dan makna cinta.

SELAMAT MENJALANI MASA ADVENT SEMUANYA.

Niederpleis, 12.12.2013.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: