Kisah menjadi murid lagi-bagian 21

Tajamnya sinar mentari seperti hendak meremukkan kaca jendela di bilik kerjaku. Kain gorden kusingsingkan, biar cahaya tidak memantul ke layar komputer. Tumpukan tugas menanti, bingung hendak memulai dari yang mana. Sudah hampir tiga bulan di tempat magang ini, sulit juga untuk memutuskan „ja“ atau „nein“. Tutur asing yang tetap saja sulit ini membuat jiwa sering memberontak, mundur enggan, mati tak mau. Akan tetapi musim semi berdandankan dedaunan hijau dan bunga warna-warni menyejukkan nubari. Ditambah kicauan burung dan tari-tarian satwa menambah girangnya hati yang sedang mencari-cari ini.

Ya, bergirang, bergembira. Itulah tema rekoleksi KKI Belanda-Belgia di Tilburg tanggal 29 Maret kemarin. Suasana riang dan penuh sukacita, mencontohi senyum sang Bapa suci Fransiskus, menjadi selimut seluruh acara yang saya pandu bersama sr. Elvira SSpS. The smiling Pope menawarkan „revolusi keberimanan“ dengan lebih mengedepankan kegembiraan injili. Orang beriman hendaknya menjauhkan kesan „psikologi kuburan“, seperti mumi-mumi di museum, melainkan lebih mewartakan sukacita dan hidup dalam sukacita anak-anak Allah itu sendiri. Teori yang bagus dan tidak asing bagi kita, tetapi untuk mengejawantahkannya dibutuhkan relasi dan kerjasama yang erat serta tanpa henti dengan Allah sendiri. rekol1

Sebagian dari para peserta rekoleksi Tilburg, 29 Maret 2014

Belanda. Negeri yang dibangun di atas rawa-rawa. Letaknya lebih rendah dari permukaan laut. Negeri kincir angin, karena angin selalu cukup kencang bertiup dan orang-orang pintar memanfaatkannya sebagai sumber energi. Sangat ekologis. Pemandangan indah, apik dan rapi, ya seperti Jerman atau Polandia. Tetapi negara ini kecil, sehingga mudah ditata. Masuk ke sana, padahal cuman sejam atau dua jam perjalanan dari Jerman, kita rasakan bahwa kita berada di negara lain. Itu saja kesan saya. Aha, dan banyak ikan segar, kepiting, udang, cumi-cumi dengan harga yang amat murah.

foto Rekoleksi n Volendam 29-30 Maret 088

rekol2

 Mencoba ikan haring mentah dengan bawang, tradisi Belanda.

Hari ini Prima Aprilis, hari tipu, hari saling berbohong ringan, hari untuk „mengerjain“ teman. Di Eropa sudah dikenal sejak abad pertengahan. Tetapi tidak ada kepastian tentang asal-usulnya. Ada yang percaya, bahwa kebiasaaan tersebut berasal dari pesta romawi Cerialla, untuk menghormati dewi Ceres yang tertipu oleh suara putrinya yang diculik Pluton pada saat pencarian. Suara tersebut mengantarnya ke padang. Ada juga yang percaya, bahwa Prima Aprilis bermaksud mengenangkan awal tahun baru masa kuno, sebelum reformasi Julian, yang jatuh pada tanggal 1 April. Hadiah tahun baru yang sampai saat itu diberikan pada tanggal 1 April, diganti ke tanggal 1 Januari. Dan di hari 1 April hanyalah hadiah tipu-tipuan. Menariknya, ada yang percaya bahwa tanggal 1 April ada hari kelahiran Judas Iskariot, pengkhianat Yesus.

Apapun asalnya, Prima Aprilis hendaknya jangan digunakan untuk penipuan besar, kejahatan dan pengkhianatan. Hendaknya tetap menjadi hari saling berguyon, saling „ngerjain“ biar bisa tertawa dan bersenang-senang. Karena kegembiraan lahir dan bathin adalah tanda pengenal anak-anak Allah. 

foto Rekoleksi n Volendam 29-30 Maret 103

 

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: