Kisah menjadi murid lagi – bagian 24

Mawar,

Aku di sini lagi. Desau angin yang menimpa dedaunan kuning terasa seperti musik sayu. Rentetan sirene ambulans menambah kusamnya petang. Di manakah kicauan burung-burung musim panas? Di manakah gurauan tupai mengumpulkan buah kacang Itali? Aku makin yakin, sebentar lagi musim gugur tiba. ataukah sudah tiba? Semaraknya alam diganti gemercik gugurnya daun, untuk hancur dilumat ibu bumi dan menjadi penyubur bagi kehidupan baru di musim semi besok.

Aku menatap ke sudut kamar. Kau tegak di kaki jendela. Sebulan lebih kutinggal pergi, mengembara dan mengabdi. Kau tetap mekar. Setia menanti dengan helai-helai kecantikan dan kelopak keindahanmu. Hayatku penuh, adamu ibarat orkestra simfoni megah namun ayu menyapa, lengking namun lembut menggoda, hentak namun halus membelai. Kudekati dirimu, kukecup ujung kembangmu. Aroma alami. Ibarat sentuhan cinta pertama insan yang sedang jatuh cinta. Aku pun lupa akan murungnya petang.

Mawar,

Kembaraanku berlalu begitu cepat. Jauh di negeri selatan. Bersama anak-anak Tuhan aku berlagu, berpuisi, bercandaria dan juga berpasrah tawakhal di hadapan Dia. Oh, kusebut selalu namamu, Mawar, biar dikau tetap mekar dan aromamu tetap penuh ke seluruh taman. Di sana ku siangi ladang anggur Sang Khalik, ku rawat dan ku jaga. Ya, biar berbuah dan membawa hasil berlimpah. Penyegar dahaga di tengah kegerahan bumi yang semakin berhasrat untuk berperang ini. Pembangkit harapan bagi semua jiwa yang sedang luluh dihimpit ketidakpastian nasib. Biar seperti dirimu, selalu mengembang lantaran penuh cinta.

Aku telah kembali. Namun kisah-kisah bumi tetap panas. Ibu Pertiwi telah mengurap pemimpin baru, namun para penantang tetap lantang. Seandainya mereka mengerti betapa luhurnya air mata sang ibu, tentu saja semuanya akan mau duduk bersila di beranda, berembuk dan menyulam puisi kedamaian. Di sudut bumi, pesawat-pesawat perang beterbangan siap tempur. Siapa yang beruntung dan siapa yang dirugikan? Kasihan kita rakyat jelata, harga sayur-mayur naik, namun harga diri turun. Diinjak-injak. Ingin kuajak semua berlindung di rimbunan kembangmu yang elok dan wangi, namun aku cemburu.

Mawar,

Kutulis lagu petang ini mengiringi kepergian sang hari. Oo, sang mentari mendadak muncul. Pasti sebentar lagi pergi dan bertahtalah sang rembulan. Cahayanya akan menimpa keelokanmu, memantulkan cinta sejati ke langit dan menyinari keremangan hati. Di antaranya kunang-kunang akan berkejar-kejaran, berlomba-lomba mengantar lagu asmara ke mimpi malam. Akan kubuka jendela kusamku yang berdebu, kubiarkan kembang plastik menengok dan cemburu akan keaslian dan kecantikan parasmu. Kuambil gitar dan kusiram dikau dengan lagu dan lantunan pantun. Aku jatuh cinta.

Memori dari negeri selatan bersama abdi-abdi Sang Sabda Hila (Botswana) dan Ciko (Aulendorf):

SAMSUNG

DSC_0198

DSC_0210

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: