Kisah menjadi murid lagi – bagian 28

new   Menikmati mentari musim semi

    Mentari siang itu sangat menyengat, seakan tahta musim semi telah tergeser oleh musim panas. Kicauan burung dan jutaan bebunyian rimba menyatu dalam deru mobil Ford yang nyaris tak terdengar. Puluhan kendaraan lain berlomba-lomba saling mendahului, mengejar tujuan yang tersembunyi di balik bebukitan di depan mata. Pemandangan di sepanjang jalan belumlah sepenuhnya bersemi, pepohonan sepertinya enggan menghijau. Bebungaan mekar, namun tak seimbang dengan warna dedaunan yang kelabu, layaknya selimut musim gugur. Padahal baru saja bulan April, semesta seharusnya telah segar bugar menyongsong puncak pesta dari keempat musim.

      Di sebuah kota kecil, Gummersbach, navigator menggiring keempat roda mobil menuju sebuah pemukiman di daerah pinggiran. Terdengar musik dan tawa ria. Aku terperangah, betapa bahagianya para penghuni daerah ini. Di hari biasa mereka bermusik, berpesta sambil membakar barbeque, ketika seharusnya berada di tempat kerja: kantor, pabrik, perkebunan dan peternakan. Mereka ini bercanda ria sambil menikmati cahaya matahari, impian belaka di jam-jam ini bagi para pegawai di kantor. Setelah bertanya-tanya, siapakah gerangan mereka, aku mendapatkan jawaban: pengungsi!

    Para pengungsi, asylant, imigran ilegal menjadi fenomen serius akhir-akhir ini di negara-negara maju. Para korban perang atau kesulitan internal politis lainnya memilih bermigrasi ke negara-negara maju. Sejak masa perang dunia pertama dahulu, para pengungsi telah memilih mengarungi samudera luas untuk mencapai Eropa. Baru saja dunia heboh dengan tenggelamnya kapal pengangkut imigran di dekat Lampedusa, sebelah selatan Italia, 800 orang meninggal. Menurut statistik, sejak 2010 sudah 3000 orang kehilangan nyawa di Laut Tengah dalam perjalanan mencari kehidupan yang lebih layak di negeri impian. Jerman menerima ribuan imigran setiap tahunnya. Mereka diberi jaminan hidup yang layak, diajarkan bahasa Jerman, anak-anak disekolahkan dan juga orang-orang dewasa diberikan pekerjaan. Meskipun standar kehidupan mereka sedikit di bawah rata-rata, namun mereka mendapatkan rasa damai dan hak-haknya sebagai manusia dihargai. Di belakang biara SVD di Sankt Augustin, tempat kami tinggal, sebuah rumah kecil sudah dihuni oleh para imigran ilegal, sebentar lagi lapangan bola sebagiannya diisi dengan kontener untuk ditinggali pengungsi berikutnya. Para imigran menjadi salah satu prioritas misi SVD!

        Dari sekian banyak suara yang bisa didengar, ternyata ada banyak juga keluhan dari orang-orang Eropa (Jerman) tentang imigran yang menjadi tetangga mereka. Perbedaan budaya masih dapat ditolerir. Namun ada mentalitas tertentu yang tidak berubah. Sebagian besar kaum pengungsi merasa „keenakan“ menerima jaminan dari negara dan Uni Eropa, sehingga tidak mau lagi berusaha mencari pekerjaan. Banyak yang tidak mau bekerja kasar, sehingga memilih tinggal di rumah saja dan berpesta, seperti contoh di kota kecil Gummersbach di atas. Dilema moril bagi Eropa: menerima atau menolak mereka?

        Dalam perjalanan pulang bebukitan dan lembah telah mulai perlahan mengenakan gaun senja. Sekuntum mawar merekah, tersenyum ke arahku sepanjang petualangan hari itu, menjadi sahabat ziarah walau cuma sehari. Sehari yang penuh makna, namun juga penuh tanda tanya tak terjawab. Kita semua ini sebenarnya adalah pengungsi, kita bermigrasi menuju sebuah kehidupan yang lebih sentosa, terjamin dan penuh damai. Kelopak mawar mengetuk di kaca mobil, tanda aku telah sampai di rumah lagi. Sang kembang menjauh, tampak di dahannya kuntum baru. Sebentar lagi mekar dan merekah, sahabat baru buat petualangan berikutnya.

 

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: