Kisah menjadi murid lagi – bagian 29

Aku menengok keluar kantor lewat jendela kaca. Musim ini seakan bimbang menetap. Laksana anak-anak kelinci yang hiruk-pikuk di lubang dan enggan keluar: mengintip, kepala diulur, mengendus-endus, namun tak ingin keluar dari persembunyiannya. Cuaca tak pasti, ah betapa tak tenangnya hati para petani – apalah yang hendak dipanen di akhir musim, sedangkan bebungaan pun enggan menjadi buah. Betapa tak pastinya nasib para nelayan, angin berubah-ubah seakan tak taat lagi pada nujum leluhur. Cicit burung di taman tetap ramai dan gaduh, ya kehidupan tetap berputar sesuai rumusnya, sealun mantra doa pagi dan ibarat ajakan sahur buat insan tawakkal.

Köln 28 Juni 2015 petang. Udara pengap menemani aku dan Dr. Fidelis R. Waton menyusuri lorong Caecilianstrasse Neumarkt menuju Rautenstrauch-Joest Museum. „Islam diaspora dan tantangannya“ – demikian tema temu seni budaya dalam rangka persiapan untuk Pameran Buku Internasional di Frankfurt (Oktober nanti) dengan Indonesia sebagai „Guest of Honour“ – nya. Seminar dan diskusi tentang wajah Islam adalah bagian utama dari temu ini, yang dikemas oleh bapak Slamet Rahardjo Djarot dan timnya secara apik dan kreatif. Dimulai dengan pementasan puisi diiringi kecapi (Iman Soleh dan Atjep Hidayat) lalu ruang sastra bersama pejuang kemanusiaan muda novelis Okky Madasari dan sastrawan Triyanto Triwikromo dan dilanjutkan dengan ranah ilmiah bersama tokoh islam intelektual Prof. Dr. Mouhanad Khorchide, Dr. Syafiq Hasyim, Dr. Luthfi Assyaukanie dan pemerhati dan ahli ilmu Asia dan islam Prof. Dr. Claudia Derich. Islam mengajak penganutnya untuk berintegrasi dengan Eropa dan Eropa diminta untuk mengakui keberadaan Islam bukan sebagai saingan dan musuh dari nilai kekristenan, namun partner dalam dialog untuk menjadikan dunia lebih baik, tanpa perang, tanpa pengungsian massal, tanpa bom molotov.

„Aku suka desa, – demikian mulai bertutur bapak Slamet Rahardjo, saat kami ditraktir beliau untuk makan malam di Haus Java – desa itu penuh kompromi, tidak ada ‚aku‘, yang ada hanyalah dimensi ‚kita'“. Aku bangga dalam hati menjadi anak desa. Tak perlu berkecil hati bila dikata-katai „Deso!!“ Sepanjang malam mulutku menganga mendengar kisah-kisah beliau tentang kebanggaannya menjadi putra Indonesia dan duta budaya. Sosok yang dahulu aku lihat cuma di layar televisi, sekarang mentraktir makan dan duduk berbincang ria.  Di tengah riuhnya gelak tawa kami, sang wanita muda, cantik dan berparas sangat cerdas, novelis Okky Madasari tenggelam dalam pergulatan mayanya memperjuangkan keadilan anak-anak negeri, untuk sebentar dituangkan ke dalam novelnya. „Pasung Jiwa“- novel terbaru beliau ingin saya baca, namun belum terjual di Jerman. Saya menoleh-noleh, di mana penulis cerpen pak Triyanto Triwikromo yang dulu mulai naik daun dengan kumpulan cerpen „Rezim Seks“ – nya? Kata mereka, beliau sudah duluan pulang; pasti lebih memilih di sudut kamar hotel dalam hening meracik inspirasi baru buat cerpen berikutnya. Guyon lepas intelektual Islam dr. Syafiq Hasyim membuat pipi kami membengkak, sepanjang malam tertawa. Betapa indahnya kebersamaan.

WP_20150628_22_11_55_ProPak Slamet Rahardjo, Ennie (sebentar lagi doktor sosiologi) dan saya.
WP_20150628_16_47_25_ProBersama novelis kondang Okky Madasari.

WP_20150628_001

WP_20150628_17_04_52_ProPose dengan penulis cerpen sastrawan Triyanto Triwikromo
WP_20150628_19_07_42_Pro„Guru“ teater nasional Indonesia, Iman Soleh.

Bebuahan strawberry sudah merah matang di dahan-dahan kecil, siap dipetik. Mawar merona di kejauhan, seakan tersenyum ke dalam nubari melalui kaca jendela. Petang ini udara telah panas kembali. Lambaian dedaunan seakan mengusung sang mawar mengajakku berpesta ria di taman. „Sebentar lagi,“ jawabku, „ku lepaskan busanaku dahulu. Aku ‚kan menari bersamamu dengan bertelanjang kaki, telanjang dada, telanjang kepala. Namun bermantelkan nurani, berbajukan iman…“. Nostalgia hari kemarin masih hangat di benak. Sebentar lagi jam 16.00. Aku harus berkemas mengikuti kursus pendalaman bahasa. Ya, karena aku tetap seorang murid dan akan menjadi murid lagi sepanjang hayat. Murid perguruan penuh kebijakan dan ketulusan rasa dan kata, seperti perjumpaan kemarin di kota Köln, di restoran Indonesia Haus Java, di jalan pulang, di mobil dan di dalam doa malam menjelang mimpi, di dalam kenangan dan persahabatan.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: