Kisah menjadi murid lagi – bagian 3

Dering wecker di fonselku mengagetkan aku dari mimpi indah. Mimpi tentang musim semi yang telah tiba mengetuk kaca jendela diiringi kicau burung pagi. Kubuka mata, kunyalakan lampu. Pukul 06.20 pagi. Mata terasa berat, enggan rasanya keluar dari selimut, satu-satunya teman tidurku. Meskipun pemanas ruangan berjalan baik, aku tetap merasa dingin. Oh ternyata celana piyamakuku sudah melorot.Pantasan saja aku kedinginan. Kebesaran barangkali? Berat badanku turun? Perasaanku tidak, malahan naik. Tetapi aku harus segera bangun dan mempersiapkan diri memulai hari baru lagi. Setelah gerak-gerak badan sebentar, aku beranjak menuju kamar mandi, membereskan diri sebentar dan mandi pagi dengan air hangat. Betapa mewahnya. Di kampungku air dingin saja harus berebut. Padahal sumbernya banyak, pipa-pipa ada, tetapi airnya tidak pernah sampai ke pemukiman, semuanya disedot para lintah.

Kuputar kopi coklat dan kusantap dengan sekeping roti, sebagai bekal dalam memulai petualangan hari ini. Masih ada 15 menit lagi. Kubuka buku catatan les bahasa Jerman dan sambil menikmati kopi pagi, saya mengulang-ulangi pelajaran sehari sebelumnya. Nasib menjadi murid. Seumur ini masih saja sekolah dan disuruh membuat PR segala. Hmmm…

Pukul 07.10 aku bergegas menuju stasiun kereta yang berjarak hanya 500 meter dari rumahku. Dingin menusuk. Salju tipis menghampar, ibarat permadani putih tipis. Indah, tetapi dingin membeku. Jam begini kereta biasanya sudah agak kosong penumpang, sehingga ada tempat duduk. Saya selalu memilih di ujung gerbong. Gadis berpayung yang juga selalu memilih tempat yang sama, tersenyum dan mengangguk sopan ke arah saya. Saya tidak kenal dia. Wajahnya bulat, usianya sekitar 20-an tahun. Rambutnya panjang, di dahinya terpotong rapi. Rupanya seorang mahasiswi dan seorang bermartabat baik. Setelah balas mengangguk, ku hidupkan smartfon, kubuka website Doa Harian Brevir. „Ya Allah bersegeralah menolong aku. Tuhan, perhatikanlah hamba-Mu….“ Lalu aku mulai mendaraskan mazmur pagi. Kusyukuri hari yang baru, kupuji Dia atas kebaikan yang dianugerahkan-Nya sepanjang hari dan malam yang lewat, kupinta berkat-Nya bagi semua orang, sahabat dan kenalan.

Setelah ku selesai mendaraskan doa pujian pagi, kutatap wajah para penumpang kereta pagi. Dari wajah mereka tampak jelas kelihatan, siapa yang sedang menuju tempat kerja, dan siapa pulalah yang baru saja kembali dari kerjanya. Lembur malam. Orang-orang muda tekun menyurfing tablet dan smartphone mereka. Orang-orang berusia tengah umur tenggelam dalam buku atau koran. Ada yang berbincang-bincang, tetapi tidak keras. Sepi. Di sampingku seorang muda tertidur pulas. Terasa bau rokok dan alkohol dari mulutnya. Barangkali dia pekerja lembur malam.Atau juga seorang gelandangan peminum.

Di stasiun utama Bonn aku turun dan bergegas menuju halte bis. Gadis berpayung di kereta ternyata juga sedang menunggu bis di sini. Aku tersenyum lagi dan dia balas mengangguk. Di bis kami duduk berjauhan. Dia bukanlah kenalan atau sahabat saya. Setelah turun dari bis, aku menatap ke menara gereja tua. Pukul 07.55 pagi. Aku tepat waktu. Di hadapanku terpampang tulisan: Sprachkurs Institut. Artinya: institut/sekolah bahasa. Lalu pertanyaan yang sama kembali muncul: untuk apakah aku lakukan semuanya ini? Aku pun menuju ke pintu gerbang sekolah dan menekan bel. (bersambung)

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: