Kisah menjadi murid lagi – bagian 30

Melalui jendela kamar hunian baruku ini cahaya mentari seakan menikam, menembusi celah dedaunan yang masih saja rimbun. Dalam hembusan angin halus, tetarian mereka seakan mengukir lukisan fatamorganik dari sinar kuning emas di lantai kamar. Permadani menjadi berubah rupa, sebentar-sebentar cerah, sebentar-sebentar redup. Di luar jendela sebenarnya sudah cukup dingin, musim panas sudah diajak pergi oleh beburungan tropis, jauh menuju Pasifik. Musim gugur datang agak terlambat, membuat alam masih cukup asri dalam gaunnya yang hijau. Namun, di sana-sini warna keemasan sudah mulai tampak, pertanda sebentar lagi semesta berganti lagu, dari lagu ria menjadi lagu nostalgis. Memang, musim gugur sangat sentimental coraknya.

IMG-20150723-WA0002Di pasar rakyat  Dusseldorf

Musim panas terik kemarin saya habiskan di kantor dan juga di sebuah paroki kecil bernama Kissing di dekat Augsburg. Kota Augsburg sendiri sudah berusia lebih dari 2000 tahun, didirikan oleh Kaiser Agustus. Panorama arsitekturalnya benar mencengangkan, mulai dari selokan dari batu sampai istana yang sebuah ruangannya seluruhnya terbuat dari emas. Dalam hati saya berpikir, 2000 tahun yang lalu nenek moyang saya masih tinggal di liang dan masih berbulu-bulu badannya (meskipun penemuan Homo Florensis membuat kita sedikit bangga, bahwa nenek moyang kita juga dulu pintar dan sudah beradab). Di paroki Kissing saya berkutat dengan persiapan bahan kuliah tentang inkulturasi musik di Asia Tenggara, sehingga terik yang mencapai 40 derajad Celcius saya hindari.

WP_20150810_14_37_31_ProLatar pegunungan Alpen, Jerman Selatan

Pertengahan September, dengan sebuah mobil Renault saya bergerak menuju Lublin di Polandia. Seluruh jarak yang harus ditempuh (pergi dan pulang) hampir 3000 km. Saya membayangkan para sopir yang bekerja sehari dengan menempuh ratusan bahkan ribuan kilometer… Tuhan kuatkanlah mereka! Saya menginap di rumah SVD di Chludowo, kemudian bermalam di rumah sahabat-kenalan di Lublin dan dalam perjalanan pulang di rumah saudari Dortin di Poznan. Kami bernostalgia tentang kampung halaman dan kisah-kisah dari hilir Wae Mokel.

Dalam minggu  yang baru saja lewat (27.09 – 02.10) saya mengikuti pertemuan para misionaris SVD BARU yang bekerja di Jerman, Swiss dan Austria. Pertemuan bertemakan MIGRASI, tema yang sedang aktual di Eropa. Eropa kini bersikap bak gadis cantik di kamar kaca, menggoda tapi tak boleh disentuh , tidak lagi seperti beberapa minggu berselang, menggadaikan kenikmatan dan keindahannya ke mana-mana. Tetapi kami memfokuskan diri pada karya kami di antara para migran (bukan pengungsi) yang berasal dari luar Eropa. Gereja bersifat universal, maka dengan adaya para imigran, Gereja akan semakin universal, berarti lebih katolik.

DSC_0268ßnewBerpose sebelum pertandingan sepakbola melawan team dari pengungsi. Mereka menang 5-3.

DSC_0081Misionaris baru SVD di tiga negara: Jerman, Swiss dan Austria

Sebelum menuju tempat pertemuan saya mengunjungi sahabat lama, Rm. Stef dan Rm. Yos di dekat Basel. Pertemuan yang juga tidak kalah membangun. Dari karya mereka patut satu hal perlu digarisbawahi: kesederhanaan adalah dasar misi. Keterbukaan dan pembawaan diri apa adanya mendekatkan kita pada semua orang. Terima kasih Tuhan atas pengalaman ini. Bersama nona Sherly da Costa, kami berkunjung ke kota-kota yang mudah dijangkau: Basel, Luzern dan Zurich. Swiss membangkitkan nostalgia, pemandangan dan topologinya seperti Flores, tetapi infrastrukturnya sudah sangat kosmis. Gunung-gunung dibelah untuk jalan raya dan rel kereta api.

14438076359201443807638414Di kantor FIFA, Zurich.

Sekarang kembali ke realitas Sankt Agustin. Kantor, kapela, kamar makan dan kamar tidur. Saya ingin alam tetap hijau, meski musim gugur sudah bertahta. Selembar daun jatuh dan mengetuk kaca jendela. Sebentar lagi semuanya jatuh ke tanah. Tupai berebutan menggali tanah untuk menyembunyikan bebijian kacang, bekal untuk musim dingin. Mereka menggendong dedaunan kering untuk menutupi galian mereka. Sering kacang yang tersisa dan tidak sempat dimakan tupai, akan tumbuh dan menjadi kehidupan baru. Alam berputar sesuai dengan hukumnya. Dan poros rotasinya diputar Sang Khalik. Mari bersujud dan tawakkal, khususnya di bulan Rosario ini bagi kita yang katolik. Bunda Maria adalah pengantara yang paling istimewa menuju Sang Pencipta sendiri: per Meriam ad Jesum….

%d Bloggern gefällt das: