Kisah menjadi murid lagi – bagian 4

     Pintu masuk sekolah bahasa Jerman terbuka secara otomatis. Sepi. Terdengar hanya batuk suster pegawai di kantor sekretariat. Di kelasku sudah ada Jeena dan suster Judith. „Guten Morgen…“ sapaku. „Guten Morgen..“ jawab mereka. Lalu mulailah pembicaraan standariah tentang apakah tidur baik, apa kabar, tentang cucaca dlsb. Semuanya dalam bahasa baru kami. Jeena, dokter muda asal Afrika Selatan selalu tampil rapih dan trendy. Selalu tersenyum dan optimis. Dia menjadi ibarat Tulipan di antara kami para biarawan/wati sekelas. Suster Judith seperti biasa berusaha tersenyum, walaupun dia tidaklah terlalu betah di sini. Dahinya yang selalu mengkerut malahan menjadi hiburan bagi kami, karena tampaknya benar-benar lucu.

     Setelah melepaskan jaket dan mengeluarkan buku-buku, saya ke toilet. Aduhh baunya. Bukan karena tidak disiram, atau ada sisa-sisa kotoran di pinggir lubang kayu (seperti di kampung-kampung kita), tetapi karena mungkin ada yang baru saja „beraksi“ di sini. Saya mengerti, semuanya orang baru, proses adaptasi makanan berjalan lamban. Usus, lambung dan perut yang terbiasa dengan makanan lain berjuang menyesuaikan diri dengan menu Jerman. Itulah penyebab bau di toilet, padahal sudah diperciki dengan pengharum ruangan. Saya bergegas keluar dari toilet. Biarlah kutahan saja, tidak menjadi masalah kok.

     Setelah beberapa saat suasana sekolah menjadi riuh. Para kursant berdatangan. Tegur sapa dan tawa berderai memenuhi sekolah kecil yang hanya terdiri dari 5 ruangan tersebut. Di kelasku juga, satu persatu teman-teman masuk dan mengambil tempatnya masing-masing. Efrain di samping kiriku, suster Arathi di samping kananku. Harum coklat dari tasnya membius hidungku. Sebentar siap-siap tersenyum, supaya kebagian coklat saat istriahat panjang.

     Guru kelas kami, ibu Astrid tampak selalu lelah. Dia masuk dan berusaha juga untuk menyapa dan tersenyum. Mungkin beliau punya masalah pribadi yang membuat psikisnya capek, atau sedang sakit? Dia kurang cocok untuk kelas kami yang baru mulai belajar, yang cocok adalah Georg, si Mr. Bean itu. Astrid tidak mampu menjelaskan fenomen-fenomen tertentu dari struktur bahasa Jerman, karena teman-teman saya selalu bertanya: warum? (mengapa). Saya selalu berusaha menjelaskan dengan menggunakan bahasa Inggris kepada mereka. Banyak sistem pemikiran Jerman yang mirip dengan sistem Polandia.

     Lonceng tanda jedah bergaung. Saya mengeluarkan roti dan hem untuk sarapan pagi. Jeena dan Thibault memandang ke arahku, pertanda kami harus ke bar untuk membeli kopi. Iya, kopi penyegar otak. Teringat aku akan kopi pahit Manggarai yang dicampur jahe. Aku rindu kampungku. (bersambung)

—————————————————-

Kemarin paduan suara ekumenis kami tampil prima di Katedral Koeln saat misa perpisahan dengan uskup yang terpilih menjadi kardinal. Orang-orang kita (asal Indonesia) memang hebat. Semoga saja selalu kompak. Setelahnya kami santap malam di restoran China, sebagai ucapan terima kasih dan juga perpisahan dengan Rm. Bimo, misionaris MSF yang akan bertugas di Jerman.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: