Kisah menjadi murid lagi – bagian 5

Tempat kami biasanya membeli kopi sebenarnya adalah sebuah toko sayur-mayur, sehingga harga kopi segelas juga sangat murah. Beritahu saja „kopi dicampur susu“, maka harganya turun setengah dibandingkan dengan „kopi susu“. Aneh-aneh saja ini negeri. Dalam udara yang cukup dingin kami kembali ke kelas untuk melanjutkan kursus. Tampak semua sudah siap sedia, karena sebentar lagi mulai dengan latihan membaca. Inilah saat kesukaan kami, karena melihat mulut-mulut bukan Jerman dengan bibir-bibir tebal yang sering makan singkong, maniok, nasi dan kepala ikan menyebutkan huruf umlaut, betapa lucunya. Kalau giliran suster Epifania dari Tanzania untuk membaca, maka saya menutup mata. Karena dari samping mulutnya menonjol saat menyebut: Hast du gefruhstuckt? – dengan umlaut, maka saya sudah siap tersedak-sedak lantaran tertawa. Apalagi giliran Rm. Thibault yang selalu menyebut segala sesuatu dengan logat bahasa Perancis, semuanya sepertinya diperlebar dan menggaruk-garuk. „Nachmittag“ dan „Vormittag“ adalah kata-kata kesukaan beliau, cuman kedengarannya seperti bahasa Perancis. Dan pasti air liurnya muncrat.

Pak guru Klaus kesan saya adalah yang terbaik untuk level kami yang sekarang ini. Caranya mengajar sepertinya sangat membangun, cukup dahulu gaya-gaya lucu si pak Georg, karena kami bukan kelas kambing lagi. Klaus bicaranya sangat cepat, menantang kami untuk selalu konsentrasi penuh. Dia sengaja, supaya kami terbiasa dengan pendengaran. Kosakatanya juga sangat kaya. Si Georg terlalu berlebihan menyederhanakan segala sesuatu (memang cuma dengan cara demikian si Efrain bisa mengerti), tetapi Klaus sepertinya membiasakan kami untuk „mengerti“ bukan saja bahasa Jerman, melainkan „tentang“ bahasa tersebut. Fenomena-fenomena yang ada dia jelaskan, dan ini yang selalu membuat saya puas.

Saat jedah kedua kami habiskan dengan saling mengganggu. Sesaat kemudian pak Georg masuk dan Efrain pun senang. Dia siap tertawa terbahak-bahak, meskipun tidak banyak mengerti. Komedi intelektual si Georg membuat sejam berlalu begitu cepat. Kami pun bergegas meninggalkan institut bahasa, masing-masing menuju tempat tinggalnya. Saya menanti bus menuju stasiun utama Bonn. Udara tetap dingin, matahari malu-malu bersembunyi di balik tirai awan. Saya menatap ke arah jam di menara gereja. Pukul 13.30.

———————————————–

Tadi setelah santap siang, saya diajak para frater untuk bermain bola. Udara sangat hangat, hampir panas (20 derajad). Kami bersepuluh bermain selama lebih dari satu jam. Saya kagum dengan kondisi saya. Hmmm seumur ini, masih kuat lari dan tidak jauh bedanya dengan para kawula kami. Pasti ini semua lantaran kepala ikan dan cumi-cumi di rumah satu-satunya saudari kami dari Indonesia di Sankt Augustin ini: si Ketty Simanungkalit;-p.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: