Kisah menjadi murid lagi – bagian 6

Kereta siang tampak kosong. Saya memilih tempat duduk di tengah. Sebelum duduk, saya melemparkan pandangan ke sekeliling, tidak kelihatan si gadis berpayung. Seorang bocah usia 10-an tahun di hadapan saya sibuk memilah-milah isi potlotnya. Saya bertanya-tanya dalam hati: untuk apa pensil sebanyak itu? Teringat saya saat SD dahulu, satu pensil untuk 4 orang semeja. Tetapi karena saya selalu „juara satu“, maka pernah sekali ayah saya menghadiahkan ballpen empat warna. Betapa bangganya saya saat itu, guru-guru lain saja tidak punya. Sementara masa sekarang, anak-anak di kampung saya pun mempunyai potlot berisi pensil berwarna-warni.

Seseorang melambaikan tangan. Oh, si Gabriel, dokter gigi muda asal Rumania yang juga belajar di institut bahasa yang sama dengan saya dan juga tinggal di gedung biara saya. Dia mendekat dan duduk di samping saya. Kami berusaha menyapa dan berbincang seadanya dalam bahasa Jerman. Gabriel tidak bisa berbahasa Inggris. Si bocah kecil menghentikan kesibukannya dan memperhatikan kami, bingung dengan bahasa kami yang terpatah-patah.

Kereta sepertinya terburu-buru meninggalkan Bonn, melewati kampung-kampung besar yang sebenarnya adalah kota-kota kecil. Di setiap halte ada tempat khusus untuk memparkir sepeda. Orang berangkat dari rumahnya dengan sepeda ke stasiun, sepeda diparkir, orangnya pindah ke kereta menuju tempat kerja atau kuliah. Betapa praktis dan efisiennya kinerja berpikir orang Barat ini. Selain sehat, cara ini juga murah meriah. Sepeda-sepeda diikat pada tiang besi, sehingga tuannya tidak perlu takut kecurian.

Kami turun di kota kecil Sankt Augustin lalu bergegas menuju bilik makan. Makan siang terasa nikmat saat capai dan lapar. Kami melahapnya dalam diam. Gabriel menyantapnya dengan roti, saya puas dengan kentang saja.

Pukul 14.00. Suasana rumah besar itu hening. Para penghuninya mungkin sedang kerja, atau mungkin juga sedang beristirahat siang. Atau juga sedang sekedar hening. Mengunyah keseharian. Menata kegalauan. Menimba makna. Menguak tirai diri. Saya pun sebentar lagi ke bilik. Melewati taman yang kering di penghujung musim dingin. Tampak kelopak-kelopak kecil bebungaan muncul, pertanda musim semi yang semakin dekat. Kicauan burung juga mengajak jiwa untuk bersiap-siap menari.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: