Kisah menjadi murid lagi – bagian 9

Di luar jendela tetap saja suram, meskipun tidak seperti kemarin pagi yang penuh salju. Musim semi mungkin saja tidak akan ada tahun ini, dari musim salju langsung saja ke musim panas. Anomalia cuaca berpengaruh besar terhadap situasi dunia dan alam. Lantaran dingin, energi uap dan pemanasan diproduksi dalam skala yang lebih besar. Emisi uap membuat atmosfer udara menjadi semakin padat. Lapisan ozon pun semakin dirobek-robek. Harga gas dlsb menanjak drastis. Orang-orang pada sakit: radang tenggorokan, pilek, flu dlsb. Ramalan bahwa cuaca bumi semakin memanas sepertinya mau dipatahkan sendiri oleh sang alam, oleh Sang Pencipta sendiri.

Kemarin aku baru selesai ujian „naik kelas“ lagi. Bahannya sudah tidak semudah saat ujian pertama. Kami diuji membuat struktur kalimat dalam berbagai variasinya, kemampuan mendengar dan membaca, lalu membuat karangan bebas. Setelah dua bulan, sepertinya ujian mengarang bebas adalah kesenangan saya. Setelah Paskah aku pindah ke Sankt Augustin. Kota Bonn dan teman-teman kursus terpaksa aku tinggalkan.

Minggu Suci. Manusia menyucikan diri. Membasuh dosa. Membuat refleksi diri. Agar jiwa menjadi suci. Tetapi yang terpenting adalah membuka diri di hadapan Tuhan yang rela wafat demi manusia. Bangkit mengalahkan kegelapan dosa. Dialah yang menyucikan semua anak-Nya. Kasih-Nyalah yang membasuh seluruh kenistaan bumi.

Di paroki, tempat seorang saudara kita dari Indonesia bekerja, aku alami sesuatu yang indah. Upacara Jum’at Agung sangat hikmat. Saat penciuman Salib, menurut inisiatif umat, mereka bukannya mencium, melainkan menancapkan mawar ke Salib Tuhan. Setelah semuanya selesai, Salib pun dililiti ratusan mawar merah. Saya kagum. Dalam hati, saya berpikir, bahwa kembang Lili atau Tulipan kuning adalah yang agak cocok. Seorang kekasih yang pernah bersalah dan hendak meminta maaf selalu membeli kembang kuning tersebut. Tetapi aku sadar, di sini bukan hanya soal permintan maaf kepada Tuhan. Mawar merah adalah lambang cinta sejati, tanpa basa-basi, tanpa tetek-bengek dan tanpa kalkulasi. Karena Dia yang kita khianati sudah jauh sebelumnya memaafkan kita.

Teringat aku kenangan di Poland. Hari ini adalah hari pemberkatan bahan-bahan makanan. Dalam keranjang kecil orang-orang berangkat ke gereja semenjak pagi buta, supaya isinya diperciki dengan air suci. Biasanya keranjang diisikan dengan telur rebus yang telah diwarna-warnikan, sepotong sosis, kue-kue, roti berbentuk kelinci. Anak-anak berebutan ingin supaya keranjangnya diperciki dengan air suci yang banyak. Indah sekali.

c59bwiecon

SELAMAT PESTA PASKAH SEMUANYA. SEMOGA KEBANGKITAN-NYA MENJADIKAN KITA TEGAR DAN BERANI MENJADI SUARA-NYA DI TENGAH DUNIA.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: