Kisah menjadi murid lagi – bagian 7: Melirik ke Vatikan

Murid di sekolahnya berharap-harap cemas, semoga konklav berjalan lancar dan Paus baru segera terpilih. Asap pertama membubung, warnanya hitam. Berarti belum ada pemimpin Gereja terpilih. Di koran-koran dan televisi muncul lagi skenario-skenario baru. Bahwa ada perseteruan di Vatikan antara yang konservatif dan liberal. Bahwa ada yang terpilih, tetapi menolak untuk mengemban tugas berat tersebut.

Petang hari, sepi. Seekor merpati di cerobong asap menjadi aktor tunggal dan pusat perhatian dunia. Roh Kudus telah turun? Sejam kemudian asap putih pun mengepul. Pelataran Basilika St. Petrus membahana, meskipun dingin dan hujan rintik-rintik. Kardinal Tauran mengumumkan dengan wajah biasa-biasa saja: Habemus Papam! Terpilihlah:  Jorge Mario Kardinal Bergoglio. Memilih nama Fransiskus. Dunia hening. Konsternasi. Mulut-mulut pada menganga. Bertanya-tanya: Siapa? Kardinal siapa? Hanya Argentina yang bersorak-sorak, karena mereka mengenal sosok tersebut. Lagi-lagi dugaan mediamasa salah. Ingerensi terhadap karya Roh Kudus akan selalu berakibat negatif.

Paus baru muncul di balkon untuk memberikan berkat pertama Urbi et Orbi. Wajahnya agak malu-malu. Hanya berjubah putih. Di mana pelerina merah? Ternyata beliau menolak mengenakannya. Pelerina adalah simbol „keilahian“ (dalam konteks laikis: kemagisan) seseorang. Dia yang terurapi. Bapa Suci bergurau: Kalian saja yang memakainya, karena bagi saya karnaval sudah berakhir. Luar biasa. Di balkon beliau menyalami massa seadanya. Tanpa basa-basi. Beliau mengajak berdoa Bapa Kami dan Salam Maria. Beliau menundukkan kepala memohon berkat dan restu umat Katolik dan juga restu seluruh dunia. Wallahuallam!!!

paus

Bapa Suci memohon restu dan berkat dunia (sumber: http://fakty.interia.pl/raport-nowy-papiez/aktualnosci/news-papiez-franciszek-nie-ma-osobistego-sekretarza,nId,943328)

Setelah terpilih menjadi Pemimpin Gereja dunia, Paus Fransiskus dengan bis bersama-sama dengan para kardinal bergegas menuju ke kamar hotelnya. Dia mengambil sendiri barang-barangnya dan membayar hotel tersebut. Beliau tidak memiliki sekretaris pribadi, walaupun nanti pasti akan perlu juga. Selama menjadi uskup dan kardinal, beliau selalu memasak sendiri. Selalu menggunakan transportasi umum. Tak punya mobil. Tetapi beliau adalah kardinal katolik pertama yang menggunakan internet dan aktif di Twitter.

Vatikan dan Gereja membutuhkan revolusi? Tidak. Yang dibutuhkan adalah pembenahan. Gereja harus kembali menjadi „hamba“ dan „sahabat“ mereka yang terkucil. Paus Fransiskus, sebagai seorang biarawan Jesuit, sudah terbiasa hidup dalam rigor kehidupan membiara. Akankah ada angin baru di belakang gerbang Vatikan? Pasti saja. Dan seluruh dunia menanti hembusan angin baru tersebut. Dunia membutuhkan Gereja yang transparan. Karena setiap kita adalah Gereja. Gereja milik setiap orang.

Murid sekolah bertelut menerima berkat Santo Bapa Fransiskus. Di luar salju turun lebat. Ibarat restu ilahi. Burung-burung musim semi bercicitan menari-nari di sela-sela hujan putih. Tersentak oleh kembalinya salju di musim semi ini. Ibarat dunia menyambut seorang Paus baru. Tetapi jiwa-jiwa bersorak. Alam bersorak. Hati penuh damai.

(Dari berbagai sumber).

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: