KMML – bagian 33: SALAM DAMAI PASKAH, SALAM KESEDERHANAAN

Musim semi sudah tiba, meskipun sang ratu dingin enggan minggat. Cahaya mentari yang disemaraki kicauan burung yang terlalu dini kembali dari Galapagos seakan belum sepenuhnya meyakinkan jagat akan pergeseran siklus tahunan ini. Teringat hijaunya lereng-lereng bukit di kampung, mekarnya kembang delima dan cocor bebek di depan rumah ayah dan ibu. Apalagi saat Paskah ini, wangi gorengan kue dan bumbu di dapur membangkitkan hati untuk bersorak: Sang Penyelamat sungguh bangkit….

christliche-ostern-1

Mit Lumia Selfie aufgenommen

„Apa pesan Paskah untukmu tahun ini?“ tanyaku. „Kesederhanaan,“ jawab sang Putri sambil duduk di sofa. Aku tahu, anak rantau ingat kampung, ingat sanak saudara, ingat meriahnya persiapan Paskah di kampung, latihan koor setiap malam walaupun hujan lebat dan jalanan berlumpur, ingat persiapan di gereja, dekorasi, ingat akan pakaian Paskah baru, yang dikenakan di hari Paskah. Di sini, di perantauan, semuanya asing dan tak semarak. Hanya di tempat pembelanjaan yang hiruk pikuk, itu pun karena bebearapa hari ini semua toko ditutup. „Sederhana saja“, tutur sang Putri. Bibirnya kuyu menahan dingin, tapi jiwanya merekah. Pertanda Tuhan bangkit!!!

Sang Raja yang bangkit juga menampilkan ke-Tuhan-an-Nya dalam kesederhanaan. Siege, aber triumphiere nicht – Menanglah, tapi jangan mengagungkan kemenanganmu, demikian kata sastrawati dan psikolog Austria Marie von Ebner-Eschenbach. Sang Allah sejak lahirnya bukan hanya sederhana, namun hina, hidup-Nya juga sederhana dan wafat-Nya pun dalam kenistaan. Kebangkitan-Nya juga sederhana saja, tanpa harus dikawal para algojo seperti layaknya seorang Raja dalam artian duniawi. Dia menang atas maut, namun tidak menyombongkan diri dengan kemenangan-Nya tersebut. Padahal Dia menang telak!!!

Mit Lumia Selfie aufgenommen

IMG-20160121-WA0029SALAM PASKAH DARI ANAK-ANAK RANTAU…..!!!!!

Suasana Paskah Eropa dicekam kisah tragis dalam aksi teror Belgia. Seandainya semua orang mau hidup sederhana dan mau berbagi, takkan ada jenjang sosial dan kultural yang semakin mendalam dan mengantarkan kepada perselisihan dan pertikaian. Kata P. Anselm Grün, kesederhanaan adalah penyembuh jiwa. Doa kita para beriman, agar dunia semakin merendahkan diri dan belajar serta mengajarkan kesederhanaan, bukan mempolarisasikan penghuninya atas dasar kategori menang dan kalah, yang baik dan lebih baik, agama yang lebih benar dan yang salah. Tuhan menang, Dia adalah Tuhan semua orang. Dia bangkit untuk semua orang yang berniat baik.

Di gereja biara kami ribuan jemaat Polandia sedang mengikuti pemberkatan bahan makanan, roti, telur dan sosi yang ditaruh dalam keranjang kecil yang dihias indah. Senyum anak-anak yang polos dan sederhana menantikan percikan air berkat. Seperti senyuman jiwa-jiwa yang percaya, bahwa Sang Almasih bangkit dan menang.

%d Bloggern gefällt das: