Kisah menjadi murid lagi – bagian 25 – Surat cinta buat Nusantara

Nusantaraku,

Aku sebulan di negeri seberang. Di bebukitan penuh kembang aku bergulat, membingkaikan alam sadar kawula muda dengan selimut bertenunkan kecantikanmu. Ja, mereka berdendang, mereka bercengkerama, mereka menggali, mereka menimba, mereka juga menari. Betapa indah ternyata dikau, betapa elok dan menawannya parasmu, lekukan dan garis tubuhmu teramat menggoda, sedalam keberagaman dan kaya-rayanya nilai adamu. Aku bangga dan cintaku semakin mendalam. Teringat akan kenangan kita, akan senyum dan kemesraanmu, hingga aku merasa ibarat seorang pangeran yang dielus-elus sang permaisuri. Sumpah cintaku padamu yang telah terpatri dalam semakin kueratkan dan kumeteraikan dengan janji baru, dikau tidak akan pernah  kukhianati.

 

Nusantaraku,

Ratusan pasang bola mata menatapmu, saat kubuka gaunmu perlahan-lahan, satu demi satu. Kudasari keindahanmu sebagai anugerah Sang Khalik, namun kubeberkan juga para kekasih gelapmu, pencinta ilmiah kemegahanmu. Melihat sorotan tatapan mereka, aku cemburu, tetapi jantungku berdetak keras dalam irama kebanggaan, bahwa kau menjadi pujaan. Aku ingin memilikimu, namun aku tidak tega, biarlah mereka juga boleh menikmati citra seni yang terpantul dari lenggang-lenggok tubuhmu yang anggun. Delapanpuluhtujuh penggemar barumu di ruangan kuliah, sebulan menyaksikan pesona wajah dan adamu yang tak ada bandingnya.

 

Nusantaraku,

Aku telah kembali ke gubuk reotku. Namun kau tetap di sampingku, bukan, di hatiku. Tiap kali aku bertanya dalam doa, apa kabarmu, adakah dikau baik-baik saja adanya. Guru barumu sudah mulai bermantra, oh betapa tenangnya hasratku, lantaran kuyakin, masa depanmu semakin pasti. Sang guru memilih laksamana dan dayang-dayang yang mampu berbicara dalam bahasa para cilik, ya bahasa kita. Dikau tidak suka bertutur melangit, kau sahaja, namun ocehanmu penuh arti. Aku bersujud tawakhal di depan Sang Gusti, agar para musuh dan pengkhianatmu tidak diberi jalan menuju tahta dan mahkotamu. Aku akan berjuang dan meneteskan darah menentang mereka. Kau terlampau agung untuk dijamah oleh tangan jahanam mereka. Kau kembang mawar abadi, yang takkan pernah layu. Dan tak selangkah pun takkan kubiarkan para penyamun menyambar kelopakmu. Kau milikku, milik kami orang-orang tak beruang, namun penuh cinta.

 

Nusantaraku,

Hadirlah di pondok hina ini. Dedaunan berguguran pertanda musim berganti dan aku semakin membutuhkan kasihmu, aku rindu sentuhanmu. Meski kau ada di dada, ku ingin membelai telapak tangan dan mengecup pipimu. Andaikan kau datang, akan kutarikan tarian sakti dari seluruh sudut negri. Akan kunyanyikan lagu kesayanganmu, tentang kisah kita tempo hari dan hari kemarin. Akan kumainkan kecapi seindah tubuhmu. Sebuah melodi abadi yang menyembuhkan semua luka lama anak-anakmu, dan penyambung hasrat menuju masa depan para pencintamu.

 

(Goresan setelah memberikan mata kuliah Antropologi Budaya Nusantara di Jagiellonian University of Cracow – Poland selama bulan Oktober)

uj1

 

4

1 Kommentar (+add yours?)

  1. KEPRIBADIAN BERTUTUR DALAM BAHASA MANGGARAI | ENGELELVENT
    Jul 03, 2015 @ 06:03:20

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: